Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Mengobati Lumbung Kebosanan Hidup

Oleh: Safar Banggai         Diposkan: 04 Apr 2019 Dibaca: 1391 kali


Suatu ketika di warung kopi di Jogja, seorang editor penerbit membagi pengalamannya ke saya. Bahwa ia pernah jalan kaki dari Jakarta hingga Lombok. Ia datangi Gunung Rinjani. Ia membutuhkan waktu empat bulan perjalanan. Menurutnya, itu pengalaman sangat berharga selama ia hidup. Saya bertanya, mengapa tak naik kereta atau bus atau pesawat atau kendaraan lainnya? Jawabannya: zaman sekarang begitu cepat berlari, kita perlu berhenti sejenak dan menikmati langkah kaki. Kira-kira begitu yang saya tangkap.

Saya terheran-heran dengan jejak editor itu. Masih ada saja pikiran seperti demikian. Mungkin saya yang berlebihan menanggapi pengalaman editor tersebut.

Pada 2007 ada sebuah film Into the Wild disutradarai Sean Penn. Berkisah anak muda bernama Christopher “Chris” McCandless berpetualang ke gurun Alaska selama dua tahun. Chris lulus sarjana pada Mei 1990 dari Jurusan Sejarah dan Antropologi Universitas Emory, Druid Hills, Amerika Serikat. Tak lama kemudian, ia menghancurkan kartu kredit dan dokumen identitasnya. Uangnya ia sumbangkan kepada Oxfam (organisasi nirlaba dari Inggris berfokus pada pembangunan penanggulangan bencana dan advokasi) dan sisakan untuknya sedikit saja. Tanpa sepengetahuan orangtua dan saudaranya, ia mulai berpetualangan lewati California Utara, Dakota Selatan, Meksiko, Slab City (California), Salton City (California). Singkatnya, ia banyak hadapi medan berbahaya—terutama di Lake Mead—namun ia selesaikan dengan baik. Tapi, ia tak mampu hadapi tanaman hama Hedysarum mackenzii ‘buncis liar’ sangat beracun, yang ia kira adalah biji Hedysarum alpinum ‘kentang liar’. Ia meninggal di bus dan meninggalkan catatan di buku harian dan dinding dalam bus. Film itu diangkat dari buku Into the Wild karya Jon Krakauer (1996).

baca juga: Omong Kosong Memang Menyenangkan

Kota menjadi lumbung kebosanan. Para penghuninya dengan segala cara menghilangkan rasa bosan. Ada pergi ke gunung, hutan, laut, atau tempat rekreasi yang tersedia di dalam kota.  Puisi Umbu Landu Paranggi “Apa Ada Angin di Jakarta” (1983) menjadi refleksi kita bahwa kota bukan tujuan, tapi persinggahan untuk menjadi warga desa. Apa ada angin di Jakarta / Seperti dilepas desa Melati / Apa cintaku bisa lagi cari / Akar bukit Wonosari // Yang diam di dasar jiwaku / Terlontar jauh ke sudut kota / Kenangkanlah jua yang celaka / Orang usiran kota raya // Pulanglah ke desa / Membangun esok hari / Kembali ke huma berhati.

Kita mesti kembali ke desa, membangun bukan merusak. Kembali membawa harapan dan meninggalkan hiruk-pikuk kota. Desa adalah surga yang kita tinggalkan.

Semangat meninggalkan kota dan pergi ke desa atau tempat paling sunyi sudah dilakukan oleh Henry David Thoreau pada akhir Maret 1845. Ia meninggalkan Kota Concord di bagian barat laut Boston, Massachusetts, AS. Thoreau tidak pergi ke desa—tapi lebih jauh dari itu, ia jemu dengan gosip murahan masyarakat. Ia pergi ke hutan segar. Di hutan, ia tinggal sendirian di dekat Danau Walden yang cantiknya bukan main. Tanah yang ia tempati adalah milik Ralph Waldo Emerson, sahabat Thoreau yang mengenalkannya transdentalisme (aliran pemikiran yang condong individual dan kemandirian). Ia merasa bahwa Walden adalah tempat sekaligus fondasi berlabuh yang indah.

baca juga: Tukang Sadap Kepala Itu Bernama Dea Anugrah

Walden berwarna biru di suatu waktu dan hijau di waktu lainnya, bahkan dari sudut pandang yang sama. Lantaran terbentang di antara bumi dan langit, Walden mengambil warna keduanya” (hlm. 225). Airnya tembus pandang hingga ke dasar. Ikan-ikan perch dan shiner berukuran sekitar 2,5 sentimeter nampak jelas dari pinggir danau. Di pinggiran Walden terhampar batu putih bulat halus, menurut Thoreau seperti batu ubin.

Sekitar empat kilometer ke arah barat, ada yang mirip dengan Walden yaitu Danau Putih di Nine Acre Corner. Tapi, tidak sejernih dan seindahan Walden. Di Walden, Thoreau membangun rumah dan tinggal selama dua tahun lebih. Tujuan ia tinggal di Walden, “... bukan untuk hidup murah atau sengsara, melainkan untuk menjalankan usaha pribadi dengan rintangan sesedikit mungkin; terhambat dari sebuah pencapaian hanya karena ketiadaan sedikit akal sehat, sedikit kegigihan, dan bakat usaha, bukan hanya menyedihkan, tapi juga kebodohan” (hlm. 27).

Thoreau meminjam kapak dari kawannya. Ia menebang pohon pinus putih muda dan pohon hickory untuk bangunan rumah mungilnya yang akan ia tempati. Ia memotong kayu utama dengan ukuran empat puluh sentimeter persegi. Selama dalam pembangunan rumah, ia tidak lama di hutan. Sebab, belum ada tempat inap. Sehingga, tiap hari ia pulang pergi dari desa ke Walden. Biasanya, ia membawa bekal roti dan mentega untuk makan siang.

baca juga: Obsesi Busuk Nuran Agar Kamu Melupakan Nirvana

“Saya tidak terburu-buru dalam bekerja, tapi berusaha mengerjakannya sebaik mungkin. Karena itu, baru pada pertengahan April kerangka rumah saya terbentuk dan siap untuk didirikan” (hlm. 55). Di awal Mei, kawan-kawannya membantu Thoreau mendirikan rumahnya. Atas bantuan itu, ia merasa paling terhormat sehingga pada 4 Juli, akhirnya ia tempati rumah tersebut. Saat pagi, Thoreau menanam kentang, kacang polong, dan buncis. Itulah beberapa menu makanan sehari-harinya. Kadang, ia memancing di tengah danau. Saat malam, ia membaca dan menulis. Aktivitas produktif.

Banyak hal yang Thoreau ceritakan dalam buku Walden or Life in the Woods, lalu diterjemahkan Ratih Dwi Astuti ini. Bukan saja perihal Danau Walden, tetapi perenungannya tentang kehidupan, ekonomi, sosial, masyarakat yang kurang baca buku, dan kegelisahannya kepada pemerintah. Perenungannya ia dapatkan selama tinggal di pinggir Danau Walden.

Membaca Walden merangsang semesta imajinasi saya tentang danau indah di Indonesia. Apa ada? Jika ada, penulis mana yang mengisahkannya?

baca juga: Memaknai Kesendirian Ala Thoreau

Genre memoar ditulis dengan rasa prosa ini adalah hasil eksperimen kehidupan Thoreau. Menurutnya, “Inilah kehidupan; sebuah eksperimen yang sebagian besarnya belum saya jalani; tetapi tak ada gunanya bagi saya mengetahui bahwa orang lain telah menjalaninya. Andai saya memiliki pengalaman yang menurut saya berharga, saya yakin yang saya alami itu tidak pernah disampaikan oleh mentor saya” (hlm. 13).

Buku ini diterbitkan Penerbit Basabasi dan tata sampul adalah Sukutangan. Sukutangan melakukan kesalahan kecil, tapi fatal yaitu salah menulis nama Henry David Thoreau. Di punggung buku tertulis Hendry David Thoreau.

Terlepas dari keindahan Walden, kegelisahan Thoreau, dan kesalahan kecil sukutangan, mungkin layak kita baca saksama pesan Thoreau pada halaman 402: “Apakah daging yang diawetkan diciptakan hanya untuk mengawetkan daging? Tidak, jadilah seorang Kolombus bagi benua-benua dan dunia-dunia baru, di dalam diri kalian, membuka jalur-jalur baru, bukan jalur perdagangan, melainkan jalur pemikiran”.

  •  

Judul: Walden

Penulis: Henry David Thoreau

Penerjemah: Ratih Dwi Astuti

Penerbit: Basabasi

Tebal: 420 hm

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: