Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
MONEY Hikayat Uang Dan Lahirnya Kaum Rebahan MUMU - Ivan Turgenev

Dalam novel ini Sartre mengungkapkan pemikirannya tentang eksistensi melalui sosok Antoine Roquentin, lelaki penyendiri yang berencana menulis buku tentang Marquis de Rollebon. Dalam hari-harinya yang datar, Roquentin berusaha menyusun pemikiran-pemikiranya dalam sebuah buku harian demi menemukan makna serta tujuan dari eksistensi manusia. Dengan kebiasaannya menjelajahi berbagai jalan serta menunjungi kafe-kafe, Roquentin mengamati manusia-manusia di sekelilingnya mulai dari Anny, perempua yang dicintainya, Lelaki Pelajar, pemilik kafe, para pengunjung kafe hingga potret-potret para tokoh pembangun Bouvile. 

Dalam pencariannya akan eksistensi, suatu perasaan yang dirasanya sebagai MUAL terus mendatanginya. MUAL itulah yang kemudian memberinya kesadaran sekaligus menjadi benang merah Sartre dalam menyadarka para pembacanya untuk malu atas eksistensi mereka. 


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Sastra Terjemahan
Artika Sari 298 hlm | Bookpaper
ISBN : Indra Andi Batara
Penerjemah : Artika Sari
Ketebalan : 298 hlm | Bookpaper
Dimensi : 14x20 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Metabook
Penulis: Jean-Paul Sartre
Berat : 300 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat


Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by