Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Mengenal Lebih Dekat Nizar Qabbani

Oleh: Redaksi         Diposkan: 22 Aug 2019 Dibaca: 1635 kali


Nizar Qabbani, Iahir pada tanggal 21 Maret 1923 dan dibesarkan dalam keluarga tradisonal Damaskus Kuno, tepatnya di sebuah kawasan yang bernama Mundzinah Syahm. Dalam catatan hariannya, Nizar Qabbani mengaku bahwa ia telah mewarisi kecenderungan berpuisi dari ayahnya, Taufiq Qabbani, sebagaimana dalam seni, Nizar mewarisi kecenderungan tersebut dari kakeknya, Ahmad Abu Khalil Al-Qabbani, seorang seniman terkenal dan penulis naskah drama hebat di masanya.

 

Di masa mudanya, selain menekuni kaligrafi, Nizar juga belajar melukis secara intens, hingga pada puncaknya lahirlah sebuah buku puisi Al-Rasm Bi Al-Kalimat (Melukis dengan Kata-Kata). Dan sebelum benar-benar melabuhkan diri sepenuhnya pada puisi, terlebih dulu ia tergila-gila pada musik. Di masa-masa awal kepenyairannya, Nizar telah banyak menghafal puisi-puisi Umar bin Abi Rabi'ah, Jamil Batsinah, Tharafah bin Al-'Abd dan Qais bin Al-Mulawwah.

 

Pada tahun 1939, Nizar Qabbani mengikuti pelayaran ke Roma. Saat itulah untuk pertama kali ia melahirkan bait-bait puisi setelah menikmati keindahan ombak dan ikan-ikan yang berenang di laut. Lalu sebagaimana diyakini oleh para Nizariat (Para Pecinta Nizar), tanggal 15 Agustus 1939 merupakan sejarah awal mula kelahiran puisi Nizar Qabbani.

 

 

Nizar Qabbani mengambil jurusan hukum di Universitas Damaskus. Di sela-sela kesibukan tugas-tugas kampus, Nizar menerbitkan buku puisinya yang pertama, Qâlat LîAl-Samrâ', (Perempuan Cokelat Berkata Padaku) dengan biaya sendiri.

 

Setelah lulus dari fakultas hukum, Nizar masuk dinas luar negeri (diplomasi). Kemudian ditempatkan di Kairo, London, Ankara, Peking, dan Madrid. Pada tahun 1966, Nizar Qabbani berhenti dari dinas itu kemudian mendirikan penerbit sendiri, di Beirut.

 

Perjalanan hidupnya banyak mengalami tekanan dan penderitaan, berawal dari kematian saudara perempuannya karena bunuh diri akibat menolak perjodohan dengan lelaki yang tidak dia cintai, kematian putranya saat sedang kuliah kedokteran di Mesir, dan kematian istrinya, Bilqis, wanita asal Irak yang terbunuh ketika perang sipil meletus pada tahun 1981 di Lebanon.

 

Banyak kalangan yang mengecam puisi-puisi cinta Nizar karena terlalu Vulgar dan dikhawatirkan dapat mengancam nilai-nilai keislaman yang sudah mapan. Sehingga dalam banyak negara di Timur Tengah—utamanya Arab Saudi— buku-buku Nizar dilarang beredar.

 

Di samping itu, Nizar juga dikenal sebagai penyair yang peka terhadap dunia politik Arab. Dalam banyak karyanya, sering kali ia melancarkan serangan dan kritikan terhadap para pemimpin di Timur Tengah atas kebijakan-kebijakan yang diskriminatif.

 

Setelah terbunuhnya Bilqis, Nizar Qabbani pindah dan menetap di London. Di sana ia tinggal kurang lebih 15 tahun hingga meninggal pada 30 April 1998 akibat serangan jantung. Pada saat menjalani perawatan di rumah sakit London, Nizar menulis wasiat agar setelah meninggal nanti, jasadnya dikuburkan di Damaskus. la mengatakan, "Rahim yang mengajari aku puisi, yang mengajari aku berkreasi, yang mengajari aku aksara bunga melati"

 

Beberapa karyanya antara lain; Qâlat Li Al-Samrâ' (1944), Thufulat Nahd (1948), Samia (1949), Anti Li (1950), Qashâid (1956), Habibati (1961), Al-Rasm Bi Al-Kalimât (1966), Yaumiyât Imraah Lâ Mubâliyah (1968), Qashâid Mutawahhisyah (1970), Kitâb Al-Hubb (1970) dan masih banyak lainnya. Aku Bersaksi Tiada Perempuan Selain Engkau adalah salah satu karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Basa Basi, 2018.

 

Jika kamu ingin membaca salah satu buku karya Nizar Qabbani, klik di sini

 

Sumber: Aku Bersaksi Tiada Perempuan Selain Engkau, Basa Basi, 2018

  •  


 



Artikel Terkait

Apa Yang Harus Dilakukan Mahasiswa Setelah Melihat Penindasan

Apa Yang Harus Dilakukan Mahasiswa Setelah Melihat Penindasan

Bersekutu dengan kaum tertindas dan bekerja menghancurkan sistem yang kejam ini. Solusi yang secara gamblang telah tersedia bagi mahasiswa yang harus bergerak melawan penindasan.

Diposkan: 25 Apr 2019 Dibaca: 2852 kali

Berpuisi Sampai Jauh

Berpuisi Sampai Jauh

Di buku tulis, peristiwa orang (pernah) menulis berlangsung di kebenaran dan kesalahan berbahasa, setelah bahasa itu pelajaran mendapatkan nilai untuk naik kelas atau lulus.

Diposkan: 12 Feb 2019 Dibaca: 1195 kali

Anarkisme: Narasi Sepanjang Zaman atau Sepanjang Jalan?

Anarkisme: Narasi Sepanjang Zaman atau Sepanjang Jalan?

Sejarah anarkisme adalah sejarah bagaimana upaya-upaya manusia selaku yang-partikular duduk setara dengan Tuhan...

Diposkan: 12 Oct 2018 Dibaca: 1975 kali

Buku Bawa Petaka

Buku Bawa Petaka

Buku mempunyai kekuatan mencerahkan dan merusak yang hampir sama besarnya. Dengan bertaklid buta pada hanya satu buku selama hidup, seseorang manusia bisa jadi monster buas yang sangat mengerikan.

Diposkan: 03 Oct 2018 Dibaca: 1685 kali

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Blog Search



Bayar dan Kirim

Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by