Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Omong Kosong Memang Menyenangkan

Oleh: Erwin Setia         Diposkan: 02 Apr 2019 Dibaca: 2410 kali


Bahwa hidup hanyalah pengulangan demi pengulangan? Tidak ada yang berubah: omong kosong lain diganti dengan omong kosong lain diganti dengan omong kosong lain dan seterusnya—hanya saja, dengan variasi yang berbeda. (hlm. 94)

Saya punya dua orang kawan yang perangainya berlawanan. Kawan pertama hobi mengumbar kata-kata rumit, terkesan dibuat-buat, ingin terlihat canggih, dan karena itu kebanyakan orang hanya menanggapi omongannya dengan anggukan lalu menjauhinya pelan-pelan. Sementara kawan kedua selalu membicarakan hal-hal kecil, sederhana, remeh-temeh, dengan pembawaan yang polos serta lucu, dan lantaran itu orang-orang ingin berlama-lama dengannya dan selalu menunggu kehadirannya.

Tak beda dengan dua kawan saya tersebut, buku-buku atau cerita-cerita fiksi penulis Indonesia belakangan juga memiliki kecenderungan serupa. Ada cerita-cerita yang tampak gagah dengan menuangkan gagasan-gagasan besar ditambah deretan kata mewah (tapi sulit dipahami dan terkadang tak jelas juntrungannya) dan ada pula cerita-cerita yang sederhana saja namun mengena.

Cerita jenis pertama hadir hanya sebagai ajang pamer pengetahuan dan atraksi kata-kata. Tanpa menyodorkan gagasan yang matang dengan gaya tulis yang enak dinikmati. Sebab itu, rasanya tak perlu memperluas pembahasan mengenainya. Sementara jenis kedua, kendati terkesan sederhana—sederhana di sini dapat berarti menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami dan berporos pada tema yang ringan seperti konflik keluarga, kehidupan orang miskin, maupun sekadar kisah perempuan yang masih lajang hingga umur tiga puluh tahun—biasanya lebih asik dan melesap ke hati.

baca juga: Tukang Sadap Kepala Itu Bernama Dea Anugrah

Buku-buku Ahmad Tohari tentang kehidupan orang-orang pinggiran dan cerita-cerita Ernest Hemingway yang tak pernah membuat pembacanya sampai mengerutkan kening atau berpikir tujuh keliling bisa menjadi contoh bagi jenis kedua. Sebuah novelet karya Robby Julianda—penulis Sumatera Barat yang saya harap panjang umur—yang terbit tahun ini juga layak masuk dalam daftar tersebut. Buku ini membicarakan topik-topik sederhana dengan kata-kata sederhana. Bahkan, itu sudah terlihat sejak dari judul: Omong Kosong yang Menyenangkan.

Judul buku itu tidak menipu. Ia memang cuma berisi “omong kosong” dan ia memang menyenangkan. Buku yang disanjung dan direkomendasikan—antara lain—oleh Esha Tegar Putra dan Sabda Armandio ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Sal yang kena begal lalu tinggal selama dua hari di rumah Lani, perempuan akhir dua puluhan yang belum menikah.

Melalui narasi dan dialog-dialognya, saya melihat ia dibuat dengan kecakapan yang patut diacungkan jempol. Lancar, tidak menjenuhkan, dan yang terpenting tidak berusaha untuk mencanggih-canggihkan diri. Dalam buku itu terasa aroma penuturan khas Hemingway dengan pembeberan hal-hal simbolik semisal kaleng sarden berisi abu jenazah kucing piaraan Lani dan buku Seribu Burung Bangau karya Yasunari Kawabata sebagai hadiah Lani untuk Sal—yang tentu punya arti lebih dari sekadar kaleng sarden dan novel. Sementara penukilan sejumlah adegan film maupun lagu menunjukkan keterikatan penulisnya dengan budaya massa modern, di mana dua hal tersebut—film dan lagu—sudah menjadi bagian hidup yang tak dapat dipisahkan. Haruki Murakami juga kerap mengutip lirik maupun judul lagu dalam cerita-cerita karangannya.

baca juga: Obsesi Busuk Nuran Agar Kamu Melupakan Nirvana

Sepanjang buku setebal kurang dari seratus halaman itu, penulis tampak tidak membebankan pembacanya untuk melahap gagasan-gagasan berat yang bikin pening. Ia memang bicara tentang kebahagiaan, pilihan hidup, perceraian, pernikahan, maupun kemelaratan. Tapi semua itu disampaikan dengan santai saja, tidak terlihat ngotot, tidak berapi-api, dan tidak bermegah-megah kata serupa sarjana sastra yang begitu bersemangat mendakwahkan ideologinya. Omong Kosong terlihat seperti kawan saya jenis kedua, yang membawakan hal-hal sederhana dengan cara-cara yang ringan dan tak jarang bikin ketawa.

Sebagaimana hal-hal bagus apa pun, buku semacam ini tak banyak terbit di Indonesia. Ia memang tidak sempurna, tapi kehadirannya patut disambut dengan tepuk tangan. Di tengah gegap-gempita buku fiksi yang melulu berbicara tentang senja, rindu, cinta, masa lalu, dengan cara yang begitu-begitu melulu; buku kedua Robby ini pantas mendapat tempat tersendiri.

Suatu waktu Sunlie Thomas Alexander menulis dalam status Facebook, “Nusantara memiliki banyak bahan mentah yang kaya raya untuk diolah menjadi karya sastra berkelas. Dalam gaya apa pun. Tetapi, seringkali, persoalannya adalah teknik. Sejauh mana penulis kita mampu memanfaatkan dan mengolahnya.”

baca juga: Memaknai Kesendirian Ala Thoreau

Barangkali Omong Kosong yang Menyenangkan bisa menjadi jawaban sakti bagi status bernada prihatin tersebut. Di mana tidak ada hal yang istimewa-istimewa amat dalam cerita itu, namun karena teknik penyajian yang memikat, ia justru memiliki keunggulan khas dibanding cerita-cerita kebanyakan yang berusaha menonjolkan apa yang dianggap penulisnya istimewa tapi ditulis dengan cara yang payah.

Alih-alih sesuatu yang istimewa atau berat, petilan remeh-temeh yang banyak menghiasi buku ini. Mulai dari pertemuan dengan bule Selandia Baru, teman Sal yang selalu ingin dipanggil Tom meski nama aslinya Rustam, hingga kenalan Sal di bus yang semasa sekolah menyukai Geografi dan gemar menyusun ulang huruf-huruf nama orang dengan nama-nama negara—misalnya nama Sal menjadi “Swiss, Amerika, Libya”.

Sisi remeh-temeh itulah yang menjadikan Omong Kosong menyenangkan. Ketika dewasa ini semua orang ramai-ramai mengobral pembicaraan politik dan agama dan agama yang dipolitisasi, membaca buku yang berisi obrolan ringan belaka rasanya sangatlah menyenangkan. Rasanya seperti isi paragraf bagian akhir buku ini, “Ia bayangkan dirinya duduk sambil berjuntai di tepi telaga yang tenang dan di kejauhan pegunungan tampak begitu biru dan lembut dan biru dan lembut. Sehelai daun jatuh di permukaan telaga, menciptakan lingkaran air yang kian lama kian melebar, lalu hilang sama sekali, digantikan dengan hening yang menentramkan.” (hlm. 94-95)

baca juga: Nietzsche dan Jejak Tradisi Klasik

Selepas menamatkan novelet ini, rasanya saya ingin menyimak omong kosong-omong kosong lain. Atau sebenarnya, hidup ini memang tak lebih dari omong kosong? Bahwa hidup hanyalah pengulangan demi pengulangan? Tidak ada yang berubah: omong kosong lain diganti dengan omong kosong lain diganti dengan omong kosong lain dan seterusnya—hanya saja, dengan variasi yang berbeda. (hlm. 94)

Entahlah, yang jelas, Omong Kosong memang menyenangkan. (*)

  •  

Judul : Omong Kosong yang Menyenangkan

Penulis : Robby Julianda

Tebal : viii + 98 halaman

Penerbit : Buku Mojok

  •  

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: