Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Mengakrabi Mati melalui Hidup

Oleh: Devi Indriani         Diposkan: 20 Aug 2019 Dibaca: 1663 kali


Sering disebut namun tidak begitu terkenal, Albert Camus. Membaca pertama kali karyanya, mungkin tidak butuh satu kali. Gambaran luar biasa dalam buku Sebuah Kota Tanpa Masa Lalu tentang tanah kelahirannya, Aljazair. Buku pertama yang dibaca dan mengenal Camus serta keakraban dengan kematian dalam setiap esai pada buku terbitan Circa ini.

Diakui atau tidak, pada esai Panduan Singkat ke Kota-Kota Tanpa Masa Lalu, Camus menggambarkan dirinya sebagai sebuah ras haram jadah. Terbuat dari percampuran yang tidak diharapkan, Perancis dan Aljazair.

Berbeda dengan LÉtranger yang berhasil membawa sebagian pembaca mengutuk Meursault karena sikapnya yang bertentangan dengan harapan sosial kebanyakan, Kota Kota Tanpa Masa Lalu membawa pembaca menyeringai ngeri membayangkan panasnya Algeirs dan kelas buruhnya, juga disaat bersamaan makin siap menghadapi kematian dalam artian sebenarnya atau tidak.

baca juga: Makna Hidup Menurut Logoterapi

Jangan heran ketika tidak paham tentang pemikiran Camus mengenai Absurdisme, karena memang inilah Camus, penuh diksi metafora dan hiperbola khas absurdis. Namun petuah dalam dua belas esainya tetap mengantarkan kita pada berkawanlah dengan kematian dan berdamailah dalam setiap kebebasan.

Camus mengajarkan bagaimana kemelaratan mengajarinya untuk tidak membenci, melainkan mengajari kesetiaan tertentu dan kegigihan dalam diam. Ini bermula dari renjana-rencana saastranya yang tak pernah diarahkan untuk menentang orang lain, kendatipun orang-orang yang ia kasihi selalu lebih baik dan lebih hebat ketimbang dirinya.

Tidak seperti hell is other people-nya Sartre atau homo homini lupus-nya Driyarkara, Camus mengamini bahwa egoisme tidak bisa disangkal, maka marilah coba dijernihkan. Maka dari itu setiap kita setidaknya harus mencoba untuk adil, meskipun narasi yang sarat ambisi semacam ini melibatkan penderitaan dan ketidakbahagiaan.

Tentang usia, Camus mematrikan peningkatan kebutuhan akan doa-doa yang selaras dengan penambahan usia. Mengapa? Karena dalam keadaan terlemah manusia, Tuhan menjadi lebih sering dipanggil dan dihadirkan.

Relevan dengan pandangannya bahwa egoisme tidak dapat disangkal, kita hanya coba menjernihkannya. Semakin tua, ke-aku-an semakin tergambar dalam esai Ironi-nya. Sayang, ke-aku-an demikian adalah sebuah kekakuan yang membosankan bagi usia muda.

baca juga: Membincang Patah Hati

Berawal dari egoisme yang tidak berhasil dijernihkan, sebuah kematian tidak menebus apapun. Bahkan mati sekalipun menggambarkan sebuah ke-aku-an, yang memang diperuntukkan bagi kita semua namun kedatangannya perseorangan.

Absuditas Camus terasa kental, bahkan ketika dibawa tidur ia seperti iler yang mengairi alas bantal. Mendefinisikan kebahagian ditengah pernyataan “betapa susahnya menjalani hidup,” yang dominan atau dikepung dengan gema suara “blunder terburuk adalah tetap membuat orang menderita.”

Kala segalanya berakhir, maka dahaga akan hidup pun lenyap. Inikah kebahagiaan? Selagi kita menyusuri kenangan-kenangan demikian, kita menutupi segalanya dengan selubung hening yang sama, dan maut terlihat seperti sebuah latar belakang yang warna-warnanya telah memudar. Lalu merasakan nestapa dan mengingini diri kita yang lebih baik. Sebuah kemahfuman akan kebahagiaan dengan cara mengasihani diri sendiri.

Tidak seperti Sartre yang hingga wafat tidak pernah meninggalkan gagasan bahwa kekerasan revolusioner mungkin diperlukan, Camus menggambarkan kedamaian dalam susunan kata sederhana:

Jangan biarkan mereka mengatai orang yang dihukum mati: “Ia akan membayar utangnya kepada masyarakat,” tapi: “Mereka akan memenggal kepalanya.”

Terlepas benar atau salah, namun ketertarikan Camus akan anarkisme tergambar pada satu kalimat ini, meskipun belum membaca karyanya yang lain semisal, Les Justes.

“Negara-negara yang membuatku tak merasa bosan adalah negara yang tak mengajariku apapun”

Praha membekas dalam ingatan Camus. Vicenza pun demikian. Ia tidak berharap bisa memilih satu diantara keduanya. Camus menyenangi keduanya. Absurditas Camus secara nyata merupakan bentuk eksistensialisme-nya. Bagi Camus, manusia yang absurd adalah manusia yang mengerti arti absurditas, tidak lari dari absurditas tetapi menjaganya dalam kesadaran. Ia berdiri menantang, berjuang tanpa harapan. Kenyataan adalah saat ini dan disini. Sebuah tafsir paling masuk akal tentang eksistensialisme menuju kesepahaman akan kematian ataupun dalam menjalani kehidupan.

baca juga: Tak Ada Senja di Panggung Orkes dan Puisi Lainnya

Seperti ketika ia menghadapi rasa mual karena jintan hitam di Praha, namun tidak berpindah restoran hanya karena ia merasa dikenali disana. Orang-orang tersenyum meski tidak mengajak berbicara. Disisi lain ia mengajak kita mengakrabi kekalahan dengan mengunjungi perkuburan kecil bergerbang besi hitam di pinggiran kota Algeirs. Dari sana ada lembah dan laut dari kejauhan. Kita bisa menghabiskan waktu bermimpi sebelum mengembuskan mimpi-mimpi itu ke laut. Dan ketika akan melacak kembali jejak langkah, kita akan menemukan papan bertuliskan “Penyesalan Abadi” di nisan satu makam terlantar.

Lelucon mengenai kematian memang akrab ditanah yang tandus itu- setidaknya hingga esai Camus selesai. Tentang kematian, horor dan kesepian adalah kata yang tepat untuk mengungkap kepastian secara sadar sebuah kematian tanpa harapan.

Kita semua hidup dengan sedikit gagasan yang akrab. Dua atau tiga, dan kita memoles serta mengubahnya seturut kehendak masyarakat dan orang-orang yang kita jumpai. Butuh satu dekade bagi kita untuk punya ide sendiri dan diperbincangkan orang-orang, bahkan paragraf ini menyadur Camus dalam esainya Angin di Djemila.

Bersemuka dengan takdir adalah hal yang utama. Sebab kematian juga merupakan jangkauan dari sebuah takdir. Secepatnya kita harus sadar bahwa segenap ketakutan akan maut terletak pada kecemasan terhadap hidup. Orang akan tetap mati apapun atau siapapun yang ada disekelilingnya. Maka menciptakan kematian-kematian yang berkesadaran bertujuan untuk mengurangi jarak yang memisahkan kita dari dunia dan untuk menerima penyempurnaan meskipun banyak kenyataan tidak membahagiakan.

  •  

Judul: Kota-kota Tanpa Masa Lalu

Penulis: Albert Camus

Penerbit: Circa

Tebal: 133 halaman

  •  

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: