Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Obsesi Busuk Nuran Agar Kamu Melupakan Nirvana

Oleh: Arci Arfrian         Diposkan: 26 Mar 2019 Dibaca: 1040 kali


Hampir 500 halaman, Nuran Wibisono punya hak untuk menentukan apa yang ia tulis, yang tentu saja dapat memberikan kepuasan individual pada dirinya. Dalam hal ini, ia tak peduli apa orang lain suka atau tidak. Seperti, mengajakmu untuk melupakan Nirvana, suka atau tidak.

Yups, Nuran menghadirkan sederetan kisah luar-dalam dari jenis musik yang ia sukai, pengalamannya menghadiri gigs-gigs, serta band-band yang paling ia cintai saja. Dari buku ini, kamu akan tahu Nuran adalah salah satu penggemar pelantun lagu Gravity dan penggila musik hair metal.

Tak banyak yang menyangka kalau Nuran, yang nice boys banget itu adalah penggemar berat Guns N’ Roses, bukan Soneta. Terlebih, dengan segala kerendahan hatinya, Nuran selalu bilang bahwa ia bukan jurnalis musik, melainkan penggemar musik yang menulis musik.

baca juga: Memaknai Kesendirian Ala Thoreau

Menghabiskan sebagian buku ini seperti mengurai rajutan sejarah musik hair metal Inggris dan Amerika di sekitaran tahun 1980-1990an (hingga sesudahnya). Bagaimana ia lahir, berkembang, epidemik, dieksploitasi oleh industri musik, lalu redup (tapi tak mati) sebagai subkultur yang dianggap murahan dan busuk adanya oleh kritikus musik—satu opini yang ditentang habis-habisan oleh Nuran.

Pun, Nuran seperti tahu, bahwa banyak muda-mudi masa kini masih ahistoris dan cenderung pengekor arah industri musik dengan menikmati trending. Mereka dengerin lagu-lagu Guns N’ Roses tanpa tahu sejarah Guns N’ Roses dan terbuat dari apa ide-ide dari setiap lagu yang Izzy Stradlin dkk. buat. Eh, kamu tahu Izzy Stradlin kagak?

Tenang, saya termasuk dalam barisan muda-mudi yang disindir Nuran tersebut. Yang mengetahui Nirvana dengan Kurt Cobain dan Smells Like Teen Spirit-nya saja. Tapi tak tahu siapa itu Krist Novoselic, dan In Utero itu album siapa? Toosss!

baca juga: Nietzsche dan Jejak Tradisi Klasik

Buka bab Side A: 18 And Life. Ia menjadi satu bab yang memuat semacam pledoi Nuran perihal rasa cintanya pada hair metal. Seperti manusia pada umumnya, pengalaman masa remaja membuatnya menemukan hal-hal yang dapat dicintainya, seperti misal, lagu-lagu Motley Crue dan Guns N’ Roses yang sering buat dirinya air guitar di depan kaca. Membayangkannya saja, saya sudah geli sendiri. Hehe.

Bab Side C: Down At The Whisky, adalah bab yang menarik. Dalam bab ini akan dipaparkan secara gamblang, jenis musik apa yang merajai dunia pada dekade 1980an. Jenis musik apa saja yang mempengaruhi hair metal, serta jenis musik apa yang membuat hair metal harus gali kubur bersama pengikut-pengikutnya untuk sementara waktu.

Pada bagian ini pula, Nuran curhat parah perihal apa saja yang ia ketahui tentang hair metal. Rajutan data serta referensi yang beraneka macam, dibalut narasi bagaimana perasaannya, dan dioles kenangan-kenangannya yang manis-asin-pahit kala mendengar lagu-lagu dengan lantunan melengking ala Axl Rose, tumplek blek ia tulis jadi satu esai. Tentu enak dibaca sebab gaya penulisannya jenaka dan meliuk lancar.

baca juga: Laut Bercerita dan Unsur Jurnalisme dalam Fiksi

Cerita-cerita mengenai vokalis, grup band, dan lagu yang sudah atau belum diketahui oleh banyak orang, ia ceritakan kembali dari sudut pandang seorang fans berat yang penuh obsesi. Itu membuat tulisan Nuran terasa amatiran dan tak menggurui.

Pada judul Hair Metal vs Grunge, entah kenapa, pernyataan-pernyataan Nuran membuat dinding hati saya yang telah penuh patch-patch mengenai Nirvana robek dan berjatuhan seketika. Ocehannya sungguh agitatif. Ia mengajak saya, mungkin semua penikmat grunge agar tak usah lagi mengelu-elukan Nirvana. Cukup sesak rasanya, ketika ia dengan sinis mempertanyakan kapan kebangkitan grunge, bila dibanding dengan hair metal yang, beberapa band masa lalunya baru-baru ini menerbitkan album baru serta mengadakan konser-konser keliling dunia.

Tak hanya sampai situ, lelaki asal Jember tersebut memperolok skena grunge. Adalah apa yang disebut grunge—ini menjengkelkan sih—yakni suara Kurt Cobain yang tersedak salak. Hadeeeehh~

baca juga: Kesusastraan Hemingway di Tengah Tegangan Benang Pancing dan Kecipuk Ikan

Lantas ia membandingkan Nirvana (Nevermind) dengan Guns N’ Roses (Appetite for Destruction). Indikator penilaiannya yaitu dari kerja band dan kualitas musik keduanya. Tentu dapat diduga, ia tak akan memuji Nirvana.

Album Appetite for Destruction digarap secara keroyokan. Semua anggota punya andil pada setiap lagu. Sedangkan Nevermind, nyaris semua lagunya ditulis oleh Kurt Cobain. Dari fakta ini saja jelas Guns N’ Roses lebih unggul sebagai sebuah grup band, ketimbang Nirvana yang nyaris seperti one man show.

Sedangkan dari kualitas musik, Guns N’ Roses lebih memperlihatkan musikalitas yang jempolan. Jauh meninggalkan semua band hair metal se-angkatannya. Tema penulisan Axl Rose begitu luas. Ia bisa menuliskan lirik gelap, pahit, manis, dan bahkan romantis. Izzy dan Slash juga pandai menciptakan musik yang melodius. Namun, Appetite for Destruction boleh dibilang apes karena harus lahir ketika sebagian besar manusia di bumi terjangkit demam hair metal. “Ever since the beginning of rock and roll, there's been an Axl Rose. And it's just boring. It's totally boring to me,” keluh Kurt Cobain suatu kali.

baca juga: Tidak Menikah, Bukan Tidak Bercinta

Tak seperti Nirvana yang cukup beruntung, menurut Nuran. Secara kualitas musik biasa saja, tapi memang lahir di momen yang tepat. Di saat ada Generasi X, generasi yang, sebut Robert Capa, lahir karena “ketidakpastian masa depan akibat kompetisi bebas di dunia yang tidak lagi bersekat dan menganut nilai absolut.”

Nevermind seakan menjadi representasi kokoh mengenai kemarahan, kegalauan, depresi, angst, atau apapun itu istilah yang berkaitan dengan kelabilan kondisi jiwa. Karena itu pula banyak fans Nirvana mengaku mendengarkan Nevermind dan konon hidup mereka berubah ketika memasuki fase remaja—di masa pencarian jati diri yang juga konon dipenuhi oleh rasa marah, galau, serta apatis terhadap apapun. Walau, ia mengakui dampak kultural Appetite for Destruction tak sebesar apa yang dihasilkan oleh Nevermind.

Ah sudahlah, perdebatan, perbincangan, glorifikasi atau nostalgia terhadap genre musik bukanlah sesuatu yang baru. Ia tak akan pernah selesai di perbincangkan, sama seperti agama atau tuhan. Dan Nice Boys Don’t Write Rock N Roll mengisi ceruk yang ramai tersebut dengan suka-suka dan kaya rasa.[]

  •  

Judul: Nice Boys Don’t Write Rock N Roll

Penulis: Nuran Wibisono

Tebal: 497 hlm.

Penerbit: EA Books

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: