Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Merayakan Peter Carey dan Sejarah Jawa

Oleh: Jafar Suryomenggolo         Diposkan: 03 Sep 2019 Dibaca: 1157 kali


Tidak banyak buku persembahan (festschrift) dapat terbit dan dinikmati khalayak umum. Terlebih, sangat jarang buku persembahan khusus kepada sejarawan asing yang beredar di Indonesia dan berbahasa Indonesia. Buku terakhir semacam ini terbit 20 tahun lalu (1999), yaitu Panggung Sejarah: Persembahan kepada Prof. Dr. Denys Lombard. Karena itu, Urip iku Urub sebagai buku persembahan kepada Profesor Peter Carey, terbilang sangat istimewa. Penerbitan ini menjadi semacam tonggak dari perjalanan serangkaian buku persembahan kepada sejumlah sejarawan asing yang punya andil dalam pemahaman sejarah bangsa Indonesia.

 

Hidup yang Bermanfaat

Perjalanan hidup Mas Peter, sebagaimana ia kerap dipanggil, memang tidak melulu lurus. Ia lahir di Rangoon (kini Yangon) dan menghabiskan masa kanak-kanaknya di kota kolonial itu. Ia kemudian bersekolah di Inggris hingga tamat kuliah dan kemudian melanjutkan pendidikan pascasarjana di Oxford (Inggris) dan Ithaca (Amerika Serikat). Di bangku kuliah ini ia mulai mengenal Indonesia lebih jauh.

Universitas Cornell yang terletak di kota kecil Ithaca saat itu menjadi pusat baru dalam studi Asia Tenggara. Di tangan George McTurnan Kahin (1918-2000), studi Indonesia modern berkembang pesat. Peter muda tentunya terpikat melihat cahaya baru penelitian Indonesia yang ditawarkan Cornell saat itu. Dosen pembimbingnya adalah Oliver Wolters (1915-2000), sejarawan ahli Sriwijaya. Ia disokong beasiswa belajar selama tiga tahun. Meski begitu, Peter memutuskan melepaskannya. Melalui memoar singkatnya di buku Urip iku Urub, dapat dilihat Peter muda punya jiwa pemberontak dan petualang yang tidak gampang puas akan kemapanan. Ia merasa perlu mengunjungi Indonesia terlebih dulu. Di pertengahan tahun 1970, saat berusia 22 tahun, ia memulai perjalanan petualangan ke Indonesia. Sejak itu pula, ia jatuh cinta pada Jawa.

baca juga: Generasi Pasca-Nasionalisme Tradisional

Peter Carey kemudian dikenal sebagai penulis sejarah Pangeran Diponegoro (1785-1855). Namun sesungguhnya, karya-karyanya banyak membahas berbagai segi sejarah Jawa, terutama dari akhir abad XVIII hingga awal abad XIX. Di samping itu, ia juga punya perhatian yang mendalam dan kritis tentang perkembangan terkini Timor Leste, Papua, dan Burma/ Myanmar. Di luar kehidupan akademis, sejak tahun 1989 ia terlibat aktif dalam Cambodia Trust (Yayasan Kamboja yang melayani korban ranjau yang menderita cacat fisik) hingga di tahun 2011 ia memperoleh gelar MBE  (Member of British Empire) dari Ratu Elizabeth II atas jasanya tersebut. 

Tak heran pula, judul buku ini adalah Urip iku Urub. Berasal dari bahasa Jawa, ungkapan ini bermakna: "hidup yang (selayaknya) bermanfaat bagi sesama." Bagi Peter, hal ini menjadi ungkapan yang ia resapi secara mendalam dan praktekkan.

 

Bunga Rampai Sejarah Jawa

Sebagai sebuah festschrift, buku ini merangkai 14 keping tulisan tentang sejarah Jawa. Tiap tulisan punya fokus penelitian dan sudut pandang masing-masing. Meski demikian, semua tulisan tersebut dapat dibaca secara keseluruhan sebagai kisah sejarah yang melesap dalam masyarakat Jawa. Sejarah di sini tidak melulu terpaku pada sekadar fakta-fakta tertulis, tetapi juga mencakup bagaimana ia dibaca, dimengerti, dan dihayati dalam masyarakat, seperti yang dikenal sebagai "histoire des mentalités."

baca juga: Don Quijote dari la Mancha dan Hal-hal yang Belum Selesai

Tulisan-tulisan tersebut dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan cakupan periode sejarah yang dibahasnya: "Tatanan Lama Jawa" (abad XVI-XIX), "Lima tahun yang mengubah segalanya" (seusai Perang Jawa), dan "Pasca-keruntuhan Tatanan Lama Jawa" (abad XIX-XX). Secara khusus, tulisan-tulisan tersebut memberikan gambaran episode penting dalam kajian sejarah Jawa. Bagi pembaca awam yang kurang mengenal sejarah Jawa, buku ini menyuguhkan bacaan yang mumpuni sehingga memperkaya pemahaman umum.

Hal terpenting dari buku bunga rampai ini ialah para penulis melihat Peter Carey dan karya-karyanya sebagai sumber inspirasi. Dari rangkaian tulisan tersebut, terlihat jelas bahwa Peter hadir bukan sebagai "bule, peneliti asing" (yang kerap salah-kaprah disebut sebagai "Indonesianis"), tapi sebagai seorang guru yang dekat dengan murid-muridnya, teman diskusi yang lebih banyak mendengar daripada berkhotbah, dan juga, karena kefasihannya berbahasa Jawa: seorang konco lawas (kawan lama). Peter Carey adalah salah satu dari kita semua.

 

Lintas Generasi

Penting dicatat bahwa buku ini juga memuat tulisan dari para penulis muda, yang berusia di bawah 40 tahun. Mereka adalah: Ahmad Athoillah (kelahiran 1981), Kuncoro Hadi (1984), Martina Safitry (1986), Daya Negri Wijaya (1989), dan Eka Ningtyas (1990). Hal ini membuktikan bahwa sejarah kita tidaklah mandek-berhenti. Benih muda telah tumbuh dan kini berkembang dalam membaca, menulis, dan menafsir-ulang sejarah bagi zamannya sendiri. Mereka menjadi tulang punggung aliran sejarah baru Indonesia.

baca jugaPenonton Teater yang Membuat Teater Lain Sewaktu Menjadi Penonton dan Puisi Lainnya

Terlebih, buku ini hadir di tengah kegelisahan terpuruknya pelajaran sejarah di sekolah. Pelajaran sejarah dinilai tidak menarik, kontekstual, dan kritis sehingga cenderung menjadi sajian monoton bagi siswa. Sementara itu, guru sejarah terbebani banyak tugas administratif sekolah dan menghadapi tantangan untuk membangkitkan imajinasi kaum milenial akan sejarah bangsanya sendiri (Kompas, 8 November 2018).  Menghadapi itu, buku ini menjadi oase bagi anak muda yang haus sejarah yang kontekstual dan kritis.

Di antara para penulis muda dalam buku ini, terdapat dua sejarawati. Martina Safitry yang mendalami sejarah kesehatan dan menjadi staf pengajar di Program Studi Sejarah Peradaban Islam, IAIN Surakarta. Eka Ningtyas yang menekuni sejarah agama dan mistisisme Jawa yang bekerja di Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan saat ini sedang mengambil studi program doktoral di INALCO, Paris, Perancis. Tak dapat dipungkiri, sangat jarang ditemui sejarawati di dalam kancah penulisan sejarah Indonesia.

Masih sedikitnya sejarawati di Indonesia menjadi satu persoalan pokok dalam pengembangan penelitian sejarah. Di banyak negara maju, seperti di Jepang, Perancis, dan Amerika Serikat, para sejarawati punya peranan penting dalam penulisan dan tafsir-ulang sejarah yang kritis. Di Jepang, misalnya, ada Ochiai Emiko yang meneliti perempuan dan sistem keluarga di zaman Tokugawa. Di Perancis, ada Michelle Perrot yang punya sumbangsih penting dalam penelitian sejarah perempuan di Barat. Mereka tidak "lahir" dengan sendirinya. Melainkan, karena ada keterbukaan dari berbagai lembaga, terutama pihak universitas, yang mendorong penelitian para sejarawati. Untuk itu, perlu adanya dukungan dari lembaga pemerintah seperti Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dan juga dari pihak universitas untuk menyediakan sarana yang memadai bagi tumbuh-kembangnya para sejarawati muda Indonesia.  

baca juga: Mengakrabi Mati melalui Hidup

Urip iku Urub adalah buku yang perlu dibaca dan dapat dinikmati khalayak sebagai bacaan yang mencerahkan. Apresiasi dan  proficiat perlu disampaikan kepada FX Domini BB Hera atas jasa-upayanya sebagai penghimpun bunga-rampai buku ini. Akhir kata, tak lupa kepada Mas Peter Carey yang merayakan ulang tahun pada tanggal 30 April: Hangaturaken sugeng tanggap warsa!

 

Judul: Urip iku Urub: Untaian Persembahan 70 tahun Profesor Peter Carey

Editor: FX Domini BB Hera.

Penulis: Peter Carey

Penerbit: Penerbit Buku Kompas

Tebal: xl + 568 halaman

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: