Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Menjadi Anak-anak Membaca Sastra Anak

Oleh: Erika Rizqi         Diposkan: 09 Apr 2019 Dibaca: 579 kali


Beberapa waktu yang lalu, salah seorang kawan mendapat tugas untuk mengisi diskusi seputar sastra anak. Dengan gundah, ia mengirim pesan singkat kepada saya. Ia merasa tidak percaya diri membawakan tema tersebut, karena pertama, ia belum punya anak, dan kedua (saya kira ini yang paling penting), ia belum memiliki pandangan untuk berkeluarga apalagi memiliki anak.

Tiba-tiba saya teringat, seorang kawan yang lain juga pernah bertanya, mengapa saya tertarik dengan bacaan anak ketika saya bahkan belum memiliki anak? Celetukan dua kawan tersebut membuat saya merasa bahwa kita, sebagian besar manusia yang dianggap telah dewasa, seringkali melongok dari menara gading untuk melihat sekumpulan anak menyemut di bawah. Jauh, dan berjarak.

Keberjarakan tersebut disadari Okky Madasari tatkala ia telah memiliki seorang anak.

Terbatasnya ragam bacaan yang bisa dikonsumsi oleh anak-anak terjadi di pasar buku. Paling banter, menurut Okky dalam wawancara dengan Jurnal Ruang, buku yang ditemukan di rak adalah buku anak-anak yang ditulis dengan nada menggurui dan penuh nuansa dakwah. Karena itulah ia memutuskan untuk menulis buku yang bisa dibaca oleh anak-anak.

baca juga: Menyudahi Pendidikan Penyebar Rasa Benci

Mata di Tanah Melus adalah buku anak pertama Okky dari seri Mata. Menceritakan petualangan Mata Diraya bersama ibunya, dengan latar tempat di Belu, Nusa Tenggara Timur. Sebagai anak yang lahir dan besar di Jakarta, Mata terkejut ketika mendapati Belu dengan tanah-tanah kosong dan hewan ternak yang berkeliaran bebas. Jakarta dan Belu adalah antitesis. Mata meringkasnya dalam satu kalimat, di Belu tidak ada mal.

Awal cerita dimulai ketika Mata dan ibunya, dengan mobil sewaan, tidak sengaja menabrak sapi yang sedang menyebrang. Sesuai dengan adat, mereka diwajibkan untuk mengganti kerugian dengan sejumlah uang. Kematian sapi tersebut membawa mimpi buruk bagi Mata. Ia terus-terusan dihantui kemarahan sapi dalam mimpi. Salah satu penduduk desa mengatakan, Mata harus membikin upacara untuk meminta izin tinggal di Belu.

Upacara yang diadakan di puncak bukit tersebut membawa Mata ke tempat yang lebih jauh. Lewat seorang pawang, sang penunggu Belu meminta Mata dan ibunya kembali ke Jakarta. Mereka tidak diizinkan untuk menetap di Belu. Dalam kemarahan, ibu Mata mengajak Mata untuk turun dari bukit. Hujan turun dengan deras, membuat keduanya terpisah dari rombongan yang lain. Dalam keadaan lelah dan basah, mereka berdua memutuskan beristirahat di gubuk tak berpenghuni.

baca juga: Mengobati Lumbung Kebosanan Hidup

Keesokan harinya, Mata terbangun dengan disambut pemandangan padang hijau. Padang tersebut mengingatkannya dengan Pegunungan Alpen, tempat yang hanya ia ketahui lewat bacaan. Penjelajahan Mata di padang membawa ia bertemu dengan sekelompok orang yang akan membawanya ke dalam petualangan. Kelompok tersebut menamai dirinya sebagai orang Melus. Saat itu juga, ia tidak bisa kembali kepada ibunya yang sedang tertidur di gubuk.

Sepanjang membaca novel ini, saya merasa familiar dengan cerita petualangan Mata di tanah Melus. Mata mengingatkan saya dengan Old Shatterhand, tokoh Karl May dalam novel Winnetou yang terkenal itu. Baik Mata di Tanah Melus maupun Winnetou, keduanya sama-sama berbicara tentang kelompok masyarakat yang terpaksa menyingkir karena tanahnya dirampas oleh mereka yang merasa memiliki hak. Suku Indian dalam Winnetou dipaksa memberikan sebagian tanahnya untuk jalur kereta api. Sedangkan Suku Melus harus bersembunyi agar segala yang mereka punya tidak diambil.

Novel Okky kali ini adalah penyegaran, karena dibumbui dengan bau sihir dan hal-hal imajinatif. Sejauh ingatan, Mata di Tanah Melus adalah salah satu novel anak pertama yang mengadopsi unsur-unsur magis. Di Eropa, cerita anak yang menawarkan petualangan di dunia magis mulai mendapat tempat ketika Lewis Carol, penulis asal Inggris, menulis novel Alice in Wonderland pada 1865. Kesuksesaan cerita Alice, baik dikalangan anak-anak maupun dewasa, diikuti oleh J.M Berrier dengan Peter Pan pada 1904, lalu Narnia, hingga Harry Potter milik J.K Rowling. Di Indonesia, saya hanya menemukan cerita-cerita petualangan magis seperti ini di Majalah Bobo.

baca juga: Omong Kosong Memang Menyenangkan

Cerita Mata yang bercampur antara magis dan realis memberikan dua hal bagi pembaca. Cerita magis menawarkan sebuah imaji, bagian penting hidup manusia yang biasanya mulai hilang ketika menginjak usia remaja. Sekalipun cerita petualangan Mata begitu mengasyikkan, menurut saya, sudut pandangnya ketika melihat orang dewasa adalah inti cerita. Bagi Mata, manusia dewasa adalah mereka yang kehabisan waktu untuk sekadar membaca dan mendengarkan cerita. Mereka (walaupun yang dimaksud tentu adalah kita;  yaitu saya sebagai penulis resensi, dan anda sekalian sebagai pembaca tulisan ini), menutupi bagian yang hilang tersebut dengan mulai menolak untuk percaya cerita-cerita fantasi.

Dalam artikel What We Can Learn From Reading Fairy Tales yang dimuat Telegraph.co, dijelaskan bahwa cerita fantasi mampu memberikan pemahaman atas sesuatu hal yang belum bisa anak-anak artikulasikan sendiri. Imajinasi yang mengikuti cerita-cerita fantasi juga membantu anak-anak mengembangkan ide yang tidak bisa dibatasi oleh dunia fisik. Kisah penuh khayal seperti itu juga turut mengeksplorasi ketakutan terdalam anak, sekaligus memberikan anak kesempatan mencari jalan keluar sendiri.  Pada cerita Mata, hal tersebut mewujud dalam sosok Ema Nain, sang pimpinan bangsa Melus yang tidak membiarkannya untuk pulang. Ketakutan Mata jika tidak bisa bertemu dengan ibunya lagi membimbingnya ke dalam sebuah solusi, ia harus kabur dari tempat tersebut.

Pada sisi lain, Okky juga menawarkan bagian cerita yang selalu ada di novel-novel sebelumnya: permasalahan sosial. Di paragraf delapan, saya telah menyebutkan alasan mengapa Bangsa Melus menjadi bangsa yang tertutup. Dalam petualangan Mata, pertemuannya dengan pemburu buaya dan juga Ratu Kupu-Kupu yang menjaga kelompoknya dari penjerat adalah cara untuk menunjukan pada anak-anak bahwa ada sisi dunia yang tidak sedang baik-baik saja. Alih-alih memisahkan anak-anak dari persoalan sosial, Okky sedang menunjukan bahwa tidak selamanya anak harus dijejali segala yang indah-indah.

baca juga: Kehilangan Kosa Kata, Kekasih

Dari total duapuluh dua bab, tiga bab pertama adalah bagian yang paling mengesankan. Realitas yang  dekat dan jarang terbahas. Bab tersebut menunjukan bahwa tidak selamanya pasangan yang telah memiliki komitmen akan baik-baik saja. Termasuk juga Ayah dan Ibumu. Bahwa ada saat ketika pertengkaran harus terjadi. Walaupun hal tersebut lumrah, ada satu waktu keadaan akan semakin memburuk. Namun, tidak ada pertengkaran yang tidak berhenti. Sekalipun hal tersebut harus memeras banyak hal, termasuk alasan untuk bahagia dan tertawa.

Mata juga melihat bagaimana ibunya melawan untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip. Seperti ketika pelajaran Agama di sekolah Mata hanya bercerita tentang perihnya neraka. Atau saat sekolah Mata memeras sejumlah uang untuk karyawisata ke negara jiran. Atau saat Mata tidak pernah diizinkan membaca tulisan yang ditulis Ayah dan Ibunya. Para orangtua tersebut berlindung di bawah frasa, “nanti jika sudah besar”.

Pada akhirnya Mata Diraya, anak berusia dua belas tahun itu, mengajak kita kembali membaca. Bukan sebagai orang dewasa yang memandang Mata di Tanah Melus sebagai bacaan anak semata, tetapi sebagai manusia yang dahulu pernah melewati usia dua tahun, tiga tahun, dan sepuluh tahun. Sembari memikirkan juga mengapa saat usia bertambah, kita semakin tidak memiliki jawaban, untuk pertanyaan-pertanyaan sederhana?

  •  

Judul : Mata di Tanah Melus

Penulis : Okky Madasari

Penerbit : Gramedia

Tebal : 188 halaman

  •  
Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.


0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: