Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Merespons Jeritan Bumi

Oleh: Aristayanu BK         Diposkan: 30 Oct 2018 Dibaca: 1372 kali


Suara-suara dari tanah-tanah, meneriakkan keadilan, dan tidak dapat dibungkam atau tenggelam (Oikotree, 2017: 7). Setidaknya itulah kenyataan bahwa ke-tertindas-an tak hanya berlaku bagi manusia, bahwa hal yang sama juga dirasakan oleh alam—Bumi. Beberapa teman mengaku bahwa mereka merasakan interaksi langsung dengan bumi yang dipijaknya, maka perjuangan atas nama lingkungan adalah jalan yang mereka amini dan imani.

*

Beberapa hari ini berita mengenai kejahatan terhadap alam semakin santer terdengar. Mulai dari kebakaran hutan yang menimbulkan kebakaran jenggot negara tetangga karena asap yang dihasilkan, hingga pembangunan bandara yang merenggut ladang pertanian warga dan memanen air mata serta dendam yang tak bakal reda oleh sepoian angin semilir pantai. Semua itu adalah uraian bagaimana manusia ditindas oleh sesamanya. Mungkin kita juga telah berpikir bagaimana alam akan merespon kita sebagai manusia yang sudah menindasnya, meniadakan perannya sebagai sesuatu yang hidup dan mampu menjalani kehidupannya selayaknya manusia. Manusia cenderung berpikir bahwa mereka adalah ‘penakluk’, ‘penguasa’, dan ‘pemilik hak waris’ sah atas bumi.

Kesedihan dan kemuraman alam beserta isinya ada di mana-mana, di dalam buku Dengarkan Jeritan Bumi! Respons Kristiani atas Krisis Keadilan Ekologis, bab I berisikan pengalaman-pengalaman penting pengisapan sumber daya baik alam maupun manusia oleh tiran. Indonesia sebagai bangsa yang pernah terjajah, kini menjadi penjajah bangsa lain. Tentang Freeport, Papua, dan Indonesia misalnya, kanal-kanal berita ataupun media sosial saling beradu dan beropini. Sebagai masyarakat awam, kita selalu berpikir bahwa Papua adalah Indonesia, bahwa mereka nyaman dengan kebijakan-kebijakan yang ada, sedangkan yang lain beranggapan berbeda ketika melihat kekerasan aparat negara kepada orang-orang Papua. Di bawah permerintah Indonesia, rakyat Papua tidak merasa di rumah sendiri (Oikotree, 2017: 11).

baca juga: Buku dan Belanja Tanda Tangan

Pertarungan melawan perampasan tanah adalah suatu perang melawan kapitalisme, neoliberalisme, dan model ekonomi yang merusak. Lalu bagaimana kita memaknai pembangunan yang mengumbar tangis rakyat sebagai sebuah kemajuan dan cerahnya masa depan? Tentu, setiap pembangunan tak melulu bermakna negatif, tapi ketika pembangunan itu pada akhirnya hanya menjadi alih wahana penderitaan masyarakat, ada baiknya mengkaji ulang pembangunan tersebut dengan menyertakan argumentasi yang tumbuh dari masyarakat terdampak itu sendiri, bukan hanya berkaca pada pemodal yang siap merusak alam demi sebuah cita-cita absurd berupa kemajuan yang definisinya tak dapat diuraikan secara terang.

Buku ini merupakan uraian bagaimana Kristen menyikapi kerusakan alam. Bagaimana ayat-ayat dalam Alkitab kemudian diinterpretasikan ulang secara kontekstual. Kesulitan dan ancaman yang ada ketika membicarakan permasalahan-permasalahan ekologi adalah hambatan yang sulit ditembus sebagai akses untuk mengubah pola pikir manusia untuk mencapai keadilan sosial, ekonomi, serta ekologi.

Teologi adalah refleksi kritis terhadap iman seseorang dan tradisi yang diterima dalam konteks tertentu dengan maksud pembebesan (Oikotree 2017: 6). Kritik tentang agama yang paling mahsyur sampai saat ini dan menjadi dalih agar orang-orang menjauhi marxisme adalah karena ucapan Marx, “agama adalah candu”. Setidaknya pemaknaan kontekstual pada teks tersebut mampu menjadi kritik paling membangun yang pernah disampaikan. Agama adalah jalan menuju pembebasan, bukan hanya bebas atas dosa yang telah ditebus oleh darah Kristus. Agama seringkali dijadikan alat untuk meredam suatu permasalahan. Hal ini yang kemudian menjadi hambatan dalam membicarakan persoalan ekologi.

baca juga: Revolusi Telah Mati (?)

Kita terbiasa hidup dengan pengertian bahwa manusia diciptakan untuk menguasai bumi beserta isinya, seperti yang tertuang dalam kitab Kejadian 1: 28 (Perjanjian Lama). Hal ini yang kemudian dimaknai secara tekstual oleh para pemuka agama Kristen yang kemudian mensahihkan legitimasi manusia terhadap bumi. Pembacaan teks Kejadian 1: 28 ini kemudian tidak dibandingkan dengan kitab Ulangan 16:20 (Perjanjian Lama) yang berbicara soal tanah adalah media kehadiran Tuhan yang menuntut kekudusan. Tanah yang kudus adalah tanah yang dimandatkan untuk manusia, bukan untuk kepemilikan. Seperti halnya pada kehidupan kita, mandat bukanlah sebuah hak untuk memiliki melainkan untuk mengelola agar menghasilkan, dan merawat agar tetap subur, dan kedudukan manusia adalah sebagai wakil-wakil Tuhan di bumi.

Kini kita sedang mendramatisir kerusakan bumi namun sambil terus merusaknya. Kita tidak bisa hanya berpatokan kepada kesadaran beberapa orang dalam memaknai alam beserta isinya sebagai rekan kerja, bukan sebagai media kerja. Hal yang harus dilakukan adalah memberi pengertian kepada manusia bahwa bumi terus menerus menjerit, dan manusia harus mendengarnya melalui pesan-pesan yang disampaikan melalui medium agama sebagai suatu hal yang paling dekat dengan manusia.

Meyakini bahwa agama adalah jalan menuju pembebasan dari tiran. Bahwa agama adalah ruang di mana manusia akan menemukan ke-diri-an-nya sebagai rekan kerja alam dan mandataris Allah di dunia. Mengelola dan merawat bumi adalah kewajiban manusia yang beragama. Serta menanam adalah perlawanan abadi untuk menjaga bumi tetap lestari.

baca juga: Pesantren: Keaksaraan dan Indonesia

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, Soeharto mati meninggalkan kerusakan alam akibat revolusi hijau.

  •  

Judul Buku: Dengarkan Jeritan Bumi! Respons Kristiani atas Krisis Keadilan Ekologis

Penulis: Oikotree

Penerjemah: Harsutejo

Penerbit: Ultimus

Tebal: x+102 halaman



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: