Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Arena Produksi Kultural Sebuah Kajian Sosiologi Budaya

Beberapa tahun dipenjara, mengalami tekanan selama menjadi tahanan politik, bahkan saat bebas pada tahun 1970 berjuang menyambung hidup dengan stempel eks Tapol. Ingatan kelam masa lalu Soeharso, sang penulis sekaligus penyintas tragedi '65, masih selalu membayang hingga kini. Sebagai staf Menteri Negara Oei Tjoe Tat, S.H., ia masih menyimpan rekaman ingatan yang kuat terkait Tragedi '65 dan perjumpaannya dengan tokoh-tokoh kunci, seperti Oei Tjoe Tat dan Nyoto menjelang dan pasca-G30S. Soeharso juga masih bertanya-tanya mengapa dirinya dihukum tanpa melewati proses pengadilan. 

Negara belum serius benar menulis kembali sejarah Peristiwa Berdarah yang sudah dinyatakan pelanggaran HAM berat oleh Komnas HAM. Upaya rekonsiliasi justru hadir dari putra-putri korban dan pelaku yang terwadahi dalam Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB). Secara pribadi, Soeharso merasa terhibur, kembali optimis, dan mengapresiasi langkah generasi muda dalam FSAB tersebut yang dengan rendah hati menyadari perlunya merajut silaturahmi dan berani menyuarakan menolak warisan buruk orangtua mereka demi menjaga keutuhan NKRI.

Buku ini ditulis dengan dilandasi semangat untuk keluar dari peristiwa kelam tahun 1965 yang berujung pada besarnya korban dari pihak mana pun. Diharapkan, negara hadir dalam mewujudkan rekonsiliasi dari FSAB tersebut sehingga kerukunan dan kedamaian benar-benar dirasakan dan tidak ada lagi konflik baru yang menyeret-nyeret Tragedi Kemanusiaan '65.

Selamat Membaca dan Merdekalah...


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Tokoh dan Sejarah
ISBN : 9786028620598
Ketebalan : xii + 222 hlm | HVS
Dimensi : 15 x 23 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Tersedia
Penerbit: Best Publisher
Penulis: Soeharso
Berat : 200 gram
Product Tags:

Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by