Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Menggumam Seperti Goenawan Mohamad

Oleh: Aristayanu BK         Diposkan: 10 Jan 2019 Dibaca: 659 kali


Goenawan Mohamad (GM), seorang esais cum sastrawan yang akhir-akhir ini mengenalkan diri sebagai seorang perupa, baru saja menelurkan novel pertamanya dengan judul Surti + Tiga Sawunggaling yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Tampilan sampul kaku –hard cover—yang hitam pekat dengan coret-coretan warna merah dan biru membentuk burung. Tiap paginanya juga diwarna hitam, seperti buku yang murung namun mencoba tetap gagah dan tegak. Rasa penasaran saya pun membuncah.

Buku tipis dengan tata letak yang tampak mementingkan estetika ini memiliki tebal 108 halaman. Dibuka dengan sebuah nama desa fiktif, Degayu, yang ada di pulau Jawa, ia ingin bertutur soal kemuraman dan murungnya kisah cinta antara Jen atau Marwoto yang seorang gerilyawan dengan perempuan bernama Surti.

Surti menikah di usia 20 pada tahun 1936 tak lama setelah Jen keluar dari penjara karena dituduh menghasut buruh-buruh kereta api di usianya yang ke-27. Pernikahan yang sederhana ditutup dengan malam pertama yang megah, “ia membuatku naik, naik, menjerit, dan lepas. Tiga kali – sebelum air maninya muncrat dan ia menangis, seperti orang bahagia.” kata Surti.

baca juga: Menengok Papua Lewat Buku

Surti tak pernah mengenal Jen sebelumnya, ia hanya tahu bahwa Jen adalah karib dari ayahnya. Jen sering bertamu ke rumah, ayah Surti suka, dan mereka menikah. Meskipun megahnya malam pertama telah tertempuh, pertanyaan “Makin kenalkah aku mengenainya setelah kami kawin?” muncul dari Surti, dan ketidaktahuan Surti adalah jawaban atas itu. Kedekatan Ayah Surti dengan Jen bisa jadi karena bahasan mereka yang tak jauh dari persoalan politik. Berbeda dengan Surti, Jen mengerti atau mungkin menganggap bahwa Surti tidak tertarik atau tidak tahu pada soal-soal pergerakan.

Namun masa sulit itu pun datang, Niken, anak mereka tenggelam di laut. Jen sudah menghilang sembilan kali setelah selama enam belas hari musuh menduduki kotanya, Jen hanya berkata bahwa ia pergi untuk mencari mimpi, selalu menjelang dinihari. Membatik adalah cara untuk menyembunyikan kesepiannya. Pada kain mori yang putih bersih ia menggoreskan cantingnya, menggambar tiga ekor burung Sawunggaling yang nantinya akan ia beri nama Anjani, Baira, dan Cawir. Tiga burung itu yang akan selalu datang setiap malam untuk menemani Surti, keluar dari kain mori itu menjadi wujud nyata yang akan kembali menjadi gambar ketika sinar matahari datang.

Ketiga burung yang nantinya akan menjadi pelampiasan kesepiannya selepas ditinggal mati oleh Jen setelah ia dibawa para serdadu dengan tuduhan sebagai seorang komunis. Surti sibuk melipat kain mori yang bergambarkan tiga burung sawunggaling itu, para serdadu sibuk menggeledah rumah dan menyobek gambar Bung Karno dengan bayonet. Ketiga burung itu yang akan silih berganti bertutur pada Surti tentang apa yang mereka perhatikan tentang kematian dan kehilangan. “Siang malam mereka rapat di gawangan, dalam mori dan lilin, dalam warna yang dari bunga dan daun – dari yang tumbuh, dari yang tak tumbuh..” Surti mengakhiri kisahnya.

baca juga: Masih Manusia Biasa

Sejauh pembacaan saya akan novel GM ini, kesan yang saya dapat adalah sama dengan saat saya memandangi sampulnya. Murung. Kisah yang mengambil latar tempat yang seoalah-olah seperti Jawa pada masa pasca kemerdekaan. Di mana Belanda melancarkan Agresi Militernya. Jen seorang Gerilyawan yang taat pada nilai-nilai kejawen, yang menginginkan kemerdekaan yang utuh untuk tanah airnya yang dipertegas dengan ucapan Jen saat Surti menanyakan tentang mengapa Kiai Subkhi dan para santrinya tidak bergabung dengan gerilya, “Mungkin orang keramat dekat dengan Tuhan dan keajaiban. Ia tidak memerlukan tanah air.”

Novel ini ditulis dengan gaya monolog Surti sedang menceritakan bagaimana kemurungannya bermula. Namun, seperti seorang pelantur, apa yang diceritakannya melayang-layang. Dalam kisahnya, Surti hendak membangun sebuah argumen bahwa setiap orang menginginkan kemerdekaan, tapi tak perlu juga berdarah-darah masuk ke dalam barisan perlawanan. Egois.

Dibuka dan ditutup dengan kemurungan, Goenawan Mohamad mengembangkan naskah ini dari monolog dengan judul yang sama Surti + Tiga Sawunggaling pada tahun 2010 yang diperankan oleh Ine Febriyanti dan disutradari oleh Sitok Srengenge yang dipentaskan pada 22-23 Juli 2011.

baca juga: Panduan Menulis Cerita Cinta

Kisah menarik yang mencoba berbicara soal mistik, politik, dan perjuangan fisik. Tentang Jen yang dituduh komunis dan dibunuh oleh serdadu Belanda ketika ia ingin memperjuangkan kemerdekaan yang utuh atas negaranya melalui gerilya. Kisah egois yang hampir saja menghasut melalui khayalan Surti tentang ingatannya atas suami yang mati karena perjuangan fisik lagi dituduh sebagai seorang komunis.

Mengingat perjuangan fisik mereka yang telah gugur di medan perang adalah bentuk heroik untuk merawat rasa cinta akan tanah air. Memang, “Darahnya bisa jadi saksi di depan Tuhan.” kata Goenawan bersembunyi di balik Surti, tapi hidup terus berjalan. Keadilan soal hak hidup adalah terang yang memancar untuk terus disuarakan melalui suatu karya yang tak melulu indah tapi tak bermakna. Begitu, Goen.

  •  

 

Judul: Surti + Tiga Sawunggaling

Penulis: Goenawan Mohamad

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 108 halaman

  •  

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: