Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Nietzsche dan Jejak Tradisi Klasik

Oleh: Mario F. Lawi         Diposkan: 21 Mar 2019 Dibaca: 2045 kali


Umberto Eco, di akhir esainya yang berjudul “La Poetica e noi” (Poetika dan Kita), melemparkan pertanyaan kepada para pembaca, “[M]engapa kita tidak berangkat mencari teori ilmu pengetahuan modern tidak (tidak hanya) dalam Analitika, tetapi juga dalam Poetika dan Retorika?” Pertanyaan tersebut diajukan Eco setelah membuka esainya dengan permintaan, “Izinkan saya, sebagai orang Italia, menghadapi pertanyaan dari Poetika Aristoteles dalam bentuk pengakuan seorang putra zaman ini,” dan berpanjang lebar menguraikan penemuannya terhadap jejak-jejak Aristoteles yang diperolehnya dalam karya-karya modern, dan pentingnya Poetika  bagi para kritikus dan penulis karya sastra melalui pembacaan atas versi Yunaninya, hingga ambiguitas-ambiguitas dalam Poetika .

Melanjutkan pertanyaan Eco di awal tulisan ini, karya Friedrich Nietzsche berjudul Ecce Homo ditulis tidak hanya dengan kesadaran untuk mencari inspirasi dari karya-karya klasik, melainkan juga menerapkan pengetahuannya terhadap khazanah klasik melalui bentuk karya sastra yang digunakan pada masa tersebut. Sebagai filolog Latin dan Yunani Klasik, Nietzsche tentu tak asing dengan aforisme, satire dan autobiografi dalam karya-karya klasik yang dipelajarinya.

Satire adalah contoh yang mekar dalam tradisi puisi Latin Klasik, dikerjakan dengan gigih oleh para penyair seperti Horatius dan Juvenalis. Quintilianus bahkan dengan yakin menulis, “Satire sepenuhnya adalah miliki kita,” (Institutio Oratoria, buku 10, bab 1:93) setelah menyinggung tradisi-tradisi sastra Latin yang dikembangkan dari tradisi Yunani. Tradisi modern membagi dua jenis satire berdasarkan nama kedua penyair Latin terkenal tersebut: satire Horatian untuk jenis satire yang toleran dan jenaka, dan satire Juvenalian untuk jenis yang blak-blakan dan kasar, sebagai lawan dari satire Horatian. Satiris lain, sekaligus filsuf Stoik dan dramawan Latin Klasik, Lucius Annaeus Seneca, adalah tokoh yang juga terkenal karena aforisme-aforismenya. Sedangkan, autobiografi, sebagai isi, bisa kita lacak dalam prosa maupun puisi klasik. Pengelompokan puisi-puisi Catullus yang ditujukan kepada Lesbia, misalnya, hanya mungkin dilakukan karena ada dimensi autobiografis yang ditemukan dalam puisi-puisi tersebut. Comentarii de Bello Gallico, prosa Julius Caesar, adalah contoh karya autobiografi yang paling terkenal dari khazanah Latin Klasik.

baca juga: Laut Bercerita dan Unsur Jurnalisme dalam Fiksi

Dari Ecce Homo, kita tahu Nietzsche berkenalan dengan khazanah klasik ketika mengenyam pendidikan di Schulpforta. Pengalamannya di Schulpforta ditulisnya dalam salah satu bagian Ecce Homo:

“Menulis esai panjang bahasa Latin dalam sekali duduk semalam lalu membuat banyak salinannya, dengan ambisi di penaku untuk meniru ketegasan dan kepadatan Sallust modelku, dan menuangkan banyak sekali minuman panas beralkohol kelas paling berat ke bahasa Latinku, bahkan ketika aku masih menjadi murid Schulpforta yang terpandang itu tanpa mengganggu fisiologiku, mungkin juga fisiologi Schulpforta ...” (Nietzsche, Mengapa Aku Begitu Pandai (terjemahan Noor Cholis), Circa, 2019: 24-25)

Nietzsche kemudian memperoleh gelar doktor di bidang filologi klasik dari Universitas Leipzig di bawah bimbingan Friedrich Ritschl, seorang pengajar karya sastra klasik yang terkenal atas kajiannya terhadap karya dan manuskrip Plautus. Nietzsche menjadi profesor klasik di Basel pada usia 24 tahun. Satire dan autobiografi adalah dua bagian dari khazanah klasik yang mesti dipertimbangkan ketika kita membaca buku Nietzsche, Ecce Homo, buku kedua yang diterbitkan pascakematiannya setelah Der Antichrist. Fluch auf das Christentum.
 


Penerbit Circa, 2019

 

Awal tahun ini, penerbit Circa menerbitkan terjemahan atas tiga bagian pertama Ecce Homo dengan judul Mengapa Aku Begitu Pandai (Circa, 2019). Terjemahan Indonesia ini juga berisi aforisme-aforisme Nietzsche dari karyanya yang berjudul Menschliches, Allzumenschliches. Ein Buch für freie Geister. Dua bagian yang dijadikan satu buku ini diterjemahkan Noor Cholis dari versi terjemahan Inggris: tiga bagian awal Ecce Homo dari Why I am So Clever (Penguin Classics, 2016), dan bagian aforisme dari Aphorisms on Love and Hate (Penguin Classics, 2015). Bagian selanjutnya dari tulisan ini hanya akan berurusan dengan tiga bagian awal Ecce Homo yang menjadi bagian dari Mengapa Aku Begitu Pandai.

Ecce Homo sebagai autobiografi adalah hal yang tampak begitu jelas: Nietzsche tidak hanya berbicara tentang dirinya dan kehidupannya, melainkan juga tentang buku-bukunya. Lantas, sebagai satire, apa yang disasar Ecce Homo sebagai bahan ejekan?

baca juga: Kesusastraan Hemingway di Tengah Tegangan Benang Pancing dan Kecipuk Ikan

Penggunaan frasa Latin vulgataEcce homo” (“Lihatlah orang ini!”, Yohanes 19:5) adalah satire justru karena karya tersebut adalah autobiografi. “Ecce homo”, frasa yang digunakan Pilatus untuk menunjuk Yesus, dipakai Nietzsche untuk menunjuk “aku” dalam autobiografinya: ia adalah si tersalib sekaligus si penyalib. Andreas Urs Sommer dalam Kommentar zu Nietzsches (De Gruyter, 2013: 341) bahkan memberikan tafsir yang lebih jauh tentang hubungan antara Alkitab dengan Ecce Homo. Menurutnya, meski agak berlebihan, karena dua bagian terakhir dihilangkan oleh keluarga Nietzsche, enam bagian dan sepuluh buku dalam daftar isi manuskrip Ecce Homo masing-masing bisa dihubungkan dengan enam hari penciptaan dalam Kitab Kejadian dan dekalog Musa dalam Kitab Keluaran.

Membaca bagian pertama buku Mengapa Aku Begitu Pandai, “Mengapa Aku Begitu Bijaksana”, kita akan segera sadar, salah satu sasaran satire Nietzsche (dalam nada Juvenalian, tentu saja) dalam buku ini adalah kekristenan, terutama konsep moralnya. “Fatalitas” dalam kalimat pertama bab ini adalah terjemahan dari bentuk datif das Verhängnis, yang juga berarti “takdir”. Jika “takdir” menggiring kita kepada konsep moral, “fatalitas” mendorong pemahaman kita kepada hal yang lebih naluriah dan fisiologis, dan mungkin lebih tepat dengan maksud Nietzsche dalam bagian ini (Nietzsche bahkan melihat agama, Buddha maupun Kristen, bukan sebagai sistem moral, melainkan sebagai sistem fisiologis!)

Dalam bab ini, Nietzsche menggeser gagasan ayah dan ibu historis menjadi ayah dan ibu metaforis sejak kalimat pertama, “Keberuntungan keberadaanku, keunikannya barangkali, terletak pada fatalitasnya: diungkapkan dalam bentuk teka-teki, sebagai ayahku aku sudah mati, sebagai ibuku aku masih hidup dan menua.” (Mengapa Aku Begitu Pandai, hlm. 1). Sepanjang bagian pergeseran ini terlihat makin jelas. Ayah yang sudah mati sejajar dengan gagasan “decadent, (secara fisiologis) sedangkan ibu yang masih hidup dan menua adalah kondisi penolakan terhadap kematian, keadaan untuk tetap hidup, seperti ditulis sendiri di pembuka bagian 2 bab ini: “Walaupun aku adalah seorang dekaden, aku juga adalah antitesisnya.” (hlm. 4). Pertanyaan pokok yang menjadi judul bab, “Mengapa aku begitu bijaksana” terjawab setelah kita membaca hingga bagian terakhir: kebijaksanaan datang dari perjuangan melawan dekadensi, sesuatu yang sejak kalimat pembuka diperingatkan Nietzsche sebagai “teka-teki.”

baca juga: Tidak Menikah, Bukan Tidak Bercinta

Jika pada bab pertama sasaran satire Nietzsche adalah kekristenan, pada bab kedua, “Mengapa Aku Begitu Pandai”, kita peroleh satu tambahan sasaran jelasnya: kejermanan atau budaya Jerman. Secara eksplisit Nietzsche menyatakan diri sebagai antifanatik. Jika serangan terhadap kekristenan dijalankan Nietzsche dengan cara tidak membahas hal-hal religius dan berpaling kepada realitas, serangan terhadap budaya Jerman ia mulai secara bergelombang melalui dan dalam pembahasan terhadap hal-hal sehari-hari: nutrisi, iklim, tempat, dan rekreasi. Yang menguasai semua hal itu, menurut Nietzsche, adalah naluri untuk bertahan. Dengan naluri semacam itu, “Homo” dalam “Ecce Homo” adalah sang Homo ludens, manusia yang melihat tugas-tugas besarnya sebagai permainan. Naluri untuk bertahanlah yang juga menggemakan konsep amor fati, yang sebelumnya telah kita temukan dalam karyanya Die fröhliche Wissenschaft: manusia tidak hanya menanggung takdirnya, tetapi juga mencintainya.

Bagian ketiga Mengapa Aku Begitu Pandai adalah “Mengapa Aku Menulis Buku-Buku yang Begitu Bagus”. Bagian ini bisa dibaca dengan dua cara: sebagai bagian terpisah, atau sebagai pengantar untuk komentar-komentar singkat Nietzsche tentang sepuluh buku yang ditulisnya. Cara kedua tentu tidak mungkin dilakukan karena bagian lanjutan Ecce Homo tidak menjadi bagian dari terjemahan Indonesia. Sebagai apakah si “aku” mengidentifikasi dirinya dalam bagian ini?

“Aku adalah anti-keledai nomor wahid dan karena itulah sesosok monster dunia sejarah – aku adalah, dalam bahasa Yunani dan tidak hanya dalam bahasa Yunani, Anti-Kristus.” (hlm. 54)

Mengapa anti-keledai adalah juga anti-Kristus? Dalam Also sprach Zarathustra (bagian 4), keledai adalah hewan yang dirayakan. Alusi keledai sebagai hewan yang dirayakan sebenarnya bisa kita lacak ke karya prosais Latin Klasik Apuleius berjudul Metamorphoses. Metamorphoses bercerita tentang seorang lelaki bernama Lucius yang berubah menjadi keledai karena memperoleh ramuan sihir yang salah, dan kembali menjadi manusia setelah memakan mawar. Dalam petualangannya sebagai keledai, Lucius berganti-ganti pemilik: dibawa sekawanan perampok sebagai hasil rampokan, berpindah tangan ke petani, pendeta, serdadu hingga sepasang saudara. Meski berubah menjadi keledai, Lucius tetap memiliki nafsu manusiawinya: ia memakan makanan manusia. Karena berwujud keledai, keunikannya pun dirayakan: si keledai yang memakan makanan manusia dijadikan bahan tontonan. Dengan demikian, menjadi anti-keledai dalam formulasi Nietzsche dapat dibaca sebagai keadaan menolak untuk dirayakan. Menolak dirayakan berarti juga menjadi anti-Kristus. Merayakan tokoh hanya akan mempersempit pembacaan terhadap karya-karya si tokoh, sedangkan kalimat pembuka bagian ini sudah dengan begitu eksplisit mengingatkan, “Aku adalah satu hal, tulisanku adalah hal yang lain lagi.”

baca juga: Epistemologi Selatan bagi Ilmu Sosial Indonesia: Prawacana

Mengapa Aku Begitu Pandai adalah pintu masuk ke Ecce Homo secara keseluruhan, entah kita baca dalam versi terjemahan bahasa lain yang dipengantari oleh para pengkaji Nietzsche, maupun dalam versi Jermannya. Selain terjemahan Indonesianya yang agak sulit saya ikuti, dua catatan lain yang mungkin perlu diperhatikan pembaca adalah fungsi catatan kaki dan konsistensi penerjemahan. Soal catatan kaki: tidak semua konsep asing disediakan catatan kakinya, karena itu pembaca yang tidak akrab dengan bahasa Latin, misalnya, mungkin bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan “ex ungue Napoleonem,” atau “in vino veritas”? Soal konsistensi, misalnya penggunaan nama-nama pada terjemahan Indonesia: di satu bagian kita akan menemukan nama-nama versi Latin dan Yunani dikembalikan ke penyebutan aslinya, seperti Dionysos dan Horatius, tetapi di bagian lain kita temukan versi Inggrisnya tetap digunakan, misalnya Sallust untuk Sallustius.

  •  

Judul: Mengapa Aku Begitu Pandai

Penulis: Friedrich Nietzsche

Penerjemah: Noor Cholis

Penerbit: Circa

Tebal: 138 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: