Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Oleh oleh Khas Jalan Sunyi Omar Khayyam

Oleh-oleh dari Tempat Pembuangan

TAS adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Ia berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu. Di bawah kepala surat kabar Medan Priaji tertulis “orgaan boeat bangsa jang terprenta di Hindia Olanda, tempat memboeka soearanja”. Itulah sebab ia sering beradu argumen, bahkan terkena persdelict, dengan pemerintahan kolonial Belanda.
ㅤㅤ 
Buku ini ditulis berdasarkan rangkaian teks berjudul “Oleh-oleh dari Tempat Pemboeangan”. Isinya tentang kisah pembuangan TAS di Teluk Betung, Lampung. Naskah ini pertama kali disiarkan di surat kabar Perniagaan, lalu diumumkan kembali secara berurutan di surat kabar Medan Priajaji No. 20, 21, 22, 23, dan 25 pada Mei-Juni 1910.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Sejarah
ISBN : Adhe
Ketebalan : 116 hlm | Bookpaper
Dimensi : 11x17 cm | Soft Cover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Octopus
Penulis: R.M Tirto Adhi Soerjo
Berat : 200 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by