Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Mental Issue, Fiksi Populer, dan Syahid Muhammad

Oleh: Annisa Y. Fauzi         Diposkan: 23 Jul 2019 Dibaca: 7611 kali


Kita ini apa selain menjadi pengecut untuk mengaku salah?Mungkin, hidup memang tentang mencari hal-hal yang benar. Bukan terus-terusan merasa benar.”

Atau,

Ada yang memaafkan dan dimaafkan. Tak ada seorang pun yang bisa memesan takdirnya sendiri. Tak ada yang ingin menjadi terdakwa atas sebuah tragedi, pun tak ada yang bisa menghindari takdir. Semua orang bisa jadi korban sekaligus pelaku.”

Tidak merasa asing dengan bait-bait di atas? Jika jawabannya “ya”, mungkin kita baru saja menjadi komplotan yang sama karena membaca buku yang sama. Bait-bait di atas merupakan kutipan dari novel tunggal karya Syahid Muhammad, yakni Egosentris dan Paradigma.

Syahid Muhammad atau biasa dipanggil Bang Iid, merupakan seorang penulis yang baru saja merilis buku keenamnya. Kala, Amor Fati, Egosentris, Paradigma, Saddha, dan 25 Jam telah berhasil membuat pembaca jatuh cinta dengan sihir pada setiap kalimat, bahkan setiap kata yang tertuang di dalamnya. Kisah yang tersaji dalam novel Bang Iid selalu mampu membuat pembaca (atau mungkin lebih tepatnya saya) kagum.

Kala dan Amor Fati merupakan novel pertama dan kedua dari Bang Iid dimana juga merupakan hasil kolaborasi dengan Stefani Bella. Kedua novel ini bergenre romance dengan konflik-konflik antara dua tokoh utama, Saka dan Lara. Singkatnya, Saka dan Lara saling mencintai dan sedang berjuang untuk cinta mereka namun banyak rintangan yang harus mereka lewati. Konflik muncul dari dalam diri Lara, Saka, bakan orang-orang di sekitar mereka. Akhir dari novel Kala terkesan menggantung, maka Amor Fati akan melengkapinya untuk mengetahui kelanjutan serta akhir dari kisah Saka dan Lara.

baca juga: Melihat Diri Sendiri

Jika saya perhatikan, sebenarnya kisah dan konflik yang diangkat dalam novel ini merupakan hal yang umum terjadi dalam kehidupan percintaan, namun yang membuat novel ini menarik adalah cara pengemasannya. Dimulai dari dua sudut pandang yang berbeda antara Saka dan Lara, memaparkan bagaimana pola pikir sang laki-laki lalu beralih pada sang perempuan dengan keadaan sama yang sedang mereka hadapi.  Penyajian perbedaan sudut pandang inilah membuat saya tertarik dalam menyelami pikiran tiap-tiap tokoh dan memahami bagaimana perbedaan pola pikir antar gender yang terjebak dalam asumsi masing-masing.

Diksi dalam kedua novel ini benar-benar apik. Kata yang digunakan, disusun dengan mengagumkan, tidak berlebihan, terasa ‘pas’ hingga mampu mengobrak-abrik emosi saya. Penyelesaian masalah dalam kedua novel ini tersusun dengan rapi, tenang, tidak buru-buru, dan menurut saya memang inilah cara menyelesaikan urusan percintaan ala orang dewasa.

Novel Kala dan Amor Fati menurut saya adalah salah satu novel bergenre romance yang dapat mematahkan argumen bahwa novel romance pasti menye-menye, tidak ada nilai moral yang dapat diambil, atau argumen-argumen skeptis lainnya. Mungkin bagi pembaca yang terbiasa dengan novel romance ringan seperti teenlit, Kala dan Amor Fati akan terkesan sedikit berat. Namun, tidak ada salahnya untuk coba membaca sesuatu yang baru karena menurut saya novel ini worth to read.

baca juga: Yang Dikeruk dan Berkobar

Beralih pada novel tunggal karya Syahid Muhammad, Egosentris dan Paradigma. Egosentris adalah novel pertama dari Bang Iid yang saya baca dan membuat saya ketagihan untuk membaca novel karya Bang Iid lainnya. Tentunya, Egosentris dan Paradigma merupakan novel karya Bang Iid yang menjadi favorit, karena pesan-pesan yang disampaikan benar-benar tepat sasaran. Meskipun pada cover dicantumkan bahwa novel ini adalah romance namun sejujurnya isi dari novel Egosentris dan Paradigma melebihi ekspektasi saya.

Kedua novel ini berlatar psikologis dimana dari yang saya tangkap Bang Iid sedang menyuarakan tentang mental issue yang selama ini sangat disepelekan oleh banyak orang. Bang Iid juga menuangkan keresahan-keresahan yang seringkali timbul dalam kehidupan sosial, dimana selama ini hanya sedikit orang yang mau peduli. Dengan menyajikan cerita yang diangkat dari kejadian di sekitar kita, contohnya banyak yang menilai (judge) seseorang dengan hanya melihat penampilan luar saja lalu menjadikan hal tersebut bahan untuk nyinyir dengan orang lain bahkan parahnya sampai ke kasus bullying, Bang Iid mencoba menyampaikan pesan bahwa dibalik penampilan seseorang entah itu baik atau buruk pasti terdapat alasan kuat mengapa orang tersebut bisa demikian.

Jujur saja banyak sekali pesan yang saya dapat dari Egosentris dan Paradigma. Mungkin setidaknya saya bisa lebih peduli terhadap orang-orang di sekitar dan tidak menyepelekan luka yang dialami orang lain. Ditambah dengan syair indah namun seringkali menyayat hati pada Egosentris dan Paradigma, membuat saya semakin betah menelusuri makna yang tersimpan di dalamnya.

baca juga: Membaca Atau Mati!

Novel kelima karya Syahid Muhammad yakni Saddha sangat berbeda dengan novel sebelumnya. Isi dari Saddha adalah syair-syair indah namun memiliki alur yang tujuannya adalah mengajak pembaca untuk menerima luka, kemudian menyembuhkannya. Dimulai dari bagaimana dua sejoli bertemu, berkenalan, merajut kisah, hingga harus berakhir dengan saling memberi luka dan berusaha sembuh dari luka yang telah ditorehkan. Diksi pada novel ini sungguh dapat menyihir saya untuk betah berlama-lama menikmati kata perkata. Novel ini mungkin memang sengaja dibuat untuk menunjukkan bahwa luka pun bisa indah lewat syair Bang Iid, namun tetap tidak boleh terus menerus terjebak dalam luka walau indah.

Novel terakhir, yang baru saja rilis adalah kolaborasi dengan Stefani Bella yakni 25 Jam. Tentang dua orang (laki-laki dan perempuan) dengan kisah yang berbeda sedang dihinggapi keraguan karena luka masa lalu. Mereka bertemu dalam satu titik dalam rangka melarikan diri dari kisah masing-masing, saling membuka kisah yang awalnya sulit, dan tanpa sadar saling menyembuhkan. Luka-luka seakan sembuh hanya dalam satu rangkaian peristiwa, 25 jam. Dengan dua perspektif yang berbeda, Bang Iid dan Stefani menyajikan cerita menawan.

Dari semua novel di atas, kalau harus memilih, mungkin saya akan sangat merekomendasikan Egosentris untuk dibaca. Karena selain tulisan di dalamnya ‘khas Bang Iid sekali’, juga sangat berkaitan dengan peristiwa-peristiwa di sekitar kita. Banyak pesan yang disampaikan dalam Egosentris, tentunya dikemas dengan sederhana namun terlampau menakjubkan.

baca juga: 1001 Malam Cerita Lisan dan Nama Baru tanpa Selamatan

Saya tak mengerti jalan seperti apa yang telah Bang Iid lalui hingga saat ini. Namun, dari karyanya yang telah saya baca, tak bisa tidak saya katakan, bahwa saya adalah salah satu dari banyak orang yang telah merasa ‘sembuh’. Terimakasih.

  •  

Penulis: Syahid Muhammad

Penerbit: Gradien Mediatama

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: