Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Nadi Seruling dan puisi-puisi lainnya karya Cep Subhan KM

Oleh: Cep Subhan         Diposkan: 03 Nov 2018 Dibaca: 2712 kali


NADI SERULING

 

Sebermula musim tunas-tunas sepanjang jalur
beredar matahari. Aku selalu rindu persimpangan
sebelum kembali tengok acak barisan jamur
pada sengkang tiang-tiang lampu
di tepi jalan.
 

Aku mengenal-Mu lewat darah yang mengalir
pada lintas tembuni, seperti embun luruh
pada ujung daun saat usai subuh
tembangkan ilir-ilir...
 

Lalu kujumpai Kau pada nadi yang menyimpan
ribuan nada seruling. Aku selalu kembali
ke tanah di mana sinar bulan
asyik menari,
sementara pada muka danau
riak-riak kecil lahir riang
dari itik bercumbu
asyik sepasang.
 

Lalu kupelajari firman-Mu lewat metrum
bulir-bulir air yang memercik saat kuceburkan tubuhku
tanpa mengganggu cumbuan
itik yang sejarak aku dengan-Mu,
lebih dekat dari merih
pada leher-Ku.

  •  

 

TIRTA
 

Pada kulit itu tanah menyimpan warna murni
seperti sepuh kuas pelukis
saat fajar mulai tampak dan kanvas
tak lagi semurni bayi
yang lahir pada hari ini.
 

Lalu mentari hadir, dan kuucapkan puja
sambil mengintip bibir
lewat jendela, dari balik tabir
terdengar sabda: “Akulah penyihir malam
yang mampu membuat jemarimu
tak sabar diam...”
 

Ada hening saat jeda tak ada
di antara dua buah delima yang mengatup
menyaring suara. Aku pun tak lagi ingat
ke mana gerangan pergi
jari merayap.
 

Lalu dalam kuil musik menukar
warna tanah kulitmu
dengan gaun merah. Pada batu-batu mekar
bunga-bunga saat tubuhmu berputar
dan keringat merekam kenangan
sebuah tarian.

 

“Kemarilah,” matamu berbisik, sepi sekitar.
Kutatap altar dan api menggelora
dalam tubuhku, o
merah menyepuh mahkota menampak
bayang sanggul dari belakang.
 

Kubayangkan berkilat kalung di leher
dan rambut cokelat menyingkap
mungil huruf L yang terselip
di antara sekal bukit,
sedang hangat alur punggung
menguar uap yang kuhirup
dan musik melambat...
 

Lalu kugerakkan tangan, sekitar remang
api terang pada kuil
dalam atmaku. Terang, terang gaun merah,
bibir delima, huruf L pada kalung,
rambut cokelat, menyapu hidung.
 

“Bimbing jariku,” bisikku berlutut.
Lalu dalam remang kulihat
jejak-jejak api pada lekuk dan sekal
yang memanggil pelukis gerakkan jari
meraih kuas, mengusap kanvas.

  •  

 

MALAM SUCI

--sebuah doa untuk bencana Palu

Gema nama Tuhan membawa puisi bumi
ke langit di mana malaikat sibuk
menata panggung resitasi.
 

Sebab Tuhan, kata puisi
adalah mata yang berbinar
menatap gerak udara meniup cahaya lilin
lantas badai berdamai
dengan puisi,
sedang pada prosenium tampak
helai naskah, kosong, melayang riang
menunggu ditulisi.


Dan kita penonton...


Kita penonton yang tergetar
tawarkan diri menabuh tambur
bersama dewa anggur
saat Afrodit tebarkan benih baru
dari kereta yang ditarik
empat kuda sembrani
menuju pelataran di mana kambing dan sapi
menundukkan kepala mendengar Mazmur
bertukar tangkap gema si miskin
mengguncang singgasana Tuhan
lalu kita dengar janji
bahwa esok hari

bencana di bumi
tak ada lagi.

  •  

MINGGU
 

Yang setia menyambut pagi
adalah penis ereksi
pada teritis dan kelopak mawar yang menggigil
sejak malam hari.
 

Lewat celah pagar mentari berbelok dari
jalanan lengang,
“Ada bau rindu
kelopak mekar
yang menarikku,”
bisiknya.


Tak kuingat tamu lain akan datang pagi ini,
tak kuingat ada koran dan penjual ramuan
kejantanan. Tak ada ilusi hari ini,
hanya teritis basah, kelopak mawar mekar,
sinar mentari.
 

Mungkin aku akan mencuci, atau hanya menari
pada lingkar taman, kebun belakang, kamar mandi.
Atau mungkin ada yang lain yang mesti
kusambut pagi ini
sedang lupa adalah bagian dari ingatan
yang tak pernah pergi.

  •  


JAM KERJA PARA DEWA
 

Sementara dewa-dewa asyik berbincang bahasa,
rembulan terang di atas langit bagian lain
belahan dunia.
 

Tak ada yang tunggal pada terang yang dipantulkan
daun-daun Oak dan ranting-ranting
Pohon Tusam. Tak ada tatap yang sama
dari Kucing Siam pada bubungan,
Kuda Nil, dan Pungguk pada dahan...
 

Tapi dalam ingatan metropolis yang ada adalah
gurat wajah yang sama kaku, jas-jas seragam,
kartu nama yang tertinggal
di kedalaman saku
mencatat nama, alamat, dan rutinitas
yang mahahormat.
 

Bahasa adalah jalanan sibuk pada jam yang sama,
gaji yang seragam dalam sungkup kota malam
di mana hal-hal yang janggal diusir
oleh lampu terang pada pojok taman.
 

“Setiap yang janggal adalah korupsi,”
bisik mereka, “menara Babel adalah fiksi
dalam kitab suci.
Bukankah peradaban kita
menolak gratifikasi?”
 

Lantas gratifikasi menjadi bagian peta
yang telat dicetak tiap kali kita ingat
tarikh Sumpah Pemuda.
 

“Hanya ada satu peta yang boleh ditempel
pada dinding kota,” bisik mereka.
“Peta yang beragam membuat kita tersesat
dan lupa alamat rumah yang tercatat
di kelurahan.”
 

Hanya dua jam. Tak ada jam kerja bagi para dewa
dan bahasa sudah tuntas sejak kamus lahir
bersama sebuku aturan
tata bahasa.
Tak ada lagi yang mesti dibahas, selain seragam
untuk merayakan hari ketika bahasa
menjadi tamu pesta di ibu kota
sementara bulan sejak lama beringsut pergi
menyinari Pungguk yang lain, Kucing Siam,
Kuda Nil, Pohon Tusam.

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: