Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Nuun - Berjibaku Mencandu Buku Nyali

Nyala Ganda Cinta dan Erotisme

Cinta tidak menaklukkan maut; ia adalah pertarungan melawan waktu dan aksiden-aksidennya. Lewat cinta kita bisa sekilas memandang, dalam hidup ini, ke hidup lain. Bukan hidup kekal, seperti yang coba saya katakan dalam beberapa sajak, melainkan vitalitas murni. Saat membicarakan pengalaman religius, Freud merujuk ke sebuah "rasa samudra", sensasi tersungkup dan terombang-ambing semua eksistensi. Itu adalah dimensi ke-Pan-an para leluhur, kegemparan keramat, antusiasme: pemulihan keutuhan dan penemuan kembali diri sebagai keutuhan dalam Keutuhan Agung. Itulah mengapa citra-citra puitis mengubah yang tercinta menjadi alam—sebuah gunung, air, awan, bintang, pohon, laut, ombak—dan mengapa pada gilirannya alam berbicara seolah-olah ia adalah seorang kekasih. Rekonsiliasi dengan totalitas dunia. Dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan pula.

The Double Flame, Nyala Ganda. Menurut Diccionario de Autoridades, nyala adalah "bagian paling subtil dari api, membubung dan naik dalam wujud piramida." Api primordial, yang asali, dari seksualitas, yang membubungkan nyala merah erotisisme, dan ini menyulut dan membesarkan nyala lain, gemetar kebiruan: nyala cinta. Erotisisme dan cinta: nyala ganda kehidupan. __Octavio Paz

Selamat Membaca dan Berbahagialah...


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Novel dan Sastra
David Setiawan 280 hlm | Bookpaper
ISBN : 9786026651754
Penerjemah : David Setiawan
Ketebalan : 280 hlm | Bookpaper
Dimensi : 14x20 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Tersedia
Penerbit: Basa Basi
Penulis: Octavio Paz
Berat : 200 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by