Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Orang Gila yang Telah Menulis Ini

Oleh: Karunia Haganta         Diposkan: 14 Nov 2018 Dibaca: 1138 kali


Sartre menghabiskan sepuluh tahun waktunya untuk menciptakan psikobiografi mengenai penulis ini, meski ia tidak menyukainya karena estetikanya dan opininya reaksioner (p. ix). Dalam tulisan Gustave Flaubert sangat terasa pengaruh dari emosinya. Flaubert menggunakan gaya penulisan stream of consciousness di mana karya ini benar-benar membawa pembaca untuk “mengalami” pengalaman dari penulis. Khusus Memoirs of a Madman, Flaubert membawa pembaca melihat melalui kacamata dirinya yang gila.

Buku ini diawali dengan suatu terjemahan esai Frederick Jameson. Esai mengenai upaya Sartre dalam menafsirkan pemikiran Flaubert. Melihat Flaubert dalam konteks zamannya dan generasinya serta melihat Flaubert dengan tinjauan Marxis. Studi “imajiner” sebagai diagnosis diri atas “neurosis obyektif” borjuis (p. xvii).

Buku ini dipenuhi berbagai pertanyaan. Pertanyaan untuk memperoleh jawaban atas keraguan dari penulis mengenai berbagai hal. Tiap halaman dituliskan oleh orang yang gila karena hasratnya. Penulis menjadikan tiap halaman tulisannya berjiwa. Jiwa yang berusaha menggambarkan kegilaan Flaubert dalam tiap katanya. Suatu roman yang dalam penulisannya disertai dengan emosi dan perasaan yang amat mendalam. Penulisan yang dilakukan dengan bukan sekadar pikiran melainkan jiwa.

baca juga: Genosida Sebagai Buah dari Modernitas

Flaubert mulai dari suatu pengakuan kegilaannya. Mengenai betapa buku ini tidaklah memberikan selayaknya buku-buku pengetahuan yang orang perlu tahu. Ia hanya menuliskan buku ini secara apa adanya sebagai orang gila dan kebodohannya yang tak kunjung berubah, mengenai betapa menyedihkannya orang gila itu!

Ia meratapi kemalangan dirinya atas pikirannya. Meratapi lika-liku kehidupannya dalam melalui masa sulitnya. Pikiran itulah yang menjadikan kehidupannya. Pikiran yang justru membuat ia merasa sendirian kala orang lain menikmati hidupnya. Menyergap dan melahap dirinya dari segala sisi.

Di tengah kesakitannya, ia melihat kenangan-kenangannya di masa lalu. Kenangan yang menurutnya adalah suatu kenangan bahagia yang pernah ia alami. Mengenang masa kecil dan remaja dengan memori yang menyenangkan. Memori-memori seperti ombak, pantai, dan cakrawala. Namun, semua itu pudar dan sirna bersama dirinya yang menua. Kebahagiaan yang ia anggap hanya sekadar igauan.

baca juga: Antara Politik dan Moralitas

Lalu bagaimana orang gila ini melihat manusia? Apakah orang gila, seperti orang yang waras, memiliki pandangan tersendiri mengenai apa itu manusia? Apakah pandangan mereka sama? Manusia memanglah menarik. Dibutuhkan tidak hanya kalimat biasa melainkan metafora untuk memperoleh pengertian terhadapnya. Di dalam metafora inilah Flaubert menjelaskan manusia secara ironis. Ironi mengenai manusia yang membuatnya tak lagi bahagia, membuatnya meragukan semuanya. Perasaan ironi yang bercampur ketakutan.

Perenungan berlanjut pada kenangan masa mudanya yang muram. Masa muda yang ia jalani sendirian. Ia merasa terganggu dengan individu lain. Ia memandang orang lain dengan sinis. Namun ada mimpi yang ia miliki dalam masa mudanya itu. Suatu mimpi tentang cinta yang akhirnya berubah di kala tua.

Dalam kesendiriannya ia melihat masyarakat di hadapannya. Masyarakat yang ia pandang dengan kebencian. Mengharapkan kehancuran pada masyarakat itu. Menggambarkan kengerian imajinasinya mengenai saat-saat di mana kehancuran itu terjadi. Momen di mana jiwa-jiwa yang ia sebut bajingan dan memenuhi masyarakat berakhir.

baca juga: Merespons Jeritan Bumi

Jadi bagaimana? Apa Anda pikir semua perenungan ini sudah selesai? Apakah Anda pikir orang gila sudah tidak punya apa-apa lagi untuk ia kenang? Bukankah setiap orang punya pengalaman yang ia anggap spesial, entah karena membahagiakan atau menyakitkan? Apa orang gila ini tidak punya yang seperti itu? Rupanya orang gila ini punya kenangan seperti itu. Kenangan yang ia sebut paling intim dan juga paling menyakitkan. Pengalaman yang juga penuh dengan ironi, kesedihan, kemuraman, dan tentu saja, kegilaan. Bukankah memang kita sedang “menghayati” kisah si gila?

Pengalaman yang menurutnya paling menyakitkan ini berkaitan dengan pertemuan. Pertemuan dengan sosok yang luar biasa di mata si gila. Ada hal yang menyertai pertemuan itu dan segala memori tak akan ada artinya tanpanya. Suatu yang menyertainya adalah cinta. Cinta yang ia mimpikan dan ia gambarkan dengan amat puitis. Suatu hasrat yang membuatnya merasa baru. Rasa cinta terhadap sosok bernama Maria.

Setelah itu penggambaran menjadi semakin nyata. Tidak lagi mengawang-awang dan penuh perenungan seperti sebelumnya. Tanda bahwa setiap peristiwa yang diceritakannya memanglah sangat berbekas. Terasa benar-benar baru seperti ada retakan besar di antara kisah ini dan sebelumnya. Tapi, benarkah demikian?

baca juga: Dua Skenario Masa Depan dan Sains yang Tidak Sendirian

Si gila teralihkan perhatiannya. Ia merenungkan tentang cinta yang saat itu ia rasakan. Masih asyik dengan pikirannya, meski pikiran itu tentang cinta. Bukan berarti kemuraman sudah hilang benar darinya tetapi bercampur yang bahkan membuat dirinya terbahak-bahak atas pikirannya sendiri. Hingga akhirnya tibalah saat di mana pertemuan bertukar dengan perpisahan. Peristiwa yang telah terjadi berubah menjadi selayaknya sekelebat mimpi.

Tulisan selanjutnya masih bernuansa cinta. Memori mengenai cinta pertama si gila. Pengalaman yang ia rasa amat lembut mengenai sosok lainnya yang anonim. Peristiwa serupa dengan akhir serupa, yaitu perpisahan, meski dengan kisah berbeda. Setelah perenungan akan cinta dan kemuraman. Ia mempertanyakan hal-hal lain. Mempertanyakan gairah seksualnya dan membandingkannya dengan orang lain. Mempertanyakan seni yang ia anggap sebagai momen penuh antusias. Mempertanyakan yang tak terbatas dan kekekalan. Hingga akhirnya mempertanyakan arti kehidupan. Segala pertanyaan ia lontarkan disertai dengan jawaban yang sinis. Memandang apa yang orang lain pikirkan secara muram. Pandangan yang penuh keraguan yang ia sebut sebagai kehidupan. Keraguan yang ia sebut juga dengan kematian jiwa.

Kisah ini akhirnya kembali pada Maria. Saat tokoh kita ini kembali pada tempatnya bertemu dengan Maria. Upaya mengenang kembali memori yang telah berlalu. Memandang ingatan masa lalu itu dengan kegilaan. Dari kegilaan kita berangkat dan si gila ini mengakhirinya dengan kegilaan pula.

No great mind has ever existed without touch of madness (Aristoteles)

  •  

Judul: Memoirs of A Madman

Penulis: Gustave Flaubert

Penerbit: Vita Litteras

Tebal: xx + 95 halaman



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: