Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Mesin Produksi Manusia Itu Bernama Sekolah

Oleh: Fawaz A         Diposkan: 19 Feb 2019 Dibaca: 3873 kali


Mari saya ajak Anda membayangkan berada dalam sebuah pabrik yang memproduksi sepatu (sepatu ini bisa Anda ganti dengan produk apa saja yang diproduksi dalam skala besar pada sebuah rantai produksi, mulai dari peniti hingga pesawat terbang). Pabrik itu adalah sebuah pabrik modern dengan peralatan teknologi yang cukup canggih. Para pekerjanya memakai seragam sehingga satu sama lainnya sulit dibedakan karena selain pakaiannya yang seragam, tingkah laku mereka selama proses produksi juga seragam, persis mesin produksi yang diset di tempat mereka bekerja.

Mula-mula bahan baku berupa benang, karet, vibram, dan beberapa bahan baku lainnya dibentuk sedemikian rupa pada mesin cetak sesuai dengan desain sepatu yang sudah ditentukan. Proses itu kemudian berlanjut ke pembentukan sepatu sesuai ukuran yang diinginkan menggunakan mesin yang dioperasikan beberapa orang pekerja. Sepatu yang sudah jadi tersebut kemudian diperiksa oleh tenaga ahli apakah ada catat yang menonjol setelah proses produksi. Sepatu-sepatu yang lolos uji kualitas kemudian akan dikemas dan dipasarkan. Sepatu-sepatu yang tak lolos uji kelayakan menjadi sampah produksi, atau beredar di pasar gelap dengan harga murah.

Tentu saja saya menyederhanakan proses-proses yang mesti dilalui dalam sebuah siklus produksi sepatu yang saya narasikan di atas. Karena ada proses penjahitan, pemotongan, pemasangan alas sepatu, belum lagi proses produksi tali sepatu untuk sepatu-sepatu yang menggunakan tali berada pada siklus yang berbeda dengan tubuh utama dan alas sepatu, proses pemasangan label, dan lagi, kemasan sepatu yang hendak dipasarkan juga mesti melalui tahap produksi tersendiri. Ada beberapa pintu produksi yang berdiri sendiri dengan uji kualitasnya masing-masing sebelum produk itu pada akhirnya bisa dipasarkan secara luas.

baca juga: Segar Rohani dalam Sunyi Jasmani

Sekarang, mari saya ajak Anda mengganti kata ‘pabrik’ dalam siklus produksi tersebut dengan sebuah institusi besar yang begitu disegani yang oleh Roem Topatimasang pada sekira 35 tahun lalu dicap sebagai sebuah candu. Institusi itu bernama ‘sekolah’. Mungkin banyak dari Anda yang tidak setuju dan menganggap saya mengada-ada mengandaikan sekolah laiknya sebuah pabrik yang memproduksi sebuah produk secara massal. Namun fakta-fakta yang berserak di lapangan sayangnya memverifikasi kenyataan pahit ini.

Pada buku berjudul Sekolah Itu Candu yang berisi catatan-catatan Roem Topatimasang tentang institusi sekolah dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya, fakta itu bisa kita temukan. Meskipun sebagian besar tulisan-tulisan itu ditulis pada periode 80an, hingga saat ini, kenyataan pahit mengenai institusi bernama sekolah masih tumbuh subur laiknya jamur pada musim penghujan. Sekolah yang pada mulanya bermakna waktu luang untuk mempelajari keahlian-keahlian tertentu, menjelma pabrik besar yang memproduksi manusia-manusia seragam guna memenuhi kebutuhan dunia industri yang menurut Adam Smith sebagai sekrup yang menguatkan roda perekonomian.

Pada tulisan berjudul ‘seragam sekolah’, Roem Topatimasang membawa kita lewat sebuah narasi akan kekaguman terhadap seragam sekolah dengan kesimpulan pada ujung tulisan yang cukup menohok. Bahwa sekolah bukan hanya menuntut pesertanya seragam dalam berpakaian, lebih jauh, sekolah juga menyeragamkan peserta didik nyaris dalam segala hal. Pakaian seragam, bahasa seragam, mata pelajaran seragam, tingkah laku seragam, bahkan sekolah juga memaksakan isi kepala hingga isi hati manusia yang ada di dalamnya untuk diseragamkan.

baca juga: Berpuisi Sampai Jauh

Mereka-mereka yang dianggap melenceng dari penyeragaman sekolah, kemudian dicap sebagai murid yang nakal, bodoh, hingga pada akhirnya disingkirkan secara sistematis seperti produk-produk gagal dalam sebuah siklus pabrikasi yang tidak lolos uji kelayakan.

Institusi sekolah sama sekali tidak netral atau bebas nilai. Ia sebagai lembaga yang sudah terlanjur dianggap sebagai lembaga terbaik difungsikan sebagai lembaga yang mewariskan dan melestarikan nilai-nilai yang sedang berlaku dan direstui. Berlaku dan direstui oleh pihak yang paling berkuasa menentukan itu. Celakanya lagi, banyak pihak menganggap sekolah kini menjadi satu-satunya lembaga yang bisa dan boleh melakukan itu.

Pengkultusan sekolah sebagai satu-satunya institusi yang berhak dan berkuasa menentukan nilai-nilai yang dianggap baik hingga menyeragamkan isi kepala bahkan sampai isi hati manusia pada akhirnya menjadi candu yang betul-betul membikin ketagihan dan ketergantungan. Pada tulisan berjudul Sekolah Itu Candu yang akhirnya diambil menjadi judul buku ini, lewat kasus seorang murid SMA di Yogyakarta yang dipecat dari sekolah karena melakukan riset mandiri terkait perilaku seks remaja di Yogyakarta, Roem Topatimasang menjabarkan betapa pada akhirnya sekolah itu sudah benar-benar menjadi candu.

baca juga: Papua dan Demokrasi Agonistik

Meskipun perlakuan sekolah salah, buruk, dan masyarakat banyak sepakat akan hal itu, pada akhirnya, tidak bisa tidak, sekolah tetap kembali dirujuk. Alih-alih mencari alternatif lain di luar sekolah, atau mengubah sistem yang selama ini diberlakukan, ketergantungan terhadap sekolah dan sistem yang diberlakukannya sudah begitu mengakar ibarat candu, merusak namun membikin ketagihan dan kita tidak bisa melepaskan diri darinya.

Kritik, saran dan masukan oleh para ahli pendidikan, praktisi pendidikan, dan akademisi bergelombang berdatangan guna memperbaiki sistem penyeragaman yang ada di sekolah. Pada bab berjudul ‘Involusi Sekolah’, Roem Topatimasang menarasikannya dengan cukup panjang. Pemikiran-pemikiran dari para ahli berdatangan, dana untuk pendidikan ditingkatkan mencapai 20 persen dari dana APBN. Hasilnya, alih-alih perubahan mendasar dan prinsipil, keadaan stagnan saja, jalan di tempat. Beberapa hal bahkan mengalami kemunduran. Maksud hati melakukan banyak inovasi dalam dunia pendidikan, yang terjadi malah sebatas involusi, perubahan yang jalan di tempat.

Pembaharuan-pembaharuan yang dilakukan pemegang kuasa, sebatas pembaharuan-pembaharuan di ranah teknis. Padahal yang dibutuhkan sesungguhnya pembaharuan sistem. Tak ada pembaharuan-pembaharuan berarti pada sistem yang dianggap sudah begitu baku. Alhasil, involusi terjadi tak hanya sebatas pada sistem, namun involusi kelembagaan, involusi sikap, dan involusi pemikiran dan paradigma. Semuanya bertahan untuk jalan di tempat, bahkan pada beberapa aspek mundur ke belakang.

baca juga: Upaya Mencari Benih KAA

Pada bab berjudul ‘Robohnya Sekolah Rakyat Kami’, lewat studi kasus yang terjadi pada sekolah rakyat di kaki Pegunungan Latimojong yang terletak di perbatasan Sulawesi Selatan dengan Sulawesi Barat, Roem Topatimasang menjabarkan kemunduran yang terjadi pada sistem yang diterapkan di sekolah akibat penyeragaman dalam segala aspek. Sekolah yang sebelumnya berjalan begitu kontekstual menyesuaikan lingkungan sekitar, mengajarkan pelajaran-pelajaran yang bukan sekadar mata pelajaran yang gersang tak bermakna, namun mengajarkan bagaimana manusia itu hidup dan menjadi manusia seutuhnya sedari dini, berubah drastis karena penyeragaman yang dilakukan dari pusat, dari Jakarta yang sama sekali tidak mempertimbangkan konteks lokalitas yang berbeda di tiap lokasi sekolah.

Pada akhirnya, sekolah menjadi begitu mekanistik dan tercerabut dari akar keseharian masyarakat. Ia seakan menyengajakan diri untuk memisahkan diri dari keseharian masyarakat. Sekolah menjadi begitu eksklusif. Dalam buku ini, sebuah paradoks terjadi di sekolah untuk anak-anak suku laut, Orang-Orang Bajo di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tengah. Bukannya sistem yang berlaku di sekolah itu yang mendekatkan peserta didik dengan konteks keseharian hidup komunitas mereka, malah inisiatif guru yang menghukum anak-anak murid dengan mewajibkan mereka mencari ikan yang mendekatkan murid dengan keseharian komunitas mereka. Murid-murid terlihat begitu bahagia menjalani hukuman yang diberikan guru mereka karena terlambat menjemput guru menggunakan perahu. Mereka dihukum untuk mencari ikan dan mereka begitu menikmati hukuman itu.

Mayoritas tulisan pada buku berjudul Sekolah Itu Candu karya Roem Topatimasang ini memang ditulis pada periode 80an, ketika orde baru masih begitu kuat menguasai negeri ini hingga penulisnya sempat dipenjara karena mengkritisi rezim. Namun involusi yang terjadi pada dunia pendidikan hingga hari ini, membikin buku ini masih begitu relevan untuk dibaca, dikaji, dan dijadikan salah satu titik tolak untuk bergerak melakukan perubahan mendasar pada dunia pendidikan di negeri ini.

Mari bergerak, jangan berhenti usai membacanya!

  •  

Judul: Sekolah Itu Candu

Penulis: Roem Topatimasang

Penyunting: Toto Raharjo

Penerbit: Insistpress

Tebal: xvi + 129 halaman

  •  



Artikel Terkait

Membaca Anarkisme, Memahami Kebebasan Sepenuhnya

Membaca Anarkisme, Memahami Kebebasan Sepenuhnya

bahwa anarkisme adalah satu-satunya filosofi yang membawa kesadaran manusia atas dirinya sendiri, yang pada akhirnya menyeret masyarakat, negara, hingga tuhan untuk tidak eksis. Ia hadir sebagai guru dari kesatuan hidup, di dalam manusia.

Diposkan: 05 Feb 2019 Dibaca: 1951 kali

Dildo: Kisah Daud Melawan Jalut

Dildo: Kisah Daud Melawan Jalut

Politik harus sehat. Politik memang harus sehat. Tapi bukan berarti orang tak boleh bicara lucu. “Humor hanyalah satu dari sedikit cara bertahan dalam melawan semesta.” Barangkali juga negara.

Diposkan: 26 Jan 2019 Dibaca: 1823 kali

Lubang Hitam Manusia Modern

Lubang Hitam Manusia Modern

Sebagai peraih penghargaan 10 Novel Thriller Terbaik 2017 versi Majalah Time, dari segi pertukangan, apa yang ditawarkan The Hole tidak sesuai harapan.

Diposkan: 22 Jan 2019 Dibaca: 2898 kali

Menengok Papua Lewat Buku

Menengok Papua Lewat Buku

... keputusan untuk menjalani hidup yang sederhana dan merasa cukup, menjadi pilihan mereka hingga hari ini.

Diposkan: 08 Jan 2019 Dibaca: 1351 kali

Di Lidah Para Politisi dan Pendusta: Puisi-puisi Norrahman Alif

Di Lidah Para Politisi dan Pendusta: Puisi-puisi Norrahman Alif

Walau kata hari-hari ini sering dikhianati / sebagai kantong-kantong janji para penguasa / yang berisi basa-basi bijak namun ilusi / setelah jadi raja nanti / Namun kata tetaplah kata / walau masih lugu di lidah para politisi dan pendusta.

Diposkan: 05 Jan 2019 Dibaca: 1929 kali

Pertemuan dengan F. Budi Hardiman: Sebuah Renjana Filsafat

Pertemuan dengan F. Budi Hardiman: Sebuah Renjana Filsafat

Ketidakmengertian saya dengan teks-teks F. Budi Hardiman di awal petualangan saya, telah menempa daya tahan saya dalam membaca dan berpetualang di rimba pengetahuan

Diposkan: 29 Dec 2018 Dibaca: 1993 kali

Oligarki Media yang (Tetap) Menggurita

Oligarki Media yang (Tetap) Menggurita

Selepas Mei 1998, Soeharto sebagai pucuk pimpinan otoritarian Indonesia lengser. Orang-orang di lingkaran oligarkinya mulai berbelot mencari peruntungan

Diposkan: 25 Dec 2018 Dibaca: 1127 kali

Kisah Persahabatan di antara Kuasa Negara dan Agama

Kisah Persahabatan di antara Kuasa Negara dan Agama

Dengan pengisahan yang intim, Jelloun merangkai ikat demi ikat tali menjadi...

Diposkan: 23 Nov 2018 Dibaca: 1565 kali

Mark Manson: Bacaan Hipster dan Orang-orang Minder

Mark Manson: Bacaan Hipster dan Orang-orang Minder

Hidup itu sarat derita. Hidup itu soal menerima penderitaan. Hidup itu ...

Diposkan: 21 Nov 2018 Dibaca: 4450 kali

Buku Bekas dan Senjakala Kertas

Buku Bekas dan Senjakala Kertas

Tumpukan buku dimakan rayap yang dipajang di tengah kafe itu mungkin semacam pertanda, sebuah senjakala, ia bisa jadi bukan lagi sekadar bentuk kegelisahan.

Diposkan: 17 Nov 2018 Dibaca: 1835 kali

Buku Melulu Pahlawan

Buku Melulu Pahlawan

Pada masa Soeharto berkuasa, buku telah ditetapkan sebagai senjata paling ampuh dalam membentuk atau membakukan sejarah sesuai selera penguasa.

Diposkan: 09 Nov 2018 Dibaca: 1480 kali

Ideologi dan Tanda Tanya yang Tak Pernah Cukup

Ideologi dan Tanda Tanya yang Tak Pernah Cukup

Kita sudah terbiasa percaya sebelum benar-benar paham. Tanpa pengetahuan yang memadai tentang sesuatu, kita katakan sesuatu sebagai sesuatu. Di sini, juga yang harus kita perhatikan betul, nalar memahami berbeda dengan nalar mempercayai.

Diposkan: 07 Nov 2018 Dibaca: 1476 kali

Hidup Sehat ala Murakami, Takdir, dan Pramoedya

Hidup Sehat ala Murakami, Takdir, dan Pramoedya

Di masa tua pengarang memang punya dua tantangan: sehat dan terjaga ingatannya.

Diposkan: 13 Oct 2018 Dibaca: 1986 kali

Kisah Wilde dan Sembilan Kisah Lain

Kisah Wilde dan Sembilan Kisah Lain

...,dan kita di sini tidak pada posisi membahas benar atau salah: pilihan penerjemah itu sendiri sudah merupakan satu bentuk tafsir, dan terlalu menggebu memaksa orang menerima tafsir kita tentang kebenaran adalah satu aroganisme kenes yang hanya menjadi satu pertanda bahwa kita kurang banyak membaca karya sastra.

Diposkan: 18 Sep 2018 Dibaca: 1185 kali

Kuasa Aksara Merajalela

Kuasa Aksara Merajalela

Demokrasi tampak tak lagi mementingkan buku, memilih sengketa tagar, foto, dan komentar di gawai. Buku tak lagi terpilih seperti impian kaum terpelajar awal abad XX dan pelaksanaan Pekan Buku Indonesia 1954, sebelum Indonesia mencipta sejarah hajatan demokrasi: Pemilu 1955.

Diposkan: 08 Sep 2018 Dibaca: 1024 kali

Buku dan Belanja Tanda Tangan

Buku dan Belanja Tanda Tangan

Buku mewakili diri melintas ruang dan waktu. Sampai hari menentukan itu, buku kembali menyapa dirinya lagi.

Diposkan: 05 Sep 2018 Dibaca: 1766 kali

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Blog Search



Bayar dan Kirim

Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by