Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Menjelajah Alam Borneo Menjumpai Kawan Kawan di Jalan Revolusi

Menjelang

Ivan S Turgenev
Stock: Tersedia

Kategori : Novel dan Sastra

Turgenev adalah seorang anarkis dan nihilis seperti juga Leo Tolstoy yang digelari anarkis Katolik. Banyak pengamat menilai bahwa Turgenev adalah penulis Rusia yang paling puitis (pada abad ke-19 berdasarkan pemilihan kata) dan seorang realis yang merupakan cikal bakal lahirnya realisme sosialis ala Maxim Gorky. Sedangkan Maxim Gorky dijuluki sebagai tokoh (cermin) lahirnya Revolusi Oktober 1917.

Meskipun karya Menjelang ini tidak terkenal seperti karya-karya Turgenev lain, tapi bukan berarti jelek. Ada anggapan yang ambivalensi dalam dunia sastra, lukis maupun lainnya, menyatakan bahwa keindahan karya itu hanya untuk dibicarakan dan tidak bisa diperdebatkan. Namun kalau melihat tahun penulisan pada 1859, berarti buku ini ditulis Turgenev ketika berusia 41 tahun, mungkin dalam buku yang berjudul Father & Son dan A Nest of Gentlefolk intuisi ini tercipta antara keselarasan judul buku dan kenyataan yang termaktub dalam isi cerita buku ini yang berbicara antara peristiwa politik dan cinta yang ganjil dan mengharu biru pada penutup cerita.

Selamat Membaca dan Berbahagialah...


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Novel dan Sastra
Koeslah Soebagyo Toer xii + 244 hlm | Bookpaper
Penerjemah : Koeslah Soebagyo Toer
Ketebalan : xii + 244 hlm | Bookpaper
Dimensi : 14x20 cm | Soft Cover
Bahasa : Indonesia
Stock: Tersedia
Penerbit: Pataba Press
Penulis: Ivan S Turgenev
Berat : 300 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat


Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by