Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Nada Dasar Cinta Naked Sales

INILAH esai-esai Muhidin M. Dahlan (Gusmuh), yang sempat dimuat dan tidak. Esai yang dimuat tersebar di media daring dan luring. Ada enak dibaca dan "tidak". Ada menggugah, memancing keributan, dan ada yang lurus seperti jalan tol tanpa zig-zag. Terangkai menjadi satu. Saya menyebut rangkaian itu adalah NakalHarus, GoblokJangan.

Bila menukil kalimat Ignas Kleden dalam Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan Budaya (2004: 463) bahwa membaca esai cenderung membuat kita teringat pada penulisnya, gerak-geriknya, mimiknya, dan gestikulasinya maka membaca esai Gusmuh juga demikian. Gusmuh membuka tabir pengetahuan sejarah; memberi tanda lampu hijau untuk mengetahui jejak baik orang-orang yang dianggap membangkang dan memberontak.
 
Kalau Anda rajin mengikuti upacara 17 Agustus atau sempat belajar sejarah kemerdekaan Indonesia maka nama bab-bab tersebut tidaklah asing. Ya, itu penggalan-penggalan teks Proklamasi. Tidak ada tendensius apa pun mengapa saya mengambil dari teks Proklamasi, selain memudahkan pembaca.

Salah satu kelihaian Gusmuh dalam menulis adalah mengaitkan isu kontemporer dan sejarah masa lalu yang sempat viral pada zamannya. Itulah kekuatan arsip yang ia kumpulkan sejak kuliah. Hingga sekarang ia masih tekun mengkliping peristiwa masa kini dan masa lalu.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Novel dan Sastra
Ketebalan : 451 hlm | Bookpaper
Dimensi : 13x19 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia, 2018
Stock: Tersedia
Penerbit: I:Boekoe
Penulis: Muhidin M. Dahlan
Berat : 500 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat


Rekomendasi Bacaan Serupa