Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Menyudahi Pendidikan Penyebar Rasa Benci

Oleh: Giovanni A. L Arum         Diposkan: 06 Apr 2019 Dibaca: 1472 kali


Negara kita sedang ada dalam ancaman keterpecahan sosial. Pelbagai konflik bernuansa SARA mulai mengemuka dan melukai kebersamaan kita sebagai suatu bangsa. Kebencian dan penolakan terhadap perbedaan tumbuh subur bagaikan sel kanker yang menggerogoti tubuh masyarakat. Sesama yang lain dianggap sebagai musuh yang mengancam eksistensi diri. Orang yang berbeda agama, suku, ras, pikiran, bahkan pilihan politik pun dianggap sebagai musuh yang harus dinegasi keberadaanya.

Fenomena sosial ini seakan menunjukkan gejala heterophobia; ketakutan akan yang lain. Lantas, kita bertanya bagaimanakah mungkin kesejahteraan umum (bonum commune) di negara kita dapat terwujud jika penyakit sosial ini begitu masif menyerang masyarakat? Bukankah kita negera yang dibangun di atas perbedaan?

Memeriksa Pendidikan

Pendidikan dari kodratnya terarah pada pemanusiaan manusia. Dalam dan melalui pendidikan, seorang manusia diasah kemampuan cipta, rasa dan karsanya menuju kematangan pribadi yang utuh. Pendidikan menyangkut totalitas hidup manusia. Paulo Freire bahkan pernah mengkritsi pola pendidikan a la  bank yang hanya menekankan transfer pengetahuan tanpa memperhatikan dimensi kebebasan peserta didik. Praktek pendidikan yang hanya menekankan aspek intelek dan abai pada dimensi emosional dan spiritual akan menciptakan generasi manusia yang timpang dalam masyarakat.

baca juga: Mengobati Lumbung Kebosanan Hidup

Sekolah merupakan the second home; rumah kedua bagi tiap peserta didik. Dengan demikian, tiap warga sekolah merupakan the second family; keluarga kedua bagi tiap peserta didik maupun pendidik. Dalam proses belajar-mengajar, tidak hanya terjadi transfer pengetahuan mekanis dari guru kepada peserta didik. Belajar-mengajar adalah bentuk dialog kasih.

Hal ini telah disinggung oleh ahli pendidikan Antonia Darder dalam bukunya “Reinventing Paulo Freire; A Pedagogy of Love” yang mana ia melihat pendidikan sebagai tindakan kasih, teaching as an act of love. Guru tidak hanya menumpahkan pengetahuan pada gelas-gelas kosong. Ia sedang berhadapan dengan pribadi-pribadi. Dalam konteks keluarga, guru adalah orang tua yang mendidik dan memperhatikan peserta didik sebagai anak-anaknya.

Selain itu, sekolah pada dasarnya juga merupakan ruang publik. Dalam dan melalui sekolah, pendidik dan peserta didik menhadapi realitas perbedaaan baik agama, ras, suku dan lain sebagainya. Dengan demikian, sikap etis penghargaan terhadap perbedaan harus dibangun di sekolah sebagai taman pendidikan.

baca juga: Omong Kosong Memang Menyenangkan

Sungguh ironis jika di lingkungan sekolah dibangun suasana yang abai terhadap perbedaan. Bahkan, ada praktek “indoktrinasi negatif” bagi anak-anak didik untuk menganggap orang-orang yang berasal dari kelompok berbeda (agama, suku, ras dan lain sebagainya) sebagai musuh yang boleh bahkan harus dibenci. Inilah patologi dunia pendidikan kita.

Mendesaknya Pendidikan Multikultural

Dewasa kini, tujuan pendidikan tidak lagi terarah ke dalam diri dan komunitas sendiri (ad intra) melainkan juga mengarahkan peserta didik ke dunia di luar diri dan komunitas (ad extra). Secara singkat, tujuan pendidikan adalah keterbukaan terhadap yang lain (l’Autrui- meminjam istilah Filosof Emanuel Levinas) dan kesanggupan untuk mengolah setiap perbedaan. Tujuan ini hanya akan tercapai jika semangat toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan manjadi spirit yang menggerakkan sistem pendidikan nasional kita.

Pendidikan yang sesuai dengan suasana sosial-politis negara kita adalah pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural mengajarkan dan mendidik peserta didik untuk terbuka dan menghargai perbedaan. Sikap belajar yang terbuka, kritis, aktif dan kreatif merupakan pilar-pilar dasar pendidikan multikultural. Dengan demikian, pendidikan multikultural perlu menjadi jiwa pendidikan nasional kita yang krisis akan toleransi.

baca juga: Kehilangan Kosa Kata, Kekasih

Kita perlu sadar bahwa praktek “indoktrinasi negatif” yang berlangsung di wilayah sekolah, baik secara terbuka maupun terselubung sangat mempengaruhi lapisan kesadaran peserta didik untuk membangun stigma negatif terhadap sesama yang berbeda dengannya. Anak dilarang untuk mempelajari sejarah, kultur, tradisi dari bangsa, agama atau etnis lain. Palarangan ini tentu akan berdampak pada melemahnya cita rasa penghargaan akan perbedaan.

Yang paling berbahaya adalah “penanaman rasa benci” yang dibangun atas supremasi ideologi agama. Wilayah sakral ini acapkali diperalat oleh oknum-oknum tertentu untuk menyebarkan benih-benih kebencian. Dengan dalil kebenaran agama mutlak, peserta didik diarahkan untuk melihat sesama yang beragama atau berkeyakinan lain sebagai orang asing, musuh atau kafir dalam pengertian yang sangat negatif. Hal ini akan semakin buruk bila anak-anak didik berasal dari latar belakang keluarga yang tertutup dan radikalis dalam penghayatan agama.   

Pendidikan multikultural juga mengajarkan tiap peserta didik untuk terbuka pada narasi sejarah yang lain. Kita harus memperluas membongkar keterkungkungan pikiran yang picik. Banyak anak didik dalam konteks pendidikan di negara kita seakan diarahkan dan diindoktrinasi untuk merasa superior dengan peradaban sendiri. Dampaknya, mereka akan mengafirmasi komunitas dan lingkungannya sebagai yang lebih ideal dari komunitas atau lingkungan yang lain. Padahal, pendidikan sejati menghantarkan semua manusia pada persaudaraan sejati.

baca juga: Tukang Sadap Kepala Itu Bernama Dea Anugrah

Mengenal sejarah yang lain mengandaikan juga kesanggupan untuk mengenal ragam bahasa dan ekspresi kebudayaan yang lain. Horizon bahasa membuka horizon kita tentang dunia. Bahasa adalah jembatan menuju dunia sebagaimana yang telah dikredokan oleh Gadamer:”memiliki dunia dan memiliki bahasa” (Welt-haben und Sprache-haben). Jika kita ingin memahami dengan baik dan benar realitas etnis, agama, kelas-kelas ekonomi, dan politik komunitas tertentu, maka kita perlu memahami dengan baik ekspresi berbahasa komunitas tersebut. Dan hal ini hanya mungkin tercapai bila ada itikad baik untuk berdialog. Sebab belajar berbahasa berarti juga berlajar memahami dan memasuki dunia kehidupan orang lain.

Agenda Bersama

Kita tentu mengakui bersama bahwa pendidikan merupakan pilar sentral yang menopang kualitas hidup bersama. Orientasi pendidikan yang sejati memang terarah pada pengolahan cita rasa kemanuisaan. Pendidikan haruslah menghargai nilai-nilai martabat manusia yang luhur. Dengan kata lain, pendidikan haruslah humanis.

Menghadapi fakta multikulturalisme, pendidikan nasional kita harus mampu mengartikulasikan dirinya dalam konteks kemajemukan. Artinya, fakta adanya perbedaan yang riil seperti: suku, ras, agama, dan lain sebagainya membutuhkan preferensi sikap etis untuk mengolah perbedaan itu dalam konteks cita rasa kemanusiaan. Sekolah tidak boleh menutup diri dan mensterilisasi dunianya dari pengakuan terhadap kemajemukan. Menanamkan nilai-nilai toleransi aktif yang menyata dalam konteks kehidupan sosial yang beragam menjadi panggilan luhur lembaga pendidikan untuk mengupayakan spirit bhineka tunggal ika.

baca juga: Obsesi Busuk Nuran Agar Kamu Melupakan Nirvana

Sekolah harus menjadi taman indah yang ditumbuhi beraneka ragam tanaman hias. Pendidikan multikulturalisme merawat generasi penerus bangsa untuk tidak menganggap sepi fakta perbedaan sebagai bentuk kekayaan. Rantai kebencian dan indoktrinasi negatif yang telah menyusupi dinding-dinding sekolah perlu diputuskan. Narasi perdamaian perlu menjadi narasi utama dalam kehidupan pendidikan di negara kita yang tercinta.

Untuk mewujudkan hal ini, perlu peran aktif seluruh elemen bangsa Indonesia. Pendidikan adalah rumah kita bersama. Akselerasi dalam dunia pendidikan perlu didukung oleh pelbagai elemen masyarakat. Saling menuduh dan melempar tanggung jawab hanya akan menjadi lingkaran setan yang terus membelenggu kita untuk terjebak dalam bahaya perpecahan. Semoga gaung pendidikan multikultural ini dapat menggetarkan kesadaran pelbagai pihak, khususnya yang terlibat langsung dalam dunia pendidikan untuk terus mengupayakan perdamaian demi bonum commune.

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: