Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Meretas Patriarki dengan Sitasi dan Bibliografi Canggung

Oleh: Cep Subhan KM         Diposkan: 15 Nov 2020 Dibaca: 514 kali


MENCANTUMKAN 83 rujukan dalam Bibliografi, Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan: Psikologi Feminis untuk Meretas Patriarki (EA Books, 2020) yang memuat 22 esai Ester Lianawati tampak sebagai asupan intelektual menjanjikan. Namun, misalnya dalam esai kedua, “Apakah Perempuan Ingin Penis? Membincangkan Freud” (hal. 25-49), ada paragraf yang perlu ditinjau ulang:

Pada tahap phallic, pada anak (laki-laki maupun perempuan) mulai muncul dorongan rasa ingin tahu. Misteri terbesar bagi anak pada usia ini bukanlah mengapa ada perbedaan jenis kelamin, melainkan dari mana datangnya seorang anak: bagaimana seorang anak bisa lahir ke dunia? (Freud, 1962: 90-91).[1] Seorang anak mulai menebak-nebak dan bahkan mengetahui langsung bahwa ayah dan ibunya menjalin hubungan seksual.[2] Si anak pun merasa terkucilkan. Ia berusaha mendapatkan tempat di antara kedua orang tuanya; ia berusaha masuk mencampuri relasi ayah dan ibunya. (hal. 28-29)

Sebagaimana dijelaskan catatan kaki no. 20 pada buku, sitasi merujuk tulisan Freud edisi Prancis, Trois essais sur la théorie de la sexualité. Dalam edisi Inggris The Standard Edition of the Complete Psychological Works of Sigmund Freud (SE), tulisan tersebut berjudul “Three Essays on the Theory of Sexuality” (SE, VII, 2001: 123-245).

Tiga esai menyusun “Three Essays on the Theory of Sexuality” (Tiga Esai tentang Teori Seksualitas) adalah “The Sexual Aberrations” (Penyimpangan-penyimpangan Seksual), “Infantile Sexuality” (Seksualitas Infantil), dan “The Transformations of Puberty” (Perubahan-Perubahan Pubertas). Bagian-bagian paragraf di atas yang bisa dibagi menjadi 3 poin adalah bagian dari pembahasan esai “Seksualitas Infantil”. Berbeda dengan penyajian dalam “Apakah Perempuan Ingin Penis? Membincangkan Freud” yang menyiratkan kesalingterkaitan ketiganya dalam relasi sebab akibat, poin-poin tersebut dalam tulisan Freud disajikan terpisah pada subbahasan berbeda.

Baca juga: Kekerasan Rakyat Absah Untuk Menjaga Demokrasi

Poin pertama, dua kalimat awal paragraf, berada dalam subbahasan “Teori-Teori Kelahiran” pada tulisan Freud. Di bagian tersebut Freud mengatakan bahwa

Banyak orang bisa mengingat dengan jelas betapa besar minat yang mereka tunjukkan pada masa prapubertas terhadap pertanyaan dari mana datangnya bayi. (SE, VII, 2001: 196).

Konsep Freud tentang seksualitas infantil membantah pandangan populer bahwa insting seksual baru mulai muncul pada masa pubertas. Pandangan populer itu efek “amnesia infantil”, pelupaan memori masa kanak-kanak paling dini sampai usia 6 atau 8 tahun. Banyaknya orang mengingat memori rasa penasaran masa kanak-kanak tentang asal-usul bayi menunjukkan memori itu termasuk “memori saringan”, memori yang lolos dari pelupaan karena memiliki kesan penting dalam perkembangan seksualitas. Fokus Freud terletak pada jawaban “keliru” yang disimpulkan anak-anak bahwa

orang-orang mendapatkan bayi dari memakan benda tertentu (sebagaimana mereka lakukan dalam dongeng) dan bayi dilahirkan melalui usus seperti pelepasan kotoran. (SE, VII, 2001: 196).

Poin kedua, satu kalimat selanjutnya pada paragraf beserta catatan kaki no. 21, berada dalam subbahasan “Pandangan Sadis tentang Hubungan Seksual” pada tulisan Freud:

Jika anak-anak pada usia dini ini menyaksikan hubungan seksual yang terjadi antara orang dewasa—yang mana kesempatan untuk itu disediakan oleh keyakinan orang-orang dewasa bahwa anak-anak kecil tidak bisa memahami segala sesuatu yang bersifat seksual—mereka pasti memandang tindakan seksual sebagai sejenis perlakuan buruk atau tindak penaklukan: yakni, mereka memandang hal tersebut dalam satu pengertian yang bersifat sadis. (SE, VII,2001: 196).  

Konten catatan kaki no. 21 memberikan kesan lebih positif jika disajikan sebagai aposisi seperti pada tulisan Freud di atas. Freud juga mencantumkan alasan bahwa orang dewasa (tidak khusus ibu dan bapak) mungkin memberikan kesempatan tak sengaja semacam itu karena kesalahan persepsi mereka tentang pola pikir anak kecil. Dengan tidak mencantumkan alasan ini, “Apakah Perempuan Ingin Penis? Membincangkan Freud” berpotensi membuat pernyataan Freud tampak melulu mesum dan tanpa dasar logis. Selain itu, sangat jelas Freud memfokuskan pada penafsiran “keliru” anak kecil terhadap hubungan seksual orang dewasa andaikata dia menyaksikannya.

Baca juga: Mengurai Tanggung Jawab

Lalu benarkah, sebagaimana tersirat dari poin ketiga, dua kalimat terakhir pada paragraf, setelah bertanya-tanya dari mana asal bayi, mengetahui ayah dan ibunya “menjalin hubungan seksual” serta menyaksikan mereka melakukan “aktivitas seksual” lantas “merasa terkucilkan”, anak pada fase phallic “berusaha mendapatkan tempat di antara kedua orang tuanya” dengan “berusaha masuk mencampuri relasi ayah dan ibunya”? Benarkah setelah itu, sebagaimana diuraikan dalam paragraf selanjutnya pada buku (hal. 29), dia merasakan Kompleks Oedipus berupa hasrat bersaing dengan bapak dan ingin memiliki ibu seutuhnya?

Kompleks Oedipus memang muncul pada fase phallic, tetapi poin (1) upaya anak memahami asal-usul bayi, (2) penyaksian hubungan seksual orang dewasa, dan (3) persaingan seksual dengan orang tua berjenis kelamin sama dan hasrat erotis terhadap orang tua berjenis kelamin berbeda, tidak saling terkait dalam relasi sebab akibat. Poin (1) dan (3) sama-sama bagian dari Kompleks Oedipus, sementara poin (2) bukan pengalaman universal anak-anak, karenanya hal tersebut bukan penyebab Kompleks Oedipus yang, karena tindakan memilih orang tua sebagai objek cinta pertama adalah sesuatu yang “pasti terjadi dan sangat normal” (SE, XI, 2001: 48), bersifat universal.     

*

Perlu juga ditinjau ulang beberapa poin pada esai keempat, “Saya Sabina Spielrein, (Bukan) Kekasih Carl Jung” (hal. 65-75), yang mengurai kiprah Sabina Naftoulovna Spielrein. Lebih dari dua dekade silam, ada dua buku, tak tercantum dalam Bibliografi buku ini, membahas hal sama secara lebih mendalam. Pertama, Freud’s Women (1992) karangan Lisa Appignanesi dan John Forrester; kedua, A Most Dangerous Method: The Story of Jung, Freud, & Sabina Spielrein (1993) karangan John Kerr.

Baca juga: Pengajaran Sains Calon Ilmuwan

Esai menyatakan bahwa “bukan Sigmund Freud yang menemukan teori dorongan kematian, apalagi mengaitkannya dengan dorongan seksual” (hal. 65), melainkan Sabina. Pemikiran Sabina tentang “pulsion of destruction” memberi inspirasi bagi Freud untuk “mengembangkan teori dorongan kematian” (hal. 67), akan tetapi “Sigmund Freud hanya pernah mengutip namanya sebagai referensi biasa.” (hal. 68). Dijelaskan juga bahwa dalam tulisannya yang terbit tahun 1912, “Die Destruktion als Ursache des Werdens” (Destruction as the Cause of Coming into Being/Destruction as the Cause of Becoming), Sabina

…mengembangkan teori paradoksal mengenai pengabdian perempuan dan memperkenalkan salah satu dorongan primer: destruktif. Libido menurutnya punya dua sisi: kekuasaan untuk membuat segala sesuatu indah dan pada saat yang sama dapat merusak. Dari sinilah kelak Freud mengembangkan konsep dorongan kematian (1920), setelah sebelumnya ia mengkritiknya sebagai karakter Rusia yang ambivalen. (hal. 70)

Konsep “insting kematian” diuraikan Freud tahun 1920 dalam “Beyond the Pleasure Principle” (SE, XVIII, 2001:1-64). Dalam salah satu catatan kaki setelah menyinggung soal “masokhisme primer”, nama Sabina Spielrein memang dikutip:

Bagian cukup besar dari spekulasi-spekulasi ini telah lebih dahulu dikemukakan oleh Sabina Spielrein (1912) dalam satu karangan edukatif dan menarik yang, meskipun demikian, sayangnya tidak sepenuhnya jelas bagi saya. Dalam karangan tersebut dia menjelaskan komponen-komponen sadis dari insting seksual sebagai ‘bersifat destruktif’. (SE, XVIII, 2001: 55) 

Sebelum menyepakati anggapan bahwa pengakuan “referensi biasa” hanya dalam catatan kaki semacam itu tak sebanding jasa yang disangkakan terhadap Sabina sebagai tokoh yang mengilhami Freud merumuskan “insting kematian”, baik dibaca penjelasan John Kerr bahwa

…sitasi [Freud] tersebut menyesatkan. Spielrein tidak mengemukakan tentang hal semacam masokhisme primer. Dia hanyalah didengar dengan cara itu oleh para audiens pria Wina. Lebih tidak lagi dia, dalam pengertian apa pun, “lebih dahulu mengemukakan” gagasan tentang insting kematian. Apa yang dia kemukakan adalah bahwa seksualitas membawa serta tema-tema semacam itu, misalnya tema menyambut kematian dalam pelukan kekasih. Hal itu merupakan sesuatu yang sangat berbeda.

Menimbang ketidakjelasan sitasi Freud, sedikit mengejutkan bahwa sitasi tersebut menjadi basis bagi reputasi Spielrein selamanya. Namun begitulah: dalam hampir setiap karya historis yang berpayah-payah untuk menyinggung Spielrein sama sekali, dia diakui, dengan keliru, sebagai telah lebih dahulu mengemukakan teori Freud tentang insting kematian… (1994: 501)

John Kerr juga menjelaskan perihal karya Sabina, “Destruction as a Cause of Coming into Being” bahwa

“Destruction as a Cause of Coming into Being” berusaha untuk memecahkan masalah represi seksual dengan mendasarkan pada satu potret seksualitas sebagai ambivalen secara inheren dalam hubungannya dengan diri. Tidak ada “insting kematian” di dalamnya. Baik term ataupun gagasan itu dalam pengertian yang disodorkan Freud tidak muncul dalam tulisan tersebut. (1994: 502)

Pernyataan-pernyataan dalam “Saya Sabina Spielrein, (Bukan) Kekasih Carl Jung” dibahas di atas tidak mencantumkan sumber sehingga validitasnya tak bisa ditakar. Dalam esai ada disinggung film A Dangerous Method (hal. 65), tetapi tidak buku A Most Dangerous Method yang merupakan referensi pembuatan film tersebut. Buku itu adalah hasil delapan tahun penelitian yang kredibilitasnya dibuktikan oleh ketebalan total 608 halaman memuat bibliografi sangat kaya sepanjang 21 halaman.

Menutup tinjauan ringkas ini, bisa dikatakan bahwa gagasan “meretas patriarki” sebagaimana dipampangkan anak judul buku terkait memang gagasan menarik. Akan tetapi, tanpa kehati-hatian, gagasan itu hanya akan jatuh menjadi gagasan genit. Oleh karena itu, sebelum mempraktikkannya, idealnya dipastikan terlebih dahulu bahwa alat yang digunakan untuk meretas adalah alat kredibel, dimulai dari soal paling sederhana seperti penulisan dan pemaknaan sitasi yang cermat serta seleksi konten bibliografi yang ketat. Terima kasih.  

Judul: Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan

Penulis: Ester Lianawati

Penerbit: EA Books

Halaman: xii+292 halaman


[1] Catatan kaki no. 20: 

Dalam Trois essais sur la théorie de la sexualité (edisi pertama diterbitkan pada tahun 1905, tetapi buku ini terus direvisi: Freud menambahkan banyak catatan pada edisi-edisi berikutnya; revisi terakhir adalah pada tahun 1924. Versi terakhir ini terus dicetak ulang. Penulis mengacu kepada edisi tahun 1962, terjemahan dalam bahasa Prancis), hlm. 90-91.

[2] Catatan kaki no. 21:

Menurut Freud, orang tua sering kali memberikan “kesempatan” ini kepada si anak untuk menyaksikan aktivitas seksual mereka (hlm. 93).

_____

 

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: