Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Otak Pemenang Out of the Lunch Box

Out Of The Truck Box

Iqbal Aji Daryono
Stock: Tersedia

Kategori : Novel dan Sastra

Kita mulai ya. Kenalkan nama saya Iqbal, suami dari seorang istri, bapak dari seorang anak, bekerja sebagai pedagang kecil-kecilan, tinggal di sebuah miniatur surga bernama Yogyakarta.

Alhamdulillah,tinggal di kota kecil dengan biaya hidup rendah, dengan penghasilan mencukupi, teman-teman yang banyak dan menyenangkan, dan waktu luang yang berlebih, menjadikan saya terlalu jatuh cinta kepada Jogja. Kehidupan kami nyaris sempurna. Daam ukuran saya sendiri, tentu saja.

Hingga suatu saat guliran takdir memaksa kami meninggalkan itu semua. Istri saya mesti melanjutkan studi, karena tuntutan kampus tempat ia bekerja. Studinya pun, sebisa mungkin, harus di luar negeri. Padahal sebagai keluarga, kami mestinya selalu bersama.

Maka kami bertiga: saya, istri say, dan Hayun—gadis mungil buah hati kami yang waktu itu berumur 4 tahun—tiba-tiba berada di Perth, Ostralia.

Di tempat baru ini, serasa kami menata hidup yang benar-benar baru. Hingga empat tahun ke depannya, kenyamanan yang  memabukkan ala Jogja tak lagi bisa kami nikmati. Istri harus sekolah, dan saya harus bekerja. Beasiswa dari pemerintah Indonesia sangat kurang untuk tetap menjamin kami bisa bernafas di sini. Sementara, penghasilan di Jogja yang lebih dari cukup jadi tak bernilai sama sekali di benua kering bernama Ostralia. Kalah Kurs, Anda tahu itu. Dolar menginjak-nginjak rupiah dengan begitu tegasnya.

Selamat Membaca dan Berbahagialah...


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Novel dan Sastra
ISBN : Iqbal Sendiri
Ketebalan : 310 hlm | Bookpaper
Dimensi : 14x20 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Tersedia
Penerbit: Immortal
Penulis: Iqbal Aji Daryono
Berat : 300 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat


Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by