Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Naela dan Kupu-Kupu

Oleh: Yuditeha         Diposkan: 24 Nov 2018 Dibaca: 1516 kali


Rumah mungil ini sudah kutempati dua pekan yang lalu. Tapi aku merasa baru bisa bersantai dua hari ini, dimana sebelumnya sibuk perihal pindahan dan menyiapkan toko bunga yang ingin kukelola di kota kecil ini. Benar kata orang, tak ada yang lebih melelahkan selain pindahan. Mengusung perabot dan menatanya kembali di tempat yang baru, sungguh memforsir fisik dan perasaan. Untunglah semua itu bisa kulalui dengan lancar.

Siang ini, aku duduk santai di teras, sembari menikmati roti tawar dan segelas teh, sengaja aku memerhatikan dengan saksama sekeliling rumah. Meski pemukiman rumah ini cukup padat, jarak antar rumah begitu dekat, tapi selama dua hari ini aku tak melihat keriuhannya. Kemarin aku sempat melihat seorang gadis kecil yang tinggal di samping rumahku, asyik bermain di halamannya. Dia sedang berusaha menangkap kupu-kupu yang beterbangan di antara tanaman bunga-bunga yang tumbuh di halaman rumahnya. Mata kami sempat beradu sejenak ketika beberapa kali dia gagal menangkap kupu-kupu itu. Pada saat itu aku menganggukkan kepala sambil sedikit tersenyum, maksudku untuk menyapa. Tampaknya gadis kecil itu tidak merespon sikapku. Dia hanya sekilas menatapku dengan wajah datar, lalu kembali sibuk dengan kupu-kupu itu.

Sebagai warga baru, tentu saja aku ingin segera mengenal tetangga, tapi selama dua hari ini, selain gadis kecil itu, aku tidak menjumpai mereka. Dan siang ini, di hari Minggu ini, pikirku semoga akan bertemu beberapa warga yang muncul, lalu berkenalan, jika perlu melakukan perbincangan seperlunya. Tapi sudah hampir dua jam aku duduk di teras rumah, belum juga mendapati warga yang melintas di depan, atau sekadar muncul di beranda rumah-rumah mereka. Pada saat aku memutuskan hendak masuk ke rumah, gadis kecil yang kemarin menangkap kupu-kupu muncul kembali dari dalam rumahnya, lalu duduk di bangku teras. Sekilas dia memandang ke depan. Mungkin dia mengamati kupu-kupu yang sedang beterbangan di halaman.

baca juga: Tuhan Sedang Tidur ketika Kampung Kita Digusur

Saat dia bangkit dari duduk, matanya sempat menatap ke arahku dengan raut wajah sama dengan kemarin. Datar. Tak lama kemudian dia menuju halaman dan beraksi lagi, berusaha menangkapi kupu-kupu. Karena kemunculannya, kuurungkan niatku untuk masuk rumah. Aku ingin melihat polah tingkah gadis kecil itu, bagaimana dia menangkap kupu-kupu. Setiap kali dia gagal menangkapnya, sedetik kemudian dia menatapku, begitu seterusnya, dan ketika aku memerhatikan raut mukanya, dia seperti tidak suka jika aku melihatnya. Mungkin dia merasa risih, karena pandanganku dianggap mengganggu konsentrasinya. Karena itu aku segera memutuskan masuk rumah saja, dan dari dalam rumah aku sesekali memerhatikannya dari balik kaca jendela rumahku. Pada saat itu aku bisa tahu dia tetap melihat ke arah rumahku setiap kali dia gagal menangkap kupu-kupu. Meskipun aku yakin, pengintaianku tidak terlihat olehnya, karena kaca jendela rumahku berjenis kaca riben, tetapi lama kelamaan aku merasa tidak enak juga. Lalu aku memutuskan untuk tidak melihatnya sama sekali. Aku berpikir, mungkin perkenalanku dengannya akan terjadi dengan cara yang berbeda.

Waktu yang tersisa di hari ini kuputuskan membaca buku. Kupilih satu buku yang kubawa waktu pindahan dulu, kemudian duduk di kursi tengah. Pada saat aku sedang khusyuk-khusyuknya membaca, kudengar teriakan dari luar rumah. Kontan buku yang kubaca kuletakkan di meja dan segera keluar melihat apa yang terjadi. Ternyata gadis kecil itu berada di halaman rumahku dalam keadaan tersungkur di tanah. Aku berlari mendekatinya, kubantu dia bangun, tapi pada saat itu dia mengaduh kesakitan. Mungkin kakinya keseleo. Aku membopongnya menuju teras rumahku. Kukompres kakinya yang sakit. Biar keslimur rasa sakitnya, pada saat aku mengompres itu, kuajak dia bicara.

“Kamu suka kupu-kupu?”

Kepalanya menggeleng tetap dalam keadaan menunduk.

“Tapi kulihat kamu suka menangkap kupu-kupu.”

Dia mengangguk.

“Kamu taruh mana kupu-kupu yang kamu tangkap itu?”

“Aku bebaskan.”

“Kamu menangkapnya, lalu kamu bebaskan lagi?”

“Aku ingin pulang. Sebentar lagi mama datang,” katanya sembari dia berusaha untuk bangkit dari kursi. Aku membantunya berdiri. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin kutanyakan, tetapi gadis kecil itu sudah keburu permisi pulang.

baca juga: Puisi-Puisi Sengat Ibrahim

Meski masih agak susah jalannya tetapi dia menolak waktu aku menawarkan bantuan untuk membopongnya pulang. Kuperhatikan dia berlalu dari hadapanku dengan keadaan kakinya terpincang-pincang. Oh iya, aku baru ingat, aku belum menanyakan namanya. Dengan sedikit mengeraskan suaraku, aku bertanya siapa namanya.

“Naela,” jawabnya tanpa menoleh ke belakang.

“Nama yang bagus,” kataku lirih.

***

“Mi, izinkan aku pergi dari sini.” Untuk yang kesekian kalinya waktu itu aku merayu mami. Aku merasa, keinginanku sudah mantap untuk mengakhirinya. Aku ingin hidup baru. Aku ingin berjuang di sisi hidup yang lain. Jikapun akhirnya aku bisa pergi dari sana, bukan lantas aku berhasil terlepas dari belenggu hitam. Menurutku, belenggu hitam itu ada di setiap sisi kehidupan. Dalam hal ini aku hanya ingin hidupku lebih baik. Selain itu aku merasa telah cukup siap untuk menderita lebih banyak lagi. Sesungguhnya saat aku bisa melepas belenggu hitam yang di sana, aku telah membangun tantangan hidup yang lain, yang pasti tidak menjadi lebih mudah. Aku hanya ingin mempertimbangkan tentang kesadaraku yang waktu itu sering mengemuka dalam pikiran dan perasaanku.

Aku meminta izin baik-baik pada mami, karena beliau telah seperti keluarga. Dia adalah penolong di waktu itu. Dan jika aku sudah tidak di sana lagi, bukan lantas kedudukan mami menjadi begitu rendah. Sama sekali tidak seperti itu. Hal ini kuanggap seperti sebuah kesadaran yang datangnya pada waktu yang semestinya. Ibarat orang yang dulu suka menghitamkan rambut yang mulai beruban, suatu kali harus melepas dirinya untuk tidak menghitamkan lagi rambutnya. Ketika memutuskan untuk tidak menghitamkan lagi ubannya, seharusnya tidak menjadi pribadi yang suka melecehkan orang-orang yang masih suka menghitamkan rambutnya yang beruban. Mungkin begitu penjelasan sederhanaku tentang duniaku dulu dan yang aku jalani kini.

baca juga: Sajak-Sajak Saifa Abidillah

Sampailah aku di sini, di kota kecil ini, aku akan memulai hidup baru dengan usaha baru, membuka Toko Bunga. Semoga Toko Bunga itu bukan saja bisa menghidupiku, meski hanya dengan sederhana, tetapi lambat laun juga bisa merubah bau tubuhku menjadi wangi bunga-bunga.

***

Siang ini aku melihat Naela kembali menangkap kupu-kupu. Aku merasa ada yang berbeda dari dirinya. Apa ya? Oh, raut wajahnya. Kulihat wajahnya lebih cerah dari sebelumnya . Apakah itu karena kami sudah saling mengenal? Tapi aku merasa belum yakin jika alasannya karena itu, sebab kemarin sore, pada waktu dia  terjatuh sampai dia pulang, wajahnya masih tetap datar. Aku masih duduk di teras, mengamatinya. Kupikir keceriaan itu mempengaruhinya dalam menangkap kupu-kupu. Dia mendapat banyak kupu-kupu. Tapi tunggu dulu, mungkin justru berlaku sebaliknya, wajahnya sumringah karena hari ini dia bisa menangkap kupu-kupu banyak. Iya, kupikir alasan itu lebih masuk akal. Setiap dia berhasil menangkap kupu-kupu, dia menoleh ke arahku sembari bibirnya sedikit tersenyum, begitupun diriku, ikut-ikut tersenyum. Kupu-kupu yang berhasil dia tangkap dimasukkan ke dalam plastik. Tentu saja aku tidak mengawaktirkannya, karena menurut pengakuannya kemarin, kupu-kupu itu akan kembali dilepaskan. Ah, aku jadi ingat sebuah acara petualangan di salah satu stasiun televisi, Mancing Mania. Jika pemancing berhasil menangkap ikan, segera ikan dilepaskan lagi. Kupikir itu permainan sedikit konyol. Mereka hanya memburu sensasi ketika umpan dimakan ikan dan menariknya. Tapi entah mengapa setelah itu perasaanku menjadi lebih tenang hingga aku bisa dengan ringannya meninggalkan Naela sendirian bermain dengan kupu-kupunya. Aku masuk rumah, bermaksud menyiapkan segala sesuatu mengenai usaha yang akan aku kelola.

Menjelang sore, selepas aku melihat tempat yang sedianya akan kujadikan tempat usaha, di perjalanan pulang aku teringat Naela, dan ingin membelikan sedikit oleh-oleh jajan padanya. Sesampainya di rumah, setelah meletakkan barang bawaanku dan bersih-bersih diri, aku pergi ke rumah Naela untuk mengajaknya menikmati jajan yang kubawa.  Kupikir kami bisa bersama-sama makan di teras sembari menikmati udara sore yang cerah ini. Sesampainya di depan pintu rumah Naela, saat aku hendak mengetuk pintu, aku mendengar suara di samping rumah. Kudengar seperti suara Naela. Aku berjalan mendekati sumber suara itu. Sesampainya di samping rumah, rupanya benar, Naela sedang bermain di sana. Dia berbicara, tapi entah dengan siapa. Oh, mungkin dia berbicara dengan kupu-kupu yang ditangkapnya. Tapi saat aku mendengarkan dengan saksama apa yang dikatakan Naela, tiba-tiba jantungku berdegub cepat.

baca juga: MERAPI MELETUS BERTEPATAN DENGAN WETON SAYA

“Aku benci kamu. Aku benci sayapmu. Sayapmu memang indah tapi bagiku keindahan semu. Karena itu aku mencabuti sayap-sayapmu. Lebih baik kamu tanpa sayap, agar kamu tahu rasanya jadi buruk. Aku juga benci tubuhmu. Tubuhmu kotor dan menjijikkan. Karena itu, besok akan kulempar kamu ke tengah jalan, agar dilindas kendaraan.”

Mendengar semua perkataannya, tubuhku tiba-tiba lunglai. Maksud hatiku ingin menghentikan tindakannya mencabuti sayap kupu-kupu itu. Tapi entah mengapa aku seperti tanpa daya. Mulutku rekat, sulit sekali kubuka.

“Terlebih lagi, aku benci teman-temanku. Mereka tak punya perasaan. Mereka suka menghinaku. Kamu tahu, mengapa kejengkelanku kutumpahkan kepadamu? Karena kamu sumber segala masalah. Kamu tahu, mengapa bisa begitu? Karena mereka sering mengatakan mamaku kupu-kupu malam. Aku benci kata-kata itu. Aku membencimu. Aku benci mamaku.” Naela terus saja bicara, bahkan saking asyiknya bicara sampai tak menyadari kehadiranku. Sementara aku di belakangnya semakin merasa lemas. Badanku seperti lumpuh. Kakiku tak kuasa menyangganya, hingga aku terjongkok dengan kaki gemetar.

“Tapi lumayan, kini aku punya teman baru. Dia perempuan yang tinggal di samping rumahku. Dia orang baik. Tidak seperti kamu. Tidak seperti teman-temanku. Dan tidak juga seperti mamaku.”

  •  


0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: