Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Mengapa “Apakah Masyarakat Kita Sudah Siap dengan Sastra seperti Ini?” Bukan Pertanyaan yang Tepat?

Oleh: Ageng Indra         Diposkan: 04 Dec 2018 Dibaca: 765 kali


“Penulis, seperti Anda ketahui, adalah tukang recok abadi.” (p.10)

Sejak kuliah, Mario Vargas Llosa sudah terbiasa bekerja di perpustakaan. Praktik itu terus coba ia lanjutkan pada masa-masa berikutnya, di mana pun ia berada. “Sampai-sampai, kenangan saya akan negara dan kota-kota sebagiannya ditentukan oleh gambaran dan anekdot-anekdot yang saya dapatkan tentang perpustakaannya,” tulisanya dalam esai “Epitaf untuk sebuah Perpustakaan” (p.59).

Membayangkan betapa banyaknya Llosa membaca buku, sangat menarik bagi saya bahwa satu kesimpulan yang ia miliki sedari muda masih ia pertahankan di masa tuanya. Tengoklah esai-esainya yang telah dikumpulkan dan diterjemahkan oleh Ronny Agustinus dalam Matinya Seorang Penulis Besar. Sedari esai “Sastra itu Api” pada 1967 hingga “Peradaban Totonan” tahun 2012, Llosa terus mengulang-ulang bahwa inti dari sastra tidak lain adalah pemberontakan: penyataan ketidakpuasan pada kenyataan.

Keyakinan Llosa pada premis tersebut tidak tergerus waktu, sekalipun telah melalui sekira 50 tahun, jauh lebih awet ketimbang Marxisme. Kekagumannya pada Marx bisa kita cerap dalam catatan kunjungannya ke Dean Street tahun 1966 di, “Mengunjungi Karl Marx”. Biarpun, di esai yang lebih anyar, ia menyatakan telah beralih menjadi demokrat dan liberal karena kecewa pada Revolusi Kuba.

baca juga: Upaya Membaca Kiat Sukses Agar Tidak Hancur Lebur: Catatan Panjang Pembacaan

Prinsip bahwa watak sastra adalah menghasut juga saya temui dalam kumpulan surat-suratnya, Cartas a Un Joven Novelista (Surat Kepada Novelis Muda). Alih-alih membosankan, pengulangan topik itu, sejauh saya ikuti, malah kian memperluas perspektik. Dari satu premis yang sama, Llosa terus memproduksi argumentasi baru yang bisa menjelaskan berbagai persoalan. Berangkat dari sastra, meluas ke masyarakat secara umum.

Related image

Posisi Sastra dalam Masyarakat

Penulis, menurut Llosa, tidak menulis novel untuk mengisahkan ulang kehidupan, tetapi lebih untuk membentuk ulang realitas dengan cara mengubah atau menambahinya—entah itu menghiasi atau memperburuknya, tergantung apa yang membuat penulis tidak puas. Artinya, fiksi memang mengandung kebohongan. Namun, karena kebohongan itulah fiksi jadi mampu menyatakan kebenaran yang tidak bisa diungkapkan secara langsung. Yakni, hasrat-hasrat terpendam manusia.

Karena itulah Llosa meyakini tak seorang pun yang merasa puas bisa menulis novel (p.12). Bila seseorang puas dengan kenyataan yang ia hadapi, ia tidak akan cukup punya ambisi untuk menciptakan realitas baru yang kokoh. Seorang penulis mesti peka pada kekurangan dan penderitaan di sekitarnya untuk bisa menciptakan dunia baru yang bisa dimasuki pembaca.

baca juga: Naela dan Kupu-Kupu

Dengan menghadirkan dunia baru yang hal-hal di dalamnya tak dimiliki kenyataan, sastra menanamkan ketidakpuasan pada diri pembaca. Memang itulah misi sastra: untuk mengganggu dan menggelisahkan. Sebab, bila manusia merasakan ketidakpuasan pada diri sendiri atau kenyataan di hadapannya, ia akan berhasrat untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Beginilah cara sastra bersumbangsih dalam membangun kemanusiaan: mencegah stagnansi spiritual, rasa puas diri, kejumudan, serta kelumpuhan dan kemerosotan intelektual atau moral (p.13).

Maka dari itu, sebenarnya makin kritis tulisan penulis menentang negara dan masyarakatnya, makin intens gairah yang mengikat dirinya pada negara dan masyarakat tersebut (p.13). Sebab, dalam ranah sastra, kekerasan adalah bukti cinta, sementara kompromi berarti pengkhianatan (p.14). Konfrontasi, protes, dan kritik adalah raison d'etre seorang penulis.

Terdengar konyol, kemudian, jika seseorang mempertanyakan, dalam suatu diskusi sastra misalnya, “Apakah masyarakat kita sudah siap menerima karya seperti ini?” Pasalnya, sudah tanggung jawab sastra untuk menuntut kesiapan masyarakat terhadap kemungkinan yang tidak mereka perhitungkan sebelumnya. Penolakan tentu sangat mungkin terjadi. Namun, bila agar sastra bisa berkembang sebuah masyarakat pertama-tama perlu untuk mencapai kebudayaan tinggi, kebebasan, kemakmuran, dan keadilan terlebih dulu, sastra tak bakal pernah ada. (p.75)

baca juga: Kisah Persahabatan di antara Kuasa Negara dan Agama

Lantas, apakah masalah besar jika masyarakat tak membutuhkan sastra? Bukankah tidak adanya pembangkangan berarti kemakmuran bagi semua orang?

Sastra dalam Masyarakat Tertutup

Sekalipun merupakan representasi palsu, sastra toh membantu kita memahami kehidupan. Novel selalu punya awal dan akhir, dan bahkan dalam novel yang tak berbentuk sekalipun, hidup mengambil makna yang bisa kita cerap (p.24). Penyerderhanaan realita dalam novel mempermudah kita menghayati hidup dengan cara yang tak sanggup kita lakukan pada dunia nyata yang kompleks. Oleh sebab itulah, kekayaan karya fiksi juga berkaitan erat dengan seberapa besar usaha yang dibutuhkan pembaca untuk menggapai kompleksitasnya.

Sadar atau tidak, saat membaca, seseorang mencari-cari apa yang kurang dalam hidup. Dengan sering membaca, seseorang akan terbiasa membaca kenyataan sebagaimana ia membaca sastra. Rasa penasarannya akan mendorongnya untuk membongkar konteks yang membentuk kenyataan tersebut. Tidak heran jika Llosa juga menganggap membaca, seperti halnya menulis, sebagai bentuk protes. Membaca sastra adalah tindakan mendakwa suatu rezim dan masyarakat. Bahwa penguasa maupun sistem masyarakat tidak mampu memuaskan hidup kita.

baca juga: Buku Bekas dan Senjakala Kertas

Masyarakat yang tak mengakui keberadaan sastra akan menjadi masyarakat tertutup. Penguasa tidak hanya merasa berhak mengontrol tindakan masyarakat, tetapi juga menguasai fantasi, impian, dan ingatan masyarakatnya. Cepat atau lambat, masa lalu akan dimanipulasi untuk membenarkan masa kini.

Dalam masyarakat tertutup, sejarah menjadi fiksi: direka ulang seturut kepentingan agama atau politik yang berkuasa. Sementara, fiksi diproduksi untuk membiakkan kebenaran hasil rakitan kekuasaan yang ada (p.36).

Padahal, sastra dan sejarah adalah sistem yang saling bertentangan dalam mendekati realitas (p.24). Sejarah mendokumentasikan peristiwa, sementara sastra mendokumentasikan hasrat-hasrat terpendam masyarakat. Sejarah menjaga ingatan kolektif, sementara sastra memelihara hasrat individu. Dalam masyarakat tertutup, tak satu pun dari kedunya menjalankan fungsi dengan sempurna.

baca  juga: Mark Manson: Bacaan Hipster dan Orang-orang Minder

Meski begitu kemajuan sains dan teknologi toh tidak terhalang dalam masyarakat tertutup. Negara-negara totaliter modern, menurut Llosa, telah terbukti memberikan impetus besar bagi pendidikan, kesehatan. olahraga, dan lapangan kerja dengan membuatnya terjangkau semua orang—sesuatu yang belum pernah dicapai oleh masyarakat-masyarakat terbuka (p.35). Namun, tepenuhinya kebutuhan dasar itu, harus dibayar dengan lahirnya persoalan eksistensi di masyarakat yang sulit terpenuhi karena kekacauan distribusi pengetahuan.

Sastra dalam Masyarakat Terbuka

Sejarah dan karya fiksi bisa bersanding secara otonom tanpa melabrak atau merampas wilayah dan fungsi masing-masing dalam masyarakat terbuka. Tentu, masayarakat terbuka memiliki masalahnya sendiri. Kebebasan yang mereka nikmati, misalnya, acap dibayar dengan ketimpangan lebar dalam kekayaan dan, lebih parah lagi, dalam peluang anggota-anggota masyarakatnya (p.35). Ketimpangan kekayaan dan peluang itu pun tak luput dari penulis sastra.

Menjadi penulis di negara yang masyarakatnya tak gemar membaca memang seperti berperang melawan musuh yang bersenjatakan senapan dengan bambu runcing. Tanpa pernerbit, tanpa pembaca, tanpa lingkungan budaya yang merangsang dan menuntut, seorang penulis harus siap tidak diperhatikan. Penulis di negara-negara seperti itu harus jungkir balik memisahkan kerjanya dari mata pencaharian sehari-hari, membelah dirinya dalam ribuan kerja yang menyita waktu yang dibutuhkan untuk menulis dan seringkali bertentangan dengan keyakinan dan hati nuraninya (p.11).

baca juga: Puisi-puisi Menolak Judul: Puisi-puisi Sengat Ibrahim

Roberto Bolano adalah contoh sempurna atas gambaran di atas. Ia melakukan berbagai pekerjaan di luar menulis hingga sempat dipenjara karena mendistribusikan buku bajakan sebelum karyanya dikanonkan di penghujung hidupnya.

Dalam karya-karyanya, Bolano kerap mengutuki Gabriel Garcia Marquez dan juga Llosa. Namun, pada sebuah wawancara dengan Capital, ia mengakui kehebatan karya kedua maestro itu. Yang paling ia permasalahkan adalah besarnya nama mereka: kedunya bukan hanya sastrawan, namun juga publik figur—Llosa sempat menjadi calon presiden. Nama besar mereka sebagai publik figur turut mempengaruhi citranya dalam dunia sastra dan menciptakan ketimpangan peluang yang besar bagi para penulis generasi berikutnya.

Ronny Agustinus pun, ketika di Guadalajara Book Fair 2018, sempat mengunggah di Facebook foto stan yang dipenuhi buku-buku Borges, Marquez, dan Llosa. Captionnya, “Kau kira frase ‘nama-nama itu saja’ cuma terdengar di obrolan kesusastraan Indonesia, hei Eka Kurniawan?”

baca  juga: Orang Gila yang Telah Menulis Ini

Sastra Ringan dan Ancaman Matinya Penulis Besar

Problem di atas tidak lepas dari demokrasi pasar yang memang sepaket dengan demokrasi. Ketika bisnis buku terlalu menghamba pada keinginan pasar, sastra serius hanya mendapat sedikit tempat, sementara sastra ringan memperoleh ruang sebesar-besarnya.

Sastra ringan memang lebih diterima masyarakat karena ia memberi kesan menentramkan. Sastra ringan membuat mereka merasa berbudaya, revolusioner, modern, garda depan, dengan upaya intelektual yang minimum. (p.11) Sastra ringan menjadi budaya yang meyakini dirinya maju dan menghadirkan gebrakan, tetapi sesungguhnya menyebarkan konformisme melalui manifestasi terburuknya: rasa gembira dan puas diri. (p.111)

Harga dari puas diri tersebut adalah hilangnya kritisisme. Ruang kosong yang ditinggalkan kritisisme itu, kemudian, diisi oleh iklan. Periklanan, kita lihat pada zaman ini, bukan sebatas komponen pembentuk kehidupan budaya, melainkan juga faktor penentunya (p.112). Iklan menggantikan sistem filsafat, keyakinan, religius, ideologi, dan doktrin, dalam memberi pengaruh besar pada selera, kepekaan, imajinasi, dan kebiasaan-kebisaan. (p.112)

baca juga: Dua Skenario Masa Depan dan Sains yang Tidak Sendirian

Dalam iklan, kebaruan adalah jualan utama. Dengan pola produksi dan distribusi yang mengutamakan kebaruan, buku hanya menikmati eksistensinya sesaat. Karena itu, buku-buku dirancang seramah mungkin pada pembaca untuk menjadi bestseller. Padahal, sastra besteller, menurut Llosa, layak disebut sampah: bukan hanya karena kedangkalan cerita dan kemiskinan bentuknya, tetapi juga karena wataknya yang sepintas lewat, langsung dikonsumsi dan habis, seperti sabun atau soda (p.123). Sastra serius turut kena imbas. Karena pada akhirnya, nilai suatu karya ditentukan oleh kampanye iklannya dan bakat teatrikal penulisnya (p.53).

Membaca sastra ringan, saya rasa, bukan masalah besar di sini. Sebab, seorang pembaca tentunya mengalami perkembangan bacaan. Yang bermasalah ialah jika sastra ringan diproduksi terlalu banyak dan dibuat sedemikian rupa untuk mempertahankan target pembacanya agar terus merasa nyaman di ceruk tersebut, tanpa memberinya dorongan untuk berkembang menapaki bacaan yang lebih serius. Karena bila hal itu terus jadi, penulis besar zaman ini barangkali benar-benar akan mati bahkan sebelum terlahir. Masyarakat pun akan kesulitan menemukan sastra yang bisa mengejawantahkan kompleksitas zamannya secara akurat.

Karena itulah, saya rasa, kurang tepat untuk mengkhawatirkan apakah masyarakat sudah siap menerima sebuah karya sastra. Karena yang pelu kita khawatirkan adalah jangan-jangan masyarakat kita hanya belum siap memberangus sastra yang merecoki kita.

  •  

Judul: Matinya Seorang Penulis Besar

Penulis: Mario Vargas Llosa

Penerjemah: Ronny Agustinus

Penerbit: Immortal Publishing & Octopus

Tebal buku: x+142 hlm

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: