Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Orang-orang Rangkasbitung Order of Thing Arkeologi Ilmu Ilmu Kemanusiaan

Orde Media : Kajian Televisi dan Media di Indonesia Pasca-Orde Baru

Pasca-Orde Baru, kuasa negara dalam mengatur industri media jatuh ke tangan kaum oligarki. Mereka menentukan selera busana dan mendikte cara mengisi waktu luang; memilihkan presiden dan mengarahkan ke mana kebijakan publik harus bermuara. Media tidak saja hidup sebagai bagian dari ekosistem, ia telah menjadi
order, la memerintah dan berkuasa, di mana rakyat dinilai sekadar sebagai pasar.

Ledokan industri media massa bisa menjadi bencana bila tidak disertai kemauan dan kemampuan memadai dari pranata hukum dan politik serta etika sosial untuk melindungi kepentingan publik berjangka panjang. Di saat-saat berbagai lembaga negara itu absen. a/pa atau kurang berdaya. jasa relawan s was fa menjadi sebuah kebutuhan. Buku ini adalah sebuah jawaban kolektif terhadap sejumlah kebutuhan informasi, wawasan, dan perdebatan kritis dalam menghadapi ledakan industri media massa di negeri ini.
Ariel Heryanto. profesor di Australian National University


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit
Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Sosial dan Politik
ISBN : Yocantra Arief/ Wisnu Prasetya Utomo
Ketebalan : vii + 295 | Bookpaper
Dimensi : 14x21 cm l Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Insist Press
Penulis: Yocantra Arief
Berat : 400 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by