Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Natal dan Cerita-cerita yang Terbaca

Oleh: Setyaningsih         Diposkan: 22 Dec 2018 Dibaca: 1284 kali


Selama sekian tahun sejak belia sampai dewasa, momentum saya “merayakan” natal adalah menghadap televisi. Film Home Alone (1990) seri satu sampai empat menghadirkan Macaulay Culkin dan Scarlett Johansson kecil semacam menjadi pengalaman bernatal bukan dalam tataran teologis, tapi lebih ke semacam kegembiraan saya yang seorang Muslim mengonfirmasi pengalaman (beragama) orang lain di negeri seberang.

Pengalaman ini seperti apa yang dikatakan oleh Jalaluddin Rakhmat (2013) ihwal anak dan beragama. Ia pernah menulis tentang masa kecilnya, “Pada masa kecil dulu saya melaksanakan shalat tarawih memang bukan untuk pengalaman keagamaan, akan tetapi menjadi semacam hiburan. Saya kira tidak ada anak-anak yang merasakan pengalaman keruhanian di dalam shalat tarawih selain kebahagiaan, kegembiraan, dan keceriaan.” Agama menyalurkan kegembiraan yang secara umum tidak diharapkan karena ada pahala dan pamrih masuk surga kelak.

baca juga: Pesantren Tak Melayani Cebong dan Kampret

Menghadapi sajian Home Alone tentang anak laki-laki di Inggris merayakan natal sekaligus berstrategi menghadapi pencuri sendirian, benar-benar sulit membosankan. Bahkan, saya merasakan film ini semacam menjadi tontonan keluarga nan seru tanpa pengharaman apalagi ketakutan pada konsekuensi-konsekuensi merasakan perbedaan. Keluarga dalam ritus hari raya mengikat naluri berkumpul sebagai naluri dasariah raga manusia.

“Merayakan” Natal pun berlanjut pada kisah-kisah yang terbaca. Ada buku Diari Sinterklas (Alice Briere-Haquet, Helene Briere-Haquet, dan Francois-Marc Baillet, 2013). Pembuka buku ini langsung mempertentangkan antara rasio dan fantasi, terutama dalam penerimaan orangtua dan anak. Kita cerap, “Aku lahir dalam sebuah keluarga yang biasa-biasa saja bahkan agak muram. Papa dan Mama sangat baik, tapi mereka benar-benar tidak punya fantasi. Mereka langsung menegaskan dengan jelas bahwa Sinterklas, peri, dan tikus kecil itu tidak ada. Semuanya dongeng belaka.” Ketika suatu malam si aku bangun karena haus, “Dia di sana, Sinterklas itu sendiri! Kami mengobrol dan mengobrol. Ketika dia pergi, aku ingin tahun berikutnya cepat tiba!”

Dari fantasi, pertemuan anak dan tokoh “magis” Sinterklas terjadi dengan manusiawi. Mengobrol dengan Sinterklas dirasakan tidak jauh berbeda dari mengobrol dengan orangtua, nenek, atau teman sekelas. Daripada membawa tokoh dalam kesucian, cerita lebih bergulir di keseharian dan prosesi tugas Sinterklas yang mahaajaib. Anak-anak diajak berimajinasi ke rumah, pakaian, raga, pohon cemara, kereta salju, rusa kutub, surat-surat dari penjuru dunia, kurcaci, dan perjalanan menebar hadiah. Narasi ini jelas menghibur anak-anak tanpa doktrin atau kepastian pada setiap hal harus nyata. Cerita masih membutuhkan keajaiban dan kegembiraan.

baca juga: Ketika Sapiens Tak Lagi Relevan

Dari pengarang Indonesia Reda Gaudiamo, kita bertemu dua bocah bergembira dalam perbedaan tanpa harus penulis menyebutkan secara gamblang agama masing-masing. Reda menulis Na Willa dan Rumah dalam Gang (2018) dalam kepolosan, penasaran, kegembiraan mengalami beragama sebelum menjalani ajaran-ajaran. Na Willa si bocah 5 tahun berteman dan bertetangga dengan Farida. Hari-hari di sebuah gang di Surabaya masa 60-an adalah kebersamaan tanpa jargon multikulturalisme atau keragaman. Tidak ada perbedaan karena perbedaan ada saat dikatakan secara mutlak.

Suatu hari menjelang Natal, Willa dengan girang mengajak Farida menghias pohon natal. Ibu Farida tidak menempatkan pengertian “menghias” dan “pohon natal” dalam identitas agama, tapi lebih sebagai ritus bermain. Izin bermain dengan Na Willa secara otoritatif mengentengkan pada cara orang berhubungan dengan yang beda. Ibu Farida tidak akan bertindak konservatif ala orang-orang yang merasa diri paling benar dan suci, tapi justru merumitkan hal-hal yang seharusnya berjalan dengan manusiawi. Pun Ibu Willa menyambut Farida dengan keentengan sama tanpa pelabelan agama.

Kita cerap, “Mak buat ayam, kucing. Semua digantung di dahan-dahan kecil pohon. Sampai sore aku, Farida, dan Mak sibuk bekerja di meja makan. Hampir magrib, Mak menyuruh kami berhenti. Cuci tangan, meja dibersihkan. Pak akan pulang sebentar lagi dan Farida harus pulang. Ia akan mengaji bersama kakak-kakaknya.” Anak-anak berteman bukan karena agama, tapi karena bisa saling membagi gembira. Cerita-cerita begitu bersahaja karena tidak diletakaan sebagai teks kanon dari sastra kristiani.

baca juga: Tak Ada Tuhan di Kamar Depan

Teladan Religius

Kita tentu tidak meluputkan cerita-cerita yang ditulis oleh Jacob Grimm dan Wilhelm Grimm yang membawa peristiwa dan tokoh sebagai teladan religius salah satunya dihimpun dalam buku tebal Dongeng & Cerita Grimm Bersaudara (2010). Cerita-cerita religius dihimpun tanpa harus ada kepastian pembabakan waktu di hari Natal. Cerita-cerita Grimm bersaudara cukup sering menokohkan si papa sebagai teladan atas kehidupan, kebersahajaan, kemiskinan, dan kematian yang mulia.

Di cerita “Kemiskinan dan Kerendahan Hati Jalan Masuk Surga”, kita dihadapkan pada seorang janda amat miskin dengan kelima anaknya yang mengalami kelaparan. Sebaliknya, saudara perempuan si janda tidak memiliki anak hidup dengan kakayaan dan kepelitan akut sampai enggan membagi sedikit roti. Tindakan perempuan kaya ini mendapatkan ganjaran aneh. Roti yang disiapkan oleh suami mengeluarkan darah begitu dipotong. Suami si kaya segera pergi ke rumah janda untuk memberi roti. Namun, janda dan anak-anaknya sedang menjelang kematian. Ia mengatakan, “Kami tidak memerlukan lagi makanan duniawi. Tuhan telah memberi mereka makanan dan Ia akan mendengar semua doa kami juga.” Di kehidupan mutakhir yang sangat merasiokan material, cerita-cerita ini masih tetap mengharuskan meski orang lebih akan berpikir untuk menjadi pihak yang kaya tapi tidak fakir memberi daripada hidup dalam kemiskinan nan mulia.

Di cerita “Ranting Hazel”, ada semacam pengertian pada muasal penciptaan perlambang yang menjadi pegangan. Diceritakan saat ibu Yesus pergi ke hutan untuk mencari buah arbei untuk Yesus. Ketika hendak memetik buat arbei yang rimbun, ular berbisa keluar dari rumput. Ibu Yesus berlari karena takut, tapi ular mengerjar. Ibu Yesus pun bersembunyi di balik pohon hazel sampai ular pergi, “Seperti pohon hazel telah melindungiku hari ini, maka ia akan melindungi yang lainnya di masa yang akan datang.” Inilah permulaan ranting hazel menjadi perlambang perlindungan dari ular berbisa dan binatang melata. Orang-orang Indonesia pembaca Grimm tentu merasakan ekologi yang sangat Eropa meski mengandung pesan yang sama secara global.

baca juga: Memperbesar Kemungkinan dengan Imajinasi

Cerita-cerita religius yang terbaca bisa menjadi perjalanan lintas iman dan kegembiraan. Beragama butuh kegembiraan daripada pamrih-pamrih besar pahala dan surga. Hari-hari ini, mungkin kita sempat merasa bahwa mencipta kegembiraan di tengah suasana beragama yang makin konservatif, sama halnya dengan mengharap mukjizat dari masa-masa lawas.

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: