Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Novel Nayla Novel Teror
Tiada yang menyangka, utang budi bisa berakibat petaka. Terlebih, jika itu menyangkut nyawa. Terlebih, jika berutang nyawa pada manusia macam Darmadi. Bagi Dharmawan, utang nyawa pada sahabatnya yang gemar menggarap istri orang itu membuat hidupnya jungkir-balik. Darmadi tak hanya merusak rumah tangga pertamanya, namun berniat merebut istri kedua yang kecantikannya membuat bidadari iri. Semarah apa pun, Dharmawan tak bisa protes. Ini soal utang nyawa.
 
Sebenarnya keinginan Dharmawan sederhana saja, menjaga harga dirinya, sekaligus melindungi martabat istrinya. Namun karena manusia bermuka tebal macam Darmadi, keinginan itu tak bisa dengan mudah terwujud. Manusia macam Darmadilah yang membuatnya rela berkorban hingga ke wilayah harga diri. Membuatnya merasa bahwa mati diterjang sapi liar adalah lebih baik, daripada melunasi utang dengan menjatuhkan kehormatan.
 
Seharusnya Dharmawan menolak karena selalu dijadikan tameng atas kelakukan binal Darmadi. Seharusnya ia sadar, ketidakpedulian adalah sebagian dari kejahatan itu sendiri.
 
Tapi sekali lagi, ini soal balas budi.
 
 

Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Under 40.000
ISBN : 9789791683470
Ketebalan : 316 hlm l HVS
Dimensi : 14x21 cm l Softcover
Bahasa : Indonesia, 2013
Stock: Tersedia
Penerbit: Narasi
Penulis: Langit Kresna Hariadi
Berat : 300 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat


Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by