Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

MERAPI MELETUS BERTEPATAN DENGAN WETON SAYA

Oleh: Cep Subhan KM         Diposkan: 26 Sep 2018 Dibaca: 1528 kali


MERAPI meletus bertepatan dengan weton saya, dan saya seolah mendengar dia menjeritkan kalimat yang tak jelas yang mengandung kata jepit.

Sebenarnya inilah keadaan saya seminggu menjelang Merapi meletus bertepatan dengan weton saya: tiap mendengar kata jepit, baik itu dirangkai dengan kata rambut, diberi awalan pe- dan dirangkai dengan kata kertas, ataupun lain-lain, saya selalu teringat pada mimpi saya.

Celakanya, sebagaimana biasa terjadi pada mimpi-mimpi yang lain, mimpi saya itupun berakhir menggantung dan tak bisa saya ingat sepenuhnya ketika saya sudah terbangun. Singkatnya, ketika saya mengatakan bahwa jepit selalu mengingatkan saya pada mimpi saya, maka itu sebenarnya terlalu dibesar-besarkan—saya mahasiswa Sasindo, Sastra Indonesia, jadi maklumlah, saya calon sastrawan atau minimal kritikus sastra, dan sebagai seorang junior, saya merasa harus meniru senior-senior saya dalam hal membesar-besarkan sesuatu sehingga kelihatan dan kedengaran lebih  besar dari kenyataannya—sebab yang bisa saya ingat hanyalah mimpi tanpa ujung yang jelas, dan tak ada kepastian sampai sejauh mana ingatan saya memang sesuai dengan isi mimpi saya sebenarnya.

Saya sudah lama ingin menceritakan isi mimpi saya itu kepada Anda, tapi itulah, tiap kali keinginan itu muncul, kala itu pula saya ragu-ragu: siapa pula yang ingin mendengar cerita yang tak selesai? Siapa pula yang mau mendengar kisah yang pengisahnya sendiri tak yakin bagaimana tepatnya kisah itu sebenarnya?

Kemudian Merapi meletus bertepatan dengan weton saya.

Perlu saya jelaskan bahwa saya adalah penganut ajaran Majunisme. Mengenai aliran ini sendiri saya hanya bisa menjelaskan seperti ini: aliran ini memiliki banyak penganut di daerah pinggiran Jawa Tengah dan di Yogya, mengaku memiliki ajaran mirip Kejawen tanpa pernah jelas sisi sebelah mananya, dan di Yogya ini ada persatuan yang disebut IPPM: Ikatan Pemuda-Pemudi Majuniyah, umatnya kebanyakan mahasiswa, ketuanya sekarang bernama Adi Fifa Inormaz Kirikasu.

Ia adalah teman akrab saya.

Ia adalah orang pertama yang mengusik saya dengan kenyataan bahwa meletusnya Merapi ternyata bertepatan dengan weton saya.

Ia pulalah yang kemudian mengingatkan saya bahwa dalam ajaran Majunisme ada kepercayaan seperti ini: jika sebuah kejadian besar terjadi bertepatan dengan wetonmu, maka kau harus berdiri di pusat kejadian itu, sebab itu menandakan bahwa kamu harus diruwat berdasarkan dua alasan: kamu telah melanggar peraturan Yang Maha Hayat dengan berbuat maksiat, dan karena kejadian itu timbul karena perbuatanmu, maka kamu telah merebut posisi-Nya sebagai penimbul semua kejadian.

Saya kemudian menangis sejadi-jadinya di hadapannya, sebab siapapun pasti setuju bahwa letusan Merapi yang terjadi bertepatan dengan weton saya itu adalah sebuah kejadian besar. Setelah kesimpulan itu didapat, maka ajaran bahwa saya harus berdiri di pusat kejadian berarti saya harus melarung diri saya di kawah Merapi.

Dengan kata lain, saya harus menjadi tumbal. Kalau tidak, maka setiap tujuh tahun sekali kejadian itu akan terulang. Saya tentu saja tak tahu kenapa angkanya harus tujuh, tapi saya sudah telanjur percaya sehingga tak merasa wajib mencari tahu.

Setelah agak tegar, dengan petunjuk dari Adi Fifa Inormaz Kirikasu, teman saya yang sekarang merupakan ketua IPPM itu, saya kemudian melakukan banyak persiapan: meminta petunjuk dari seorang teman pecinta alam mengenai jalur tercepat menuju kawah Merapi, tentu tanpa memberitahukan niatan saya yang sebenarnya, menulis sepucuk surat perpisahan untuk ayah dan ibu di kampung, dan membayar uang listrik kosan saya buat bulan depan.

Kemudian saya merasakan bahwa masih ada satu hal yang harus saya lakukan: saya belum menceritakan apa yang telah saya lakukan yang membuat Yang Maha Hayat murka. Saya khawatir jika saya tak menceritakannya pada siapapun, akan banyak orang-orang yang melakukan apa yang telah saya lakukan. Bagaimana jika kemudian hal itu menyebabkan Merapi tak berhenti meletus? Bagaimana jika tujuh tahun kelak muncul bencana besar yang lain?

Hari ketika saya merasa khawatir itu adalah hari ketika saya menetapkan hati bahwa saya harus menceritakan mimpi saya. Hari ini.

Hal yang paling saya ingat dari mimpi saya adalah bahwa mimpi saya itu dimulai dengan satu pesan Whatsapp dari seorang wanita yang merupakan teman saya. Bunyinya begini:

Lapar.

Saya kemudian membalas begini: “Makan yuk.”

Ayo.

Kemudian berlanjutlah beberapa balas-balasan antara saya dan dia:

“Ntar kujemput, aku mandi dulu.”

Aku saja yang ke tempatmu.

“Oke.”

Pasti lama kan mandinya?

“Enggak.”

Enggak salah?

“Kalau begitu cepat ke sini mandikan aku.”

Aku yang jadi sabunnya. :-p

Saya tak membalasnya sebab pesan terakhirnya itu membuat saya benar-benar merindukan kamar mandi dengan segera. Kamar mandi dengan sepotong sabun. Wangi.

Dia, wanita yang mengirimi saya pesan, bernama Anjani. Anjani Sanggarwati Kusumaningrum. Entah apapula arti namanya itu, bagi saya itu tak penting sebagaimana bagi saya tak penting pula menanyakan kenapa teman saya yang menjadi ketua IPPM bernama Adi Fifa Inormaz Kirikasu, dan karena saya merasa demikian, maka Anda pun harusnya merasa demikian pula. Pokoknya di Kartu Keluarga, Akta Kelahiran, KTP, dan KTM, namanya memang demikian.

Ia blasteran Sunda-Jawa. Ayahnya orang Pekalongan, ibunya dari Pangandaran.

Wajahnya cantik, setidaknya itu jika kecantikan diukur dengan kemancungan hidung dan adanya lesung pipit di pipi. Bibirnya agak tebal, dagunya belah. Syahdan pula, karena ia adalah gadis dari keturunan pekerja keras, maka ia mewarisi tipikal tubuh gadis-gadis desa yang tiap jam enam pagi membawa sekeranjang cucian dari rumah ke sungai yang jaraknya setengah kilometer dan pulang pada jam delapan: payudaranya besar, bokongnya mantap.

Tentang payudara besar, mbakyu saya selalu bilang begini: payudara itu lemak, lemak itu bau, jadi semakin besar payudara, semakin bau pula ia.

Itu ia ucapkan pertama kali ketika memergoki saya sedang memelototi potret Dolly Parton yang sudah uzur itu memakai baju Pramuka di koran lokal. Konon ia dijadikan anggota kehormatan di desanya yang entah di mana pula tepatnya. Baju pramukanya menggembung dengan sangat fantastis di bagian dada.

baca juga: Surat-Surat Intim John Lennon

Sebetulnya sebelum melihat potret itu pun saya sudah memiliki satu kebiasaan: saya suka perempuan-perempuan gagah seperti polwan dan sering membayangkan bercumbu dengan mereka dalam sebuah percintaan yang liar. Ingat, baju pramuka mirip dengan baju polwan, tak harus menjadi mahasiswa Sastra Indonesia untuk tahu hal itu.

Ketika itu saya berusia sepuluh tahun, dan saya sangat suka lemak, terserah ia bau atau tidak.

Saya kira mbakyu saya juga mengucapkan demikian karena ia iri sama si Dolly: tubuhnya kurus, dan di mana-mana cewek kurus dadanya cenderung rata. Julukannya di SMP dulu adalah si triplek, dan Anda pun tahu triplek produksi manapun tak ada yang pantas memakai beha.

Begitulah, payudara Anjani ini besar, sebesar punyanya Dolly Parton.

Tak perlu  saya ceritakan apa yang saya lakukan di kamar mandi, yang jelas apapun itu pasti telah menghabiskan waktu demikian lama, sebab ketika saya sampai ke kamar setelah melakukan beberapa langkah gontai, saya menemukan Anjani sedang menunggu di ambang pintu kamar.

“Cepat banget?” Saya bertanya dengan tangan memegang bagian atas handuk yang melilit pinggang.

“Kamu tu yang lama.” Semprot dia sambil melotot. “Cepetan, aku laper.”

“Sabar, masa aku pake handuk doang. Sana keluar dulu, aku pake celana dulu.”

Ia malah mendekati saya, dan berbisik dengan nada menggoda:

“Sama pacar sendiri kok malu-malu?”

Begitulah, maaf saya tadi mengatakan Anjani adalah teman saya. Sebenarnya dia adalah pacar saya, tapi memang pada awalnya dia adalah teman. Jadi setidaknya saya tidak terlalu bohong pula.

Setelah beberapa ciuman yang lama, ketika tangan saya kelayapan dengan liar di tubuhnya, saya merasa menyesal kenapa tadi saya lama di kamar mandi. Tentunya Anda yang pernah muda tahu alasan kenapa saya merasa seperti itu, jadi saya tak perlu menjelaskan lebih lanjut.

Saya tak tahu apakah tangan saya, atau tangan Anjani, atau tekanan dari benda yang ada di antara celah paha saya yang membuat handuk saya melorot. Saya juga tak bisa menjelaskan kenapa tiba-tiba saya sudah berbaring di atas tubuhnya, yang saya tahu dengan pasti adalah ia tiba-tiba berbisik dengan wajah seolah ia adalah seorang petinju wanita yang urung babak belur karena gong telah berbunyi:

“Aku sedang mens.”

Saya memandangi wajah berlesung pipit itu dengan sedih. Saya sebenarnya sedih karena saya tadi sudah terlanjur menyesali kenapa saya tadi lama di kamar mandi, tapi ia sepertinya mengira saya sedih karena ia seolah sengaja merangsang saya sedemikian jauh kemudian setelah saya terangsang ia berkata seperti itu seolah sebuah balas dendam karena saya telah membuatnya menunggu tadi.

Seolah saya sedih karena ia permainkan.

Ia tampaknya kemudian merasa harus menghibur saya, jadi ia berkata tentang bajunya yang belum dibuka dan mengenai jepit-menjepit.

Kemudian, sebagaimana biasa terjadi pada mimpi-mimpi yang lain, mendadak melintas bayangan wajah ibu kos saya: seorang wanita setengah baya yang memiliki tahi lalat di bawah mata. Tak seperti Anjani, ia tak memiliki lesung pipit.

“Jepit-menjepit adalah permainan yang sehat, sebab ia tak beresiko apapun,” itu kata ibu kos saya ketika malamnya saya duduk di depannya, sendirian, dengan wajah tertunduk. Ruang tamunya bau baju yang lama direndam dalam deterjen. “Meski demikian, itu tetap asusila,” tambahnya.

Kemudian, sebagaimana tidak biasa terjadi pada mimpi-mimpi yang lain, mimpi saya mengalami alur mundur.

Apa yang membuat saya malam itu duduk di hadapannya adalah karena saya sudah saatnya membayar uang listrik bulanan, dan seperti biasa ibu kos saya mendatangi tiap kamar anak kosnya, termasuk saya. Tepat ketika itulah saya sedang bermain jepitan dengan Anjani setelah ia mengatakan bahwa dirinya hari itu sedang menstruasi, sedang saya sudah telanjur terangsang.

Ia, ibu kos saya itu hanya membuka pintu kamar, sedikit hening, kemudian ia berkata, “nanti malam setelah magrib kamu temui ibu, Dra.”

Nama saya memang Indra Lesmana. Kata bapak saya nama itu diambil dari serat Wulangreh. Saya tak tahu itu benar atau tidak, umat Majuniyah tidak baca Serat Wulangreh.

Setelah itu ia pergi. Ia, ibu kos saya.

Saya berdiri dan menggapai Cardinal belel saya yang tergantung di kapstok.

“Gak diterusin, Dra?” Anjani masih berbaring. Payudaranya besar, sebesar punyanya Dolly Parton.

Saya menjawab sambil membungkuk memasukkan mulut celana ke ujung kaki, “katanya lapar, ayo kita makan.”

Sore itu kami habiskan untuk berjalan-jalan ke Malioboro, membeli sebuah pemantik berornamen tengkorak. Saya sampai lupa apakah saya harus menyesali atau tidak kenapa tadi saya merasa menyesal bahwa saya berlama-lama di kamar mandi.

baca juga: Kisah Wilde dan Sembilan Kisah Lain

“Ibu tahu, tamu laki-laki atau pria, maksud ibu laki-laki atau wanita, tak wajib lapor, tapi itu tak berarti kamu bebas melakukan hal seperti tadi.” Suara ibu kos saya kembali terdengar. “Ibu bisa melaporkanmu ke Pak RT, tapi karena selama ini kamu selalu membayar uang listrik tepat waktu, ibu rasa ibu masih bisa mempertimbangkannya.”

Saya mengangkat wajah, dan dia menyodorkan gelas teh, “sambil diminum, Dra,” ucapnya.

Saya meminumnya.

“Tentu saja ibu memiliki beberapa syarat.”

Saya meletakkan gelas teh di meja.

Saya menatapnya.

*

Mimpi saya berhenti sampai di situ. Jadi, sia-sia sajalah jika Anda ingin tahu apa sajakah syarat yang kemudian diajukan oleh ibu kos saya sebagai ganti saya tidak dilaporkan ke Pak RT gara-gara main jepitan dengan Anjani. Ini bukan masalah ingatan, tapi memang demikian adanya sebagaimana sering saya bilang: sebagaimana biasa terjadi pada mimpi-mimpi yang lain.

Dengan berakhirnya mimpi saya di sana, apakah itu berarti selesai pulalah apa yang ingin saya ceritakan mengenai apa yang telah membuat Yang Maha Hayat murka? Tentu saja belum, sebab saya sendiri merasa tidak lengkap jika saya tidak menceritakan bahwa mimpi itu selesai sampai di situ sebab saya keburu terbangun dan mendapati diri saya dalam keadaan seperti ini:

Saya ternyata tertidur seperti biasa di atas kasur saya, kasur lantai seharga tiga-ratus-lima-puluh-ribu rupiah setahun yang lalu. Jam dinding menunjukkan jam satu malam lewat sekian menit. Kipas angin menyala di angka dua. Rokok Dji Sam Soe kretek saya tak jauh dari asbak dan pemantik berornamen tengkorak.

Kemudian ini: selimut saya tak menutupi tubuh saya yang bugil. Anda harus tahu bahwa saya sebenarnya tak memiliki kebiasaan tidur bugil meski sepanas apapun udara Yogya. Sampai di sini Anda harusnya bertanya-tanya seperti saya ketika itu: jika selimut saya tak menutupi tubuh saya, lantas ke mana perginya benda apak berwarna merah itu?

Udara dingin meruap. Saya matikan kipas angin kemudian tubuh saya menyelinap, ke balik selimut yang menutupi tubuh seseorang di atas kasur, di samping saya.

Tubuh itu berbaring menyamping membelakangi saya. Jadi, saya lingkarkan tangan saya dari belakang melingkari pinggang. Saya elus perutnya yang terasa sedikit bergelombang. Saya kemudian bingung, apakah saya harus menggerakkan tangan saya ke atas dulu atau ke bawah. Akhirnya supaya adil, saya menggerakkannya ke atas lebih dulu: benjolan di dadanya lebih bergelombang daripada kulit perutnya.

Tubuh itu bergerak sedikit.

Saya kemudian menggerakkan tangan saya ke bawah, pusar, kemudian ke bawah pusar: mengusap-usap betah di sana. Ini baru namanya adil.

Tubuh itu kembali bergerak, kemudian berbalik menghadap saya.

Apa yang kemudian saya ingat dan ingin saya ceritakan kepada Anda adalah ini: saya menemukan wajah Anjani, tapi tak ada lesung pipit di pipinya. Saya menemukan wajah Anjani, tapi ada tahi lalat di bawah matanya.

Seminggu kemudian Merapi meletus bertepatan dengan weton saya.

*

  •  

Cep Subhan KM ,Lahir di Ciamis dan kini berdomisili di Jogja. Puisinya termuat dalam antologi penyair muda Ciamis Kota Menjadi Kata (Kentja, 2017) dan Hari Tanpa Nama (Tanda Baca, 2018).

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: