Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Menyimpan dan Mengunci Merah dalam Laci dan Ingatan

Oleh: Aristayanu Bagus K         Diposkan: 02 Jun 2018 Dibaca: 670 kali


 

Rukiah adalah perempuan yang lahir pada 25 Arpil 1927, ia adalah satu-satunya perempuan yang berhasil mendapatkan hadiah sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN; sebuah hadiah bergengsi kesusastraan pada masa sekitar tahun 1950an) di tahun 1952 di antara para pesaing lainnya yang didominasi penulis pria, yaitu Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, dan Utuy Tatang Sontani. Rukiah terkenal sebagai budayawan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Di tahun 1960an ia pernah mewakili Indonesia untuk menyampaikan pidato dalam sebuah kongres penulis di Jerman Timur.

Rukiah dikenal oleh kawan-kawannya sebagai perempuan yang cerdas dan berpikiran tajam. Kesibukannya dalam berorganisasi maupun sebagai penulis tak menjadi halangannya untuk tetap membesarkan buah hatinya dengan penuh kasih sayang.

Selain menjadi editor majalah anak-anak Tjendrawasihi ia juga aktif menjadi kolomnis dalam media-media massa organisasi, seperti Api Kartini, Zaman Baru, Harian Rakjat, dan Lentera. Rukiah tercatat sebagai salah satu pengurus Lekra dalam kongresnya pada 28 Januari 1959 bersama sejumlah seniman seperti Affandi, Rivai Apin, dan Hendra Gunawan.

Prestasinya yang cukup gemilang pun harus sirna, sejalan dengan berdirinya rezim baru Soeharto. Peristiwa 1965 mengubah sistem politik di Indonesia sekaligus kehidupan Rukiah dan keluarganya. Rukiah dan keluarga harus menanggung beban berat pasca pergolakan politik 1965, ia harus berpisah dengan suaminya, Sidik Kertapri yang saat itu menjadi eksil (awalnya di Tiongkok kemudian pindah ke Belanda pada tahun 1980-an). Untuk menghindari situasi yang semakin memburuk, Rukiah kembali ke tanah kelahirannya di Purwakarta. Setelah lepas dari Tahanan, ia berhenti menjadi penulis dan mengubur dalam-dalam kemampuan sastranya, dan memilih menjadi pembuat kue untuk membiayai kehidupannya.

Tak kalah kejamnya dengan politik negeri waktu itu, dunia sastra pasca 65 juga turut menguburkan namanya. Rukiah awalnya tercantum dalam antologi sastra Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi yang ditulis oleh H.B. Jasin, yang kemudian hilang di edisi pasca ’65. Hingga akhir hayatnya pada 1996 di Purwakarta, ia tak pernah menjadi seorang pionir perempuan dalam sastra Indonesia.

Salah satu karya yang akhinrya mampu kita baca kembali salah satunya adalah Kejatuhan dan Hati yang pernah diterbitakan oleh Pustaka Rakjat,Jakarta pada tahun 1950, dan kini diterbitkan oleh Ultimus, Bandung pada tahun 2017. Diterbitkannya kembali karya-karya klasik sastra Indonesia ini harus ditanggapi dengan gembira, pasalnya naskah klasik sastra Indonesia ini semacam pemaparan bukti secara melengkung, bagaimana sejarah bisa dituliskan bukan sebagai berita saja, namun juga sebagai cerita. Persis seperti apa yang dilakukan oleh Pramoedya Ananta Toer dengan Tetralogi Pulau Burunya. Rukiah menceritakan tentang keadaan politik di masa itu dengan gaya tutur yang naratif dan dengan diselipi tentang asmara.

Susi, nama itu yang menjadi lakon yang dipilih Rukiah sebagai penutur ceritanya. Seorang anak bungsu dari tiga bersaudara yang mana dari mereka adalah perempuan semua. Kakak pertama Susi adalah Dini, ia menjadi bulan-bulanan ibunya, pasalnya karena Dini kurang menarik sebagai perempuan. Tubuhnya yang gemuk dan keras kepala menjadi masalah yang terus menerus diungkit oleh ibunya, sebelum pada akhirnya selepas ia menamatkan sekolah ia pergi, untuk “kawin dengan pekerjaannya” tutur Lina saat bercerita kepada Susi yang akhirnya kembali ke rumah. Memang si Bungsu pergi kemana? Tunggu dulu, sebelum ke si Bungsu, ada baiknya kita mengetahui kakak ke dua dari Susi. Perempuan ini bernama Lina, ia adalah yang paling disayang dan dimanja oleh ibunya. Alasannya adalah karena Lina adalah perempuan yang diharapkan oleh Ibunya, perempuan yang menari hati lelaki, pandai bersolek, dan mampu mendapatkan lelaki yang mampu menjamin hidup istrinya.

Si bungsu ini adalah anak yang pendiam, karena ia kasihan kepada kakaknya Dini, namun membenci pula kepada Lina. Ia tak mampu jika harus bicara dan mengungkapkan perasaannya. Ia hanya bisa diam dan menyimpannya dalam hati. Selepas kedua kakaknya pergi dari rumah bersama kehidupannya, ia pun melakukan hal yang sama, di usianya yang ke dua puluh ia memilih untuk keluar dari rumah dan bergabung dengan regu Palang Merah untuk melampiaskan keadaan rumah yang tak membuatnya nyaman akibat perjodohan.

Dalam regu Palang Merah itu ia bertemu dengan seorang dokter muda, namanya Rustam yang akhirnya nanti akan menyakiti hati Susi dan membuatnya keluar dari regu Palang Merah, karena melihat Rustam berjalan dengan istrinya. Selepas dari regu Palang Merah itu, ia memilih bergabung denga  pergerakan Puteri dan menjadi penulis gerakan buruh wanita. Gerakan ini memang sudah mendapat stigma dari masyarakat sebagai pemberotak karena haluan politiknya yang berpedoman pada komunisme. Di dalam gerakan yang penuh juang dan darah inilah, kisah cintanya yang baru juga hendak diperjuangkan.

“Aku cinta kepadamu. Tapi juga cinta komunisme,” kata Lukman kepada Susi. Ya, Lukman yang akhirnya menjadi sandaran hati Susi berikutnya. Kisah cinta ini pun tak mulus akibat, kondisi politik yang mencekam. Bagaimana tidak mencekam apabila, kondisi saat itu benar-benar tak sudi dengan komunisme, alhasil Lukman menjadi seorang buron.

Karena kondisi mencekam itu, akhirnya Susi memutuskan untuk kembali ke rumah, dan bertemu dengan orang tuanya. Ia bertemu kembali dengan ibunya, perempuan yang benar-benar memberi tekanan kepada hidupnya selama hidup dengan aturan-aturan dan perjodohan. Susi pun kembali bertemu dengan Par, seorang lelaki yang dijodohkan dengannya. Ia kemudian menikah dengan Par, dan dikarunia seorang anak laki-laki yang ia beri nama Lukman. Ada yang aneh? Iya, memang Susi melahirkan di usia perkawinannya yang masih tujuh bulan. Lukman kecil itu merupakan buah cintanya dengan Lukman yang sedang dalam pelarian.

Di akhir cerita Lukman datang kepada Susi dan mengungkap segala rahasia dan cintanya. Mengajak ia lari dari rumah dan suaminya. Namun Susi menolak, karena ia tak ingin lagi berbohong dan berdusta.

Gaya tutur yang dipakai oleh Rukiah adalah orang ketiga serba tahu, ia menceritakan detail-detail kondisi sekitarnya, Purwakarta. Bagaimana kondisi politik Indonesia pada saat itu dan cara-cara yang dilakukan untuk menyingkirkan kaum komunisme di masa itu. Bagaimana pengajaran filsafat dilakukan di rumah-rumah oleh ayah atau ibu di rumah. Sebuah budaya literasi yang tergerus di era sekarang.

Paparan-paparan cerita yang disampaikan Rukiah merupakan keresahan penganut feminisme pada umumnya. Perihal menikah, penampilan, dan segala yang membuat adanya ketimpangan antara lelaki dan perempuan. Naskah ini juga penting, untuk mengetahui bagaimana gerak budayawan lekra melalui karya-karya mereka.

Rukiah begitu piawai dan sabar dalam memberikan ruang pembaca untuk bernafas beristirahat juga tergesa-gesa untuk segera mengetahui apa permasalah yang dihadapi oleh para tokoh. Dan memang betul tradisi para seniman Lekra menanamkan ideologi mereka dalam karya-karyanya. Tokoh Susi digambarkan Rukiah sebagai perempuan yang membenci segala ideologi, namun ia selalu dikelilingi oleh orang-orang yang idealis. Contoh kecilnya dari laki-laki yang menjadi kekasihnya, Lukman yang berideologi komunis dan Par yang setelah menjadi suami Susi bergabung dengan PNI (Partai Nasionalis Indonesia).

Namun sayangnya, karena menjaga keaslihan naskah ini, editor tak mengubah tanda (—) sebagai pembuka kalimat langsunng atau percakapan dengan tanda (“….”) sehingga mengurangi kenikmatan membaca. Juga cover, tampilannya begitu kurang menarik jika dibandingkan dengan naskah-naskah klasik yang diterbitkan ulang. Namun secara keseluruhan prosa dari Rukiah ini pantas untuk dimiliki sebagai penambah wawasan penulis klasik selain Pramoedya Ananta Toer yang mahsyur, ia adalah S. Rukiah.

Membaca Kejatuhan dan Hati, mengingatkan saya kepada Leo Toltstoy. Kisah yang ia tuturkan dipenuhi dengan konflik-konflik yang berurusan dengan keluarga. Kesabaran membaca itu pun terjawab, ia menyertakan nama Toltstoy dalam ceritanya. Tampak betul jika Rukiah memang dipengaruhi oleh Toltstoy. Namun kepiawaiannya dalam mengolah cerita, tak menjebaknya sebagai Toltstoy a la Indonesia. Rukiah tetap Rukiah, perempuan yang menuturkan keresahan akan budaya dan politik di sekitarnya melalui novel yang ada ditangan saya ini.

  •  

Judul: Kejatuhan dan Hati

Penuilis: S. Rukiah

Penerbit: Ultimus

Tebal: xviii+102 hlm



2 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: