Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Menyemai Anggrek Setan Menyingkap Misteri Pusaka Suksesi Keraton Yogyakarta

Menyingkap Jati Diri Al-Qur'an

Fadhli Lukman
Description
Sejak kapan mereka mengetahui bahwa lantunan wahyu yang disampaikan Nabi Muhammad ternyata bukan sya'ir seperti yang biasa mereka hadapi, melainkan sebuah kitab suci baru yang berasal dari Tuhan?
Stock: Tersedia

Kategori : Agama dan Filsafat

Apakah Nabi Muhammad tahu bahwa al-'Alaq yang ia terima di gua Hiras adalah Al-Quran pada saat peristiwa itu terjadi? Apakah kaum Quraish tahu bahwa apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad kepada mereka adalah Al-Quran? Sejak kapan mereka mengetahui bahwa lantunan wahyu yang disampaikan Nabi Muhammad ternyata bukan sya'ir seperti yang biasa mereka hadapi, melainkan sebuah kitab suci baru yang berasal dari Tuhan?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah apa yang ingin dijawab oleh buku ini. Bukan untuk mempertanyakan apalagi menolak status transendensi Al-Quran sebagai kitab suci atau wahyu, pertanyaan-pertanyaan tersebut meneropong pengetahuan bangsa Arab tentang kemunculan Al-Quran dan bagaimana pengetahuan tersebut terbangun. Buku ini mengungkap bahwa Al-Quran sendiri secara aktif memainkan peran sebagai agen bersama Nabi Muhammad untuk menciptakan pengetahuan baru di tengah masyarakat Arab ketika itu tentang keberadaan sebuah kitab suci baru yang bernama Al-Quran.

Buku ini merupakan upaya untuk melihat bagaimana perjuangan AlQuran menciptakan identitasnya di antara dua kutup besar ahl al-kitáb dan ummiy. Objek material difokuskan kepada penggunaan terma asma' al-qur'an yang disusun secara tartib al-nuzuli. Penelaahan ini mengungkap bahwa penggunaan-penggunaan terminologi asmas al-Qur'an; al-qur'án, al-kitab, alzikr, dan al-furqán dalam Al-Quran bekerja dengan mekanisme tertentu, yang dengannya Al-Quran memperkenalkan identitasnya sebagai kitab suci baru di tanah Arab ketika itu. Dengan mekanisme tersebut, Al-Quran membutuhkan waktu yang tidak terlalu lama untuk mengokohkan eksistensinya sebagai sebuah kitab suci baru di dunia Arab. Kira-kira sebelum peristiwa pemboikotan Banú Hásyim, penduduk Makkah telah mengakui eksistensi Al-Quran sebagai kitab suci tersendiri, meskipun sebagian mereka tidak mengimaninya.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Agama dan Filsafat
ISBN : 9786026694423
Ketebalan : xxiv+170 hlm | Bookpaper
Dimensi : 14x21 cm l Softcover
Bahasa : Indonesia, 2018
Stock: Tersedia
Penerbit: Bening Pustaka
Penulis: Fadhli Lukman
Berat : 300 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by