Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Merayakan Imajinasi

Oleh: Aristayanu BK         Diposkan: 30 Apr 2019 Dibaca: 1448 kali


Dengan gaji 2,5 dolar perminggu, Emma Goldman bekerja menjadi buruh jahit di pabrik Garmen. Tanpa penerangan, ia bersama perempuan lainnya mengayuh mesin jahit di Garson Co. itu sejak pagi hingga malam. Kebiadaban perusahaan yang berdiri di Rusia itu bukan hanya menindas dalam bentuk ekonomi saja—upah rendah dengan jam kerja yang tinggi. Namun, juga dalam bentuk seksual. Siapa saja yang merasa terhina atas kelakuan mandor dan bos, segera saja akan dipecat. Itulah saat Emma belum mengenal Anarkisme sebagai pandangan hidupnya, sebagai pembebas dan keyakinannya.

Singkat cerita ia pergi ke Amerika, makin lama ia makin paham, bahwa tak ada bedanya antara Tsarisme Rusia dan plutokrasi Amerika. Tak ada penguasa yang memiliki belas kasih pada bawahannya, sejak saat itu juga ia memilih untuk mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk mencapai emansipasi dari perbudakan upah.

Dalam bukunya Anarkisme: Apa yang Sesungguhnya Diperjuangkan, ia menuliskan:

“Kepuasan diri, seperti yang biasa dialami oleh orang-orang yang “berbudaya”, mereka tidak mengerti mengapa seseorang harus mempermasalahkan ribuan orang yang kelaparan, meski orang-orang ini yang berkontribusi terhadap kekayaan dunia.”

baca juga: Apa Yang Harus Dilakukan Mahasiswa Setelah Melihat Penindasan

Maka kita tahu, bahwa latar belakang Emma mendorongnya untuk menjadi pemerjuang kaumnya. Namun, persoalan buruh mulai memenuhi isi kepala Emma, selepas terjadinya perang yang dilakukan para ksatria ‘delapan jam kerja’ yang efeknya kita rasakan sampai saat ini. Gerakan ini begitu berpengaruh, bahkan di negara berkembang seperti di Indonesia.

Ketidaktepatan Sistem, Kerja Repetitif, dan Masa Depan

Seakan-akan berada di menara gading, melihat persoalan perburuhan, buruh adalah entitas individu yang makin hari makin tereksploitasi. Tuntutan delapan jam kerja yang diperjuangkan oleh para martir, juga telah membuat para bos untuk berpikir ulang tentang bagaimana cara untuk lemak dalam tubuhnya tidak mencair. Jam kerja memang semakin pendek, tapi tuntutan pemenuhan produksi, tidak. Bahkan, bergerak semakin tidak masuk akal.

Kini di negara berkembang seperti Indonesia, persoalan baru bagi buruh adalah tentang sistem yang tidak tepat, laju otomasi mesin, dan penghilangan peran buruh dalam lingkar produksi. Mula-mula, sistem outsourcing membuat perusahaan memiliki otoritatif lebih kepada buruh, perlakuan yang semena-mena atas buruh menjadi persoalan inti yang terus relevan sepanjang masa. Perusahaan dengan kontrak yang disediakan kerap kali melakukan pelanggaran berupa pengubahan kontrak dan pemutusan kerja.

baca juga: Melampaui Imajinasi Abad Ini

Selain sistem outsourcing yang dianggap tidak tepat karena merugikan buruh, laju otomasi mesin juga merupakan salah satu ancaman bagi kelangsungan hidup buruh. Pekerjaan yang dilakukan buruh adalah pekerjaan yang repetitif, yang mana ia berangsur-angsur dapat digantikan oleh mesin.

Hal ini yang kemudian ditangkap oleh para mekanik yang makin hari berlomba-lomba memperebutkan modal untuk menciptakan mesin yang paling efisien dan maksimal dalam melakukan pekerjaan. Di dukung dengan era Revolusi Industri 4.0 seperti sekarang, ancaman ini kian kentara dalam tubuh buruh. Kapitalisme, mendorong terjadinya Revolusi Industri 4.0 dengan basis data, kecepatan dan algoritma. Rangkaian dari ketiga hal tersebut dapat membuat mesin bekerja lebih baik dari manusia.

Jika melihat dari sisi historis Indonesia. Sejak zaman kolonial, pengetahuan kita tentang ilmu-ilmu sosio-humaniora memang dihambat dan hal serupa terjadi para era Orde Baru bahkan sampai saat ini. Andrew Goss dalam bukunya The Floracrats: State-Sponsored Science and the Failure of the Enlightenment in Indonesia tentang bagaimana Indonesia sebagai bangsa terjajah mahir melahirkan teknokrat yang tunduk kepada negara, termasuk pada pemodal.

baca juga: Sebuah Rumah Bergelimang Waktu

Dengan makin mutakhirnya teknologi sekarang, maka kerja-kerja repetitif buruh kian lama akan kian hilang. Revolusi Industri 4.0 ini memang merupakan momok yang menakutkan bagi buruh, terlebih juga bagi para teknokrat itu sendiri. Kemahiran eksakta manusia, akan dengan mudah digantikan oleh kerja-kerja mesin. Namun kita punya satu keunggulan sebagai manusia, kita memiliki imajinasi.

Masa Depan dan Imajinasi

Imajinasi memang hal paling sepele yang kita punya, dan sejauh ini hanya itu yang kita punya. Data dan algoritma memang adalah sistem dalam Artificial Intelegence yang mampu memperbaiki dirinya untuk menjadi makin sempurna dan mampu menyingkirkan kerja-kerja manusia. Kerja-kerja repetitif.

Membaca Anarkisme: Apa yang Sesungguhnya Diperjuangkan, seperti yang dikatakan Tim Amsyong sebagai penerjemah, bahwa kita tak akan selalu setuju maupun menolak gagasan yang ditawarkan Emma. Apa yang ditulis Emma adalah cerminan pada masanya. Sama seperti para pengagum isme-isme yang lain, sejauh ide adalah utopis kita akan senantiasa berlari mengejarnya, berjalan beriringan dengannya, atau membusuk bersamanya.

baca juga: Kapitalisme, Krisis Ekologis, dan Pemiskinan Imajinasi

Sejauh kita memiliki imajinasi tentang apa yang kita lawan, kita tak akan menemui kebuntuan dalam pencarian solusi-solusi yang lebih mutakhir. Kebuntuan dan kemandekan perlawanan kita, ditentukan oleh imajinasi yang menyelimuti kita. Jika kita masih percaya dengan aksi langsung seperti yang dikatakan oleh Voltairine de Cleyre, bahwa “dasar semua aksi politik adalah pemaksaan”, akankah kita menunggu datangnya pemaksaan itu?

Dalam pemahaman saya, selagi kita sama tertindasnya, kita semua adalah sama. Mayday adalah wujud pengheningan cipta atas para martir dalam ujian baptis Haymarket, untuk itu berimajinasilah melumpuhkan semua arogan.

  •  

Judul: Anarkisme: Apa yang Sesungguhnya Diperjuangkan

Penulis: Emma Goldman

Penerjemah: Tim Amsyong

Penerbit: Jalan Baru

Tebal: 290 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: