Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Mudik Bukan Sembarang Mudik

Oleh: Karunia Haganta         Diposkan: 01 Jun 2019 Dibaca: 849 kali


Setelah menjalani puasa di bulan Ramadan, banyak dari kita kembali ke kampung halaman. Merayakan kemenangan bersama keluarga besar. Suatu fenomena yang kita sebut mudik atau pulang kampung. Bertemu dengan segenap keluarga besar dan menjalin silaturahmi. Sekaligus sebagai proses rekreasi.

Mudik adalah suatu fenomena sosial. Dampaknya luas sekali. Kebanyakan melihat dampak mudik yang kasat mata saja. Namun kita sering lupa bahwa mudik ini menandakan sesuatu, dampak yang tidak kasat mata. Mudik menunjukkan pada kita kesenjangan antara kampung halaman kita dengan tempat kita bekerja. Sehingga kita tidak bisa mengandalkan kampung halaman untuk tempat kegiatan ekonomi kita.

Kenyataannya ada suatu latar sejarah panjang mengenai mudik, yang bisa ditarik sampai masa penjajahan . Asal muasal masyarakat meninggalkan kampung halamannya untuk mencari nafkah. Di mana kapitalisme memainkan peranan. Bahwa kapitalisme mendasarkan keuntungan mereka pada kesenjangan kota dan desa. Menciptakan arena pertarungan lahan kerja bagi tiap calon proletar dan prekariat demi sesuap nasi.

baca juga: Religiusitas Si Kepala Suku

Kolonialisme Belanda berusaha mengubah Hindia Belanda sebagai mesin pencetak keuntungan untuk mereka. Mereka menciptakan tempat-tempat khusus untuk memudahkan pengorganisasian perekonomian di Hindia Belanda. Selain itu keuntungan yang didapat akan lebih optimal. Suatu koloni adalah tempat untuk mengakumulasi kapital. Hakikat kapitalisme adalah akumulasi kapital yang tidak terbatas. Seperti yang dirumuskan oleh Marx sebagai M-C-M1. Kapital harus terus berakumulasi dan mustahil bagi kapitalisme untuk tetap bertahan tanpa adanya akumulasi ini.

Akumulasi ini menciptakan kesenjangan. Pada dasarnya banyak fenomena sosial yang dianggap budaya, seperti mudik, menyembunyikan kesenjangan ini di dalamnya. Eric Wolf mengajukan suatu penerapan metode yang diadopsi dari Marx dengan menganalisis mode of production untuk membongkar kesenjangan di balik fenomena sosial maupun kebudayaan. Mode of production adalah:

“kombinasi dua struktur yang tidak saling mereduksi: the productive process dan the relations of production. The productive process adalah faktor produksi, sumber daya, peralatan, dan manusia, yang menjadi ciri masyarakat dalam produksi. Relations of production adalah menunjukkan peran individu dan grup dalam proses produksi.” (Godelier, 1967: 92)

Maurice Godelier menyebut bahwa “pemahaman ilmiah atas sistem kapitalis mencakup penemuan struktur internal yang tersembunyi di balik fungsi-fungsi kasat matanya” (Godelier, 1967: 92). Upaya untuk membongkar kesenjangan dalam masyarakat harus memperhatikan “struktur internal” yang menjadi fondasi kapitalisme untuk terus bertahan dan direproduksi. Dalam Contribution of Political Economics, Marx membentuk suatu kerangka pemikiran berupa suatu struktur basis dan bangunan atas. Basis merupakan mode of production yang menentukan kondisi bangunan atas (Magnis-Suseno, 2017: 148-153). Dalam konteks mudik, kapitalisme menjadi basis yang membentuk fenomena mudik sebagai suatu bangunan atas. Sehingga dengan memperhatikan mode of production, kesenjangan yang termasuk struktur internal dapat terlihat.

baca juga: Dongeng yang Tak Melulu tentang Pesan Moral

Beberapa fenomena sudah dianggap sebagai hal yang alamiah. Fenomena itu terjadi karena kehendak masyarakat dan terjadi begitu saja. Bukan dikonstruksi oleh pihak tertentu. Anggapan ini membuat fenomena tersebut harus dibiarkan apa adanya karena itu adalah hasil dari proses berkebudayaan. Tetapi kenyataan justru berkata lain, bahwa banyak fenomena dalam masyarakat merupakan yang dianggap alamiah adalah hasil konstruksi.

Mudik tercipta karena konsentrasi kapital di suatu lokasi tertentu oleh pihak kolonial. Kolonialisme di sini memiliki posisi yang sama dengan imperialisme. Dalam definisi yang diajukan oleh Lenin, imperialisme adalah tahapan tertinggi dari kapitalisme. Imperialisme adalah hasil dari kapital yang terus berakumulasi sehingga negara kapitalis harus menyalurkan kapital ke negara koloninya agar kapital tersebut dapat terus berakumulasi. Dari sini, Belanda berusaha menyalurkan kapital mereka ke Hindia Belanda, terutama dalam sektor perkebunan.

Kolonialisme Belanda memindahkan tenaga kerja dari wilayah yang dianggap tidak produktif ke wilayah produktif. Biaya yang dikeluarkan jelas lebih kecil dibanding melakukan pemerataan. Selain itu kegiatan perekonomian yang diandalkan adalah perkebunan komoditi yang sedang laku dalam pasar internasional, seperti gula, kopi, dan teh. Tidak semua wilayah dapat dijadikan kebun untuk komoditi tersebut. Belanda mengonsentrasikan perkebunan tersebut di Jawa.

baca juga: Samuel Huntington di Sela Timur dan Barat

Seiring waktu, kesenjangan semakin melebar. Alhasil masyarakat di era setelah penjajahan juga berpindah dari kampung halaman mereka ke kota untuk mencari nafkah. Kesenjangan antar kota dan kampung halaman yang umumnya desa menjadi alasan bagi masyarakat untuk mengais rezeki di kota. Krisis ekonomi juga membuat sektor pertanian mengalami yang menjadi andalan pedesaan mengalami kemunduran. Msayarakat melakukan urbanisasi yang akhirnya malah membentuk surplus populasi yang melemahkan posisi kaum pekerja.

Pemindahan yang dipaksakan ini menjadi masalah. Kolonial tidak mempertimbangkan relasi sosial masyarakat yang dipindahkan dengan tempat asal mereka. Kapitalisme menciptakan ekonomi formal yang dalam istilah Karl Polanyi sebagai ekonomi yang hanya fokus pada untung-rugi dan “...mengasingkan atau mencerabut ekonomi dari relasi-relasi sosial...” (Herry-Priyono, 2014: ix).

Melalui mudik, relasi sosial yang telah tercerabut berusaha direkonstruksi. Relasi sosial dengan keluarga besar di kampung halaman dibangun dengan momentum perayaan Lebaran. Dalam konteks ini, Lebaran menjadi suatu faktor pembangun kohesi sosial. Dalam istilah Durkheim, mudik adalah ritual yang berfungsi mewujudkan social representation, menghadirkan kembali kerekatan antar anggota keluarga setelah sekian lama berpisah.

baca juga: Kita Sama Resahnya

Dengan tulisan ini, saya berharap bahwa mudik menjadi ajang refleksi. Untuk merenungkan “struktur internal” yang ada dalam masyarakat. Bahwa kesenjangan ini tidak bisa terus dipelihara. Harus ada upaya untuk menghapus kesenjangan tersebut. Tapi hendaknya upaya itu disertai dengan suatu pemahaman mendalam akan “struktur internal” yang tadi disebutkan. Melalui mudik kita justru menyadari bahwa kampung halaman kita hendaknya dibangun menjadi tempat yang ramah. Tidak seperti tempat kita berjuang mencari nafkah selama ini yang membuat kita tercerabut (disembeddedness) dari relasi sosial dengan keluarga.

  •  

Referensi:

Booth, Anne E. (2007). Colonial Legacies: Economic and Social Development in East and Southeast Asia. Honolulu: University of Hawai’i Press

Breman, Jan. (1980). The Village on Java and the Early-colonial State. Rotterdam: Erasmus University

Durkheim, Emile. (1995). The Elementary Forms of Religious Life. New York: Free Press

Godelier, Maurice. (2015). “System, Structure and Contradiction in Capital”. Socialist Register, Vol. 4: 91-119

Habibi, Muhtar. (2016). Surplus Pekerja di Kapitalisme Pinggiran: Relasi Kelas, Akumulasi, dan Proletariat Informal di Indonesia sejak 1980an. Tangerang Selatan: Marjin Kiri

Herry-Priyono, B. (2014). “Karl Polanyi Menggugat Ekonomi” dalam Justinus Prastowo. Ekonomi Insani: Kritik Karl Polanyi terhadap Sistem Pasar Bebas. Tangerang Selatan: Marjin Kiri

Lenin, Vladimir I. (1999). Imperialism: The Highest Stage of Capitalism. Sydney: Resistance Books

Magnis-Suseno. (2017). Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Wolf, Eric. (2001). “The Mills of Inequality: A Marxian Approach” dalam Pathways of Power: Building an Anthropology of the Modern World. Berkeley: University of California Press.

  •  
 Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan


0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: