Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Mengupak Bising yang Hampir Padam

Oleh: Fajar Nugraha         Diposkan: 16 Nov 2019 Dibaca: 858 kali


Derum ribuan mesin traktor four wheel sudah terdengar dari kawasan pesisir Schevingen. Namun semua traktor itu tak sedang dioperasikan untuk membajak berhektar-hektar ladang maupun sawah. Dengan memacu pedal gas dan tuas persneling masing-masing, perlahan petani-petani yang mengendarai 1.136 traktor itu pawai menuju kompleks parlemen yang berada di pusat kota Den Haag saat jam sibuk. Terik cuaca sepanjang reli, tak menghalangi yel-yel serta teriakan kemarahan para petani yang dimuntahkan di jalanan. Denging klakson dan sirine tak henti bertaut. Ribuan polisi huru-hara berportal di akses utama menuju kompleks parlemen. Dan tentu saja tidak sedikit ruas jalan yang lumpuh saat aksi berlangsung.

Aksi ribuan petani dengan traktornya itu adalah bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah Belanda dalam memerangi perubahan iklim. Pemerintah Belanda berdalih bahwa emisi dari mesin-mesin pertanian turut menyumbang polusi karbon dan menyulitkan upaya menghambat laju perubahan iklim. Lebih jauh lagi, kemurkaan para petani itu mencuat tatkala pemerintah Belanda melansir kebijakan untuk memangkas hasil produksi ternak dan turunannya—seperti susu sapi—untuk menekan emisi. Namun, hal itu disinyalir bakal berdampak buruk terhadap para petani yang menggantungkan hidup dari berternak.

Tak hanya berhenti pada aksi reli traktor di awal Oktober 2019 saja. Ribuan petani-petani turun kembali dengan traktornya untuk melancarkan protes pada pemerintah Belanda. Tepat pada 16 Oktober 2019, ribuan petani itu menggelar aksi reli traktor kembali menuju kota Utrecht, untuk kemudian dilanjutkan menuju Den Haag. Eskalasi dari aksi reli traktor lanjutan para petani jelas langsung bisa dicecap imbasnya. Tidak kurang dari 375 km ruas jalan di sekitar Utrecht mati total. Sebuah lembaga lingkungan pemerintah yang berlokasi di Utrecht—yang menurut para petani bertanggung jawab atas penerbitan informasi yang keliru tentang emisi nitrogen—mampu diduduki dan diputus akses jalannya. Tak hanya polisi huru-hara yang dikerahkan dalam pengamanan aksi, ribuan tentara pun turun ke jalan.

baca juga: Bahaya Laten Anti-Intelektualisme

Alih-alih dianggap sebagai biang dari segala kelumpuhan aktivitas ekonomi, ribuan petani itu berhasil membuat “kebisingan” baru di jantung kapital Belanda. Di tengah “kebisingan” pembangunan hingga sebetapa masifnya iklan-iklan di megatron pusat kota, ribuan petani Belanda mampu menghadirkan ansambel perlawanannya sendiri lewat bebunyian yang dihasilkan dari derum mesin traktor hingga klakson serta teriakan kemarahan mereka. Jika Infernal Noise Brigade mampu menjagai semangat massa dengan tetabuhan perkusi hingga denting xylophone manakala aksi, maka ribuan petani Belanda menyemangati diri mereka sendiri dengan suara-suara traktor yang mereka kemudikan di jalanan.

Berbicara mengenai kebisingan dan kaitannya dengan musik, tentu kita tak bisa melupakan Luigi Russolo sang renegades of noise dengan segala eksperimentasi serta Intonarumori-nya. Namun bagi generasi hari ini yang amat gandrung dengan musik-musik noise serta segala turunannya, tentu saja nama Merzbow bakal ada di daftar paling atas. Instrumentalis asal Jepang yang memiliki nama lahir Masami Akita itu acap dikenal bukan hanya menginisiasi proyek eksperimentatif noise dengan perangkat audio konvensional saja. Merzbow kerap menggunakan perkakas lain semisal gergaji mesin hingga bor listrik dalam penampilannya.

Merzbow pun dikenal tidak hanya tampil di skena maupun festival musik biasa saja. Pernah di satu momen Merzbow memainkan musik noise di gedung fasilitas militer di Khabarovsk, Rusia. Lalu tak lama berselang ketika di tengah penampilan, Merzbow langsung diusir. Resital noise dalam arti literal maupun membuat kebisingan di ruang publik serta titik-titik rentan digelandang dengan musik, telah banyak dilakukan juga oleh beberapa musisi. Dari mulai Fugazi yang tampil di sebuah acara protes di hadapan Gedung Putih; Atari Teenage Riot tampil di aksi Mayday yang berlokasi di kompleks pemerintahan Berlin; Rage Against the Machine yang merusuh di Democratic Convention dan pada acara solidaritas bagi Mumia Abu-Jamal; serta band crust-punk / d-beat Korea Selatan, yakni Scumraid, yang tampil di lampu merah pusat kota Seoul.

baca juga: Kreativitas Sebagai Perjumpaan Eksistensial

Membahas tentang musik noise akan selalu menyeret kita pada sengkarut perdebatan tiada akhir, wabil khusus hingga aspek paling fundamental. Pertanyaan semisal “apakah noise termasuk musik?” mungkin bakal berjuta kali terasa bergairah tinimbang mendengar bacotan Ryamizard atau Fadli Zon tentang puisi comberan mereka. Sejak era Futurisme, noise barangkali memang jadi anak haram dari pakem estetika maupun keindahan yang diwariskan pasca berakhirnya fase resonansi isomorphic, di periode setelah tahun 1550. Dan noise semakin menemukan dentamnya tatkala Revolusi Industri pertama di tahun 1760 bergulir. Hingga kini, pertentangan ihwal musik noise yang jauh dari ikhtiar pengorganisiran bunyi menjadi harmoni itu kerap berlalu-lalang dari mulai tangkringan skena musik underground, hingga kantung-kantung cultural studies setiap kampus seni.

Namun jangan sesumbar terlebih dahulu. Ketika di satu wilayah musik noise betul-betul ditarik ke arena diskursif dan dipreteli elan politisnya; di wilayah lain musik noise tak berbeda nasibnya dengan doger monyet maupun sirkus punk yang tempo hari haha-hihi di markas komando distrik militer. Atau ketika ada kongsi musisi noise yang kemudian turut andil dalam gelaran seni yang dihelat oleh pemerintah daerah Kulon Progo.

Mau pakai dalih apalagi? Mengubah dari dalam? Sebagian dari kita tahu bahwa pemerintah daerah Kulon Progo serta bidak-bidak kekuasaan sultan lainnya, punya andil besar dalam upaya mencerabut ruang hidup warga Temon dan desa lain di Kulon Progo, khususnya terdampak proyek Yogyakarta International Airport (YIA). Dan pada momen itu, noise bukan malah jadi mesin disruptif yang menghancurkan suatu narasi hegemonik. Ia justru kadung jadi entitas auditif dengan desibel yang hanya bisa memekakkan telinga.

baca juga: Bangsa yang Malas

Marwah kebisingan dari musik noise tidak semestinya dibiarkan larung menjadi output yang tak mengusung apa-apa, selain bisa mengantarkan audiens lebih sering mengunjungi dokter THT. Sedikit memelintir jawaban wawancara Arpia Sol, musisi glitch-noise asal Jakarta, yang memaparkan ihwal glitch, “elan politis dari glitch,” yang juga bagian dari rumpun noise, “adalah mendisrupsi operasionalitas dari tatanan dan aparatus dominan yang ada.” Lebih lanjut Arpia Sol pun menakar konsekuensi logisnya, “segala mode dan wujud eksploitasi hari ini perlu dilihat bukan sebagai sesuatu yang secara moralistik “salah”, tetapi sebagai rancangan sistemik yang secara utilitarian justru berfungsi persis sebagaimana mestinya ia dirancang.

Bahkan lebih lanjut lagi Arpia Sol menganggap bahwa disrupsi atau malfungsi sistemik “tidak harus berupa dorongan yang sama sekali “eksternal” dari sistem, tetapi sangat mungkin mengeksploitasi “potensi ketaksengajaan” yang inheren dalam sistem manapun.” Arpia Sol menyodorkan suatu gambaran yang dipinjamnya dari Paul Virilio bahwa penemuan kapal mengimplikasikan karam, sebagaimana mesin uap dan lokomotif menemukan penggelinciran rel. Di situlah yang dimaksud celah-celah posibilitas bahwa musik noise punya elan distuptif yang mampu meluluh-lantakkan tatanan dan aparatus dominan. Bukan malah menjadi pelegitimasi kekerasan struktural yang dilakukan oleh negara selama rentang menahun.

Kini di skena musik lokal, ada Eviction. Beramunisikan instrumen dan efek penunjang ala kadarnya di pedalboard, Eviction telah menyaru sebagai legiun stoner-noise Bandung yang telah menancapkan sebuah markah penting tentang musik dan bagaimana ia menjadi motor penggerak kawanan. Dari satu panggung gigs studio, ke satu festival musik di tanah gusuran. Dari di hadapan audiens yang mencapai ekstatik, ke satu kerumunan penontong yang merogoh walkie-talkie di tas pinggang. Eviction tak hanya sebatas noktah kebisingan di antara kebisingan dari laju kapital hari ini. Seperti yang jadi ikhtiar glitch sebagai juru jagal tatanan dan aparatus dominan. Eviction tak henti melakukan upaya itu lewat pelbagai eksperimentasi maupun resital-resitalnya.

baca juga: Politik Jalanan Jacques Rancière

Api palagan terus berkobar dari Rojava, Exarcheia, Barcelona, Hongkong, Guadaquil, Santiago Street, Tokyo, Utrecht, bahkan hingga berbagai kota di Indonesia. Di antara desing peluru dan dentam mortar, di antara degup lemah jantung para pencari suaka dan tangis lirih warga yang dirampas ruang hidupnya, di antara malam bertudung gemintang dan derum mesin buldozer yang tak henti meratakan rumah; Eviction dan mungkin masih ada unit musik lain yang masih meneruskan ikhtiarnya sebagai legiun noise pantang tugur di hadapan kebisingan zaman.

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: