Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Orientasi Pendidikan Yang Salah

Oleh: Bayu Diktiarsa         Diposkan: 02 May 2019 Dibaca: 3195 kali


Ketidakpercayaan pada gerakan mahasiswa muncul saat ini. Setidaknya itu kesimpulan saat melihat komentar warganet di instagram berdikaribook pada posting gambar tulisan saya sebelumnya tentang Apa yang seharusnya dilakukan mahasiswa setelah melihat penindasan”. Mengurai lebih jauh, ketidakpercayaan tersebut tidak muncul dari langit, melainkan kesalahan sistem pendidikan yang membuat kita jauh dari realitas.

Sudah diramalkan jauh-jauh hari oleh Paulo Freire dalam karyanya Pendidikan Kaum Tertindas tentang kegagalan sistem pendidikan. Lahir pada 19 September 1921 di Recife, sebuah kota pelabuhan di Brasil yang terbelakang dan identik dengan kemiskinan, Paulo Freire menulis karya yang berjudul Pendidikan Kaum Tertindas. Berdasarkan pergumulan dengan keadaan ia mengambil kesimpulan bahwa pendidikan untuk seluruh umat manusia adalah pelibatan diri dalam kaum-kaum tertindas. Tertulis lengkap pada buku setebal 221 halaman karya Paulo Freire bahwa terdapat kesalahan dalam orientasi pendidikan kita, sehingga berdampak hingga saat ini.

Keyakinannya kepada rakyat jelata, keyakinannya kepada manusia, dan kepada penciptaan sebuah dunia tempat manusia dapat lebih mudah mencintai sesamanya”

 

Proses melibatkan diri untuk mengadakan perubahan adalah suatu model yang langka dalam sistem pendidikan kita. Model pembelajaran gaya bank yakni murid hanya berperan sebagai objek pendidikan, hanya terbatas pada menerima, mencatat, dan menyimpan. Sementara guru atau dosen bagi mahasiswa adalah subjek yang memberikan pengetahuan yang maha tahu akan segalanya.

baca juga: Merayakan Imajinasi

Dampaknya adalah mahasiswa kurang mampu merasakan lingkungannya. Kesalahan model pendidikan ini adalah karena keterkungkungan oleh sistem pendidikan yang menyiksa. Sebagai solusi Paulo Freire menyebut sebuah pendekatan alternatif baru yaitu metode “Pendidikan hadap masalah” yakni pembelajar memahami dengan berdialog dan situasi belajar yang dapat dipahami dan melahirkan inspirasi.

Refleksi saat ini, hal tersebut jauh dari kenyataan dan berdampak pada kualitas lulusan yang menyerah pada keadaan. Imajinasi dan harapan yang tidak tercipta saat muda berdampak panjang. Ketidakpercayaan satu sama lain dari hasil pendidikan yang ada, mudah lemah dan pasrah dengan keadaan, menerima bahwa dirinya tertindas, berlomba-lomba memperkaya diri, sikap apatis dan beragam kondisi yang tertanam akibat proses pembelajaran yang salah.

Dalam karyanya, Freire menyatakan bahwa harapan muncul dalam dialog yang pedagogis. Dialog menghasilkan inspirasi yang sangat besar, keberanian bermimpi dan terlibat dalam masalah merupakan konsep praksis yang digugah oleh Paulo Freire. Tak heran bagi kaum yang bermental apatis penindas, kritis namun apatis, pencerca, hasrat dominan, dan warganet yang mencerca teman mahasiswa yang sedang berjuang bersama rakyat pasti gagal membaca pendidikan kaum tertindas.

“Jika dalam mengucapkan kata-katanya sendiri manusia dapat mengubah dunia dengan jalan menamainya, maka dialog menegaskan dirinya sebagai sarana di mana seseorang memperoleh makna sebagai manusia, 

Memunculkan kesadaran kritis adalah upaya dan tujuan dari pendidikan kaum tertindas. Demi terciptanya perubahan yang lebih baik, buku karya Paulo Freire ini cocok dibaca dan dipraktikkan di lingkungan sekolah, kampus, ataupun pencipta sekolah-sekolah alternatif. Karakter dan kekuatan buku ini adalah kata-kata dan kepercayaan terhadap belajar dari orang yang tertindas adalah cara belajar sebenarnya. Bukan hanya berdiam diri dalam kelas bahkan tanpa interaksi dan dialog yang menggugah.

baca juga: Apa Yang Harus Dilakukan Mahasiswa Setelah Melihat Penindasan

Membaca Pendidkan Kaum Tertindas adalah refleksi bagi sistem pendidikan di Indonesia. Praktik pendidikan gaya bank menjadikan murid ketakutan dan terpaksa menghapal tanpa memahami makna mengapa saya harus menghapalnya. Pengetahuan tercipta namun minim arti, kata-kata terucap namun tanpa konsep, serta judgement akhirnya tercipta bagi mereka yang setiap kepada kaum yang tertindas.

Buku ini sangat tepat dibaca oleh siapapun, terlebih oleh guru dan mahasiswa keguruan. Buku ini mengantar konsep pendidikan yang lebih memanusiakan manusia bukan yang menindas. Buku ini juga mengajak kita dalam suasana dialogis yang komunikatif dengan kebebasan ide-ide cemerlang yang selama ini terpenjara.

Konteks saat ini, kurikulum pendidikan yang semakin komersial dan cenderung pada pasar adalah tantangan baru yang belum dijelaskan dalam buku ini. Pemerintah ingin mahasiswa dan kualitas lulusan yang siap kerja dan masuk kedalam pasar menjadi tantangan kedepan bagi setiap orang yang telah membaca tuntas buku ini. Pendidikan Kaum Tertindas barangkali adalah kado utama pada Hari Pendidikan Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Mei bagi wajah pendidikan Indonesia saat ini dan masa mendatang.

“Karena terlepas dari rasa ingin tahu, terlepas dari praksis, kita tidak dapat benar-benar menjadi manusia. Pengetahuan muncul hanya melalui penemuan dan penemuan kembali, melalui rasa ingin tahu yang gelisah, tidak sabar, berkelanjutan, dan penuh harapan yang dilakukan manusia di dunia, dengan dunia, dan dengan sesama.”

  •  

Judul: Pendidikan Kaum Tertindas

Penulis: Paulo Freire

Penerbit: LP3ES

Tebal: xxxvii + 221 hlm

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: