Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Mengurai Tanggung Jawab

Oleh: Aristayanu BK         Diposkan: 30 Sep 2020 Dibaca: 622 kali


Sejarah mendjadi saksi bahwa bangsa kita bukanlah bangsa jang kerdil dan lembek-tak-berdaja, dan samasekali bukan bangsa jang tidak mempunjai inisiatif, jang tidak mempunjai dayatjipta, jang tidak mempunjai keberanian dan jang dengan sukarela suka menerima tiap-tiap beban kolonial diatas pundaknja.

—Kebanggaan dan Kesedaran Nasional, Aidit (Aidit, 1959)

 

Tragedi politik dan kemanusiaan G30S 1965 telah menjadi beban bagi generasi hari ini. Konflik yang tak pernah terpadamkan, dendam yang terus menerus dirawat, dan ketakutan adalah beban yang kita warisi. Sebagai bangsa, konflik ini membuat rakyat seperti burung dalam sangkar. Rakyat tak pernah bebas berpikir dan bertualang dalam pengetahuan.

Peristiwa pembunuhan massal G30S 1965 telah merenggut banyak nyawa atas nama politik, juga telah membuat Indonesia tak dapat memahami jati dirinya sendiri. Dengan meniadakan peran-peran orang-orang serta organisasi komunis yang turut berperan sebagai katalisator dalam kemerdekaan Indonesia dari penjajahan (Robinson, 2018).

Akibat ketidakpahaman atas sejarah Indonesia, ketakutan sering dipertontonkan oleh mereka yang ingin merawat konflik ini dalam narasi kemunculan komunisme gaya baru, yang merupakan bentuk propaganda untuk mempertahankan keabaian pemerintah pada tragedi kemanusiaan G30S 1965, sebelum dan juga setelahnya.

Mengapa penting untuk mengetahui sejarah kelam ini?

Memahami masa lampau yang kelam ini adalah agar kejadian serupa tidak lagi terjadi di kemudian hari. Selain itu, pengembalian hak kepada mereka yang menjadi korban adalah hal yang penting, sebagai upaya negara dalam memenuhi hak asasi rakyatnya. Peristiwa ini juga membungkam ilmu pengetahuan yang berbau Marxisme, sosialisme, komunisme, dan pengetahuan lainnya yang sering disebut sebagai “paham kiri”. Sebagai beban sejarah bagi generasi hari ini dan selanjutnya, hal ini akan mendorong ketakutan dan senantiasa akan menjadi bola liar yang siap digunakan oleh orang-orang yang mengakomodasi konflik dengan menjadikan paham kiri—komunisme secara khusus—sebagai momok (Wieringa & Katjasungkana, 2020).

Bagaimana cara mengetahui dan memahami sejarah kelam ini?

Membaca dan mendengarkan. Banyak kajian yang lahir dan membahas pembunuhan massal ini. Pengetahuan sejarah soal G30S 1965 telah banyak disampaikan melalui sekolah, tapi sejarah tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi. Selayak koin, sejarah dapat dilihat dari dua sisi, keduanya memiliki gambar dan angka, karena keduanya ada maka entitas koin itu ada. Tentu bahwa hampir-hampir tidak ada cara yang singkat untuk memahami dan mengerti, dan membaca adalah salah satunya.

Pasca terjadinya peristiwa G30S 1965, pemerintahan Soeharto berhasil mengangkangi Indonesia selama 32 (tiga puluh dua) tahun. Selama itu, rakyat dipaksa untuk menelan ketakutan sebagai trauma (Siegel, 2000). Melalui berbagai macam media, pemerintah Soeharto berhasil dalam melakukan doktrinasi berupa “kekejaman PKI”. Menempatkan organisasi pertama yang menyematkan nama Indonesia tersebut, menjadi biang keladi atas kerusuhan dan kekacauan politik di Indonesia.

baca juga: Pengajaran Sains Calon Ilmuwan

Salah satu contohnya adalah melalui PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) yang dibikin oleh Nugroho Notosusanto, salah satu sejarawan kawakan di era orde baru. Upaya Nugroho tersebut didukung oleh Soeharto, atas alasan penanaman semangat perjuangan dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Sayangnya, PSPB ditolak oleh banyak cendekiawan seperti kalangan sejarawan, YB Mangunwijaya, bahkan Fuad Hassan—yang nantinya akan menggantikan Nugroho menjadi Menteri Pendidikan—karena dianggap sebagai malapraktik dunia pendidikan.

Untuk mempertahankan entitas sejarah, maka penting untuk melihatnya dari berbagai macam sisi. Salah satunya adalah dengan memahami apa-apa saja yang terjadi sebelum dan sesudah G30S 1965. Kronik ’65 (Hadi, 2017) dapat memberikan hal tersebut kepada pembaca. Meski telah dibuat dengan cukup tebal, kata Asvi Warman Adam dalam kata pengantarnya, absennya beberapa peristiwa juga tak dapat dihindarkan. Paling tidak dengan membaca buku ini, kita dapat mengamati manuver politik baik dari pemerintahan Soekarno maupun Soeharto pada masa transisi tersebut.

Kronik ’65 memaparkan berjalannya peristiwa di Indonesia secara luas. Tak hanya itu, buku ini kaya akan informasi yang cenderung tidak Jakarta-sentris, meski peristiwa perebutan kekuasaan berada di ibukota. Seperti menonton tinju, ring itu tepat ada di tengah-tengah penonton, tapi sayangnya, riak-riak kekerasan menjalari hingga ke seluruh tempat. Memanasnya politik di ibukota, menjalar hingga ke daerah-daerah dan melahirkan penghilangan nyawa secara paksa. Riak-riak ini yang sampai hari ini perlu untuk dibahas, sebab banyak dari mereka yang tidak tahu menahu tapi tetap saja terlibas berkat kekacauan informasi di masyarakat selama pendirian rezim orde baru.

baca juga: Gorky, Para Jelata, dan Aksi Massa

***

Baiknya pembaca kembali pada kutipan yang membuka tulisan ini. Tentu, kita tak akan pernah tenang, sadar dan paham jika kita terus menerus takut dan menolak untuk berdamai pada sejarah, dengan meletakkan beban yang selama ini kita pikul bersama. Kejahatan di masa lalu adalah tanggung jawab kita bersama.

***

Daftar Bacaan:

Aidit, D. N. (1959). Pilihan tulisan (Vol. 1). Jakarta: Jajasan Pembaruan.

Hadi, K. (2017). Kronik ’65: Catatan hari per hari Peristiwa G30S sebelum hingga setelahnya (1963-1971). Yogyakarta: Media Pressindo.

Robinson, G. B. (2018). Musim Menjagal: Sejarah Pembunuhan Massal di Indonesia 1965-1966. Depok: Komunitas Bambu.

Siegel, J. T. (2000). Penjahat gaya (orde) baru: Eksplorasi politik dan kriminalitas. Yogyakarta: LKIS.

Wieringa, S. E., & Katjasungkana, N. (2020). Propaganda dan Genosida di Indonesia: Sejarah Rekayasa Hantu 1965. Depok: Komunitas Bambu.

 

Judul: Kronik 65

Penulis: Kuncoro Hadi, dkk. 

Penerbit: Media Pressindo

Halaman: xxvi + 986 halaman 

ISBN: 9789799116055

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: