Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Panduan Menulis Cerita Cinta

Oleh: Irfan S. Fauzi         Diposkan: 02 Jan 2019 Dibaca: 1011 kali


Seorang penyair kelimpungan. Puisi yang ia bikin tumbuh di luar jari-jemarinya. Huruf-huruf yang dideretkan menjadi kata bekerja tak sesuai maksud ketika ia mulai menoreh. Waktu itu, hari mungkin mulai malam. Gelap membuat penyair kita ini makin kerepotan mengejar huruf “A” – sebuah pembuka untuk dua puluh lima huruf lain yang mampu menjadi tak terhingga – yang lari dari puisi-puisinya.

“Huruf itu,” tulis Beni Satryo dalam puisi Peluk Luka, “angslup ke dalam sebuah peluk.” Kedatangan “A” dalam peluk bukannya menjadi kabar gembira. Peluk menjadi sesuatu yang bukan saja lain, tapi juga bertentangan: menjadi luka // Lalu luka.

Dalam puisi yang dihimpun dalam Pendidikan Jasmani dan Kesunyian (2016) ini, Beni tak sekadar menganggap suatu kepayahan bisa mengakibatkan kacau banyak hal. Ia juga menilai kalau peluk dekat dengan luka. Kalau cinta dan muram adalah dua hal yang terus berkelindan. Alih-alih saling meniadakan, pertentangan ini malah saling bersisian. Erat sekali.

baca juga: Pertemuan dengan F. Budi Hardiman: Sebuah Renjana Filsafat

Cinta semacam itulah yang akan kita bicarakan kala membaca What We Talk About When We Talk About Love garapan Raymond Carver. Bagi Carver, membicarakan cinta berarti juga membicarakan kemurungan. Cerita-cerita yang mendominasi buku ini adalah cerita tentang pecinta yang terkena luka, bukannya pelukNamun yang menarik, Carver tidak mereka dunia yang berpusat pada derita si pecinta. Si pecinta hanya menjadi bagian dari dunia yang bagaimana pun, akan terus berjalan. Ini membikin cerita tak menjadi kelewat cengeng atau sentimental. Ketidakcengengan ini terberkati atas keliahaian Carver memilih narator.

Dengan narator yang berjarak dari nasib apes, pencerita lebih gampang menjaga diri agar tak terseret kesedihan. Ia bisa menjaga diri agar tetap “sekadar” menuturkan cerita. Dan dengan sendirinya, juga merespons kesedihan itu. Yang belakangan, anehnya, justru membuat pembaca makin bersimpati pada derita si pecinta.

Katakanlah dalam cerita Oleh-Oleh. Cerita dinaratori seorang anak yang menceritakan kembali cerita ayahnya. Ayahnya berusia lima puluh lima. Si anak yang bekerja sebagai agen penjualan buku tiba-tiba terpikir buat bertemua ayahnya. Setelah perceraian ayahnya dengan ibunya dua tahun lalu, ia belum pernah bertemu si ayah. Pertemuan terjadi di bandara. Tak seperti anak muda, bagi orang tua, dua tahun bukan waktu yang panjang untuk dapat mengubah penampilan, baik fisik atau pun cara berpakaian. Tapi, jarak dua tahun itu sudah cukup membuat si anak pangling.

baca juga: Oligarki Media yang (Tetap) Menggurita

Kita bisa menduga, yang mengubah si ayah bukan waktu dua tahun, tapi kesepian yang menumpuk. Dan bertemu anak membuatnya lega. Tanpa menderet banyak basa-basi, lelaki tua itu membuka pecakapan. “Kuharap kejadian itu membunuhku,” katanya, setelah minum satu tegukan besar, lalu menandaskan sisanya. Tegukan ini agaknya mengisyaratkan  beban yang berjejal dan ingin ia luruhkan tapi tak pernah sempat. Dan detail semacam “tegukan besar” akan banyak kita temui dalam cerita-cerita lain. Tak perlu lewah, deskripsi cerkas Carver sanggup bikin impresi yang kuat pada benak pembaca.

Kejadian yang lelaki tua maksud adalah perselingkuhan. Ia berselingkuh dengan penjual keliling langganan istrinya. Seorang wanita tiga puluh tahun, dengan dua orang anak dan suami seorang supir truk yang berkecukupan. Ia berjualan hanya buat mengisi waktu senggang. Lelaki tua ini tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Puluhan tahun pernikahan, ada saat di mana ia pernah ingin berselingkuh dan punya kesempatan tapi tak pernah ia lakukan. Tapi dengan wanita ini, jari-jarinya bahkan bergetar saat hendak menyalakan rokok si wanita.

Kita membaca betapa terpuruknya pak tua ini. Dalam kesedihan yang sepi – menghadapi hari tua dengan perceraian – yang ia butuhkan hanya teman bercerita. Tapi anaknya barangkali bukan orang yang tepat. Seringkali narator kita ini malah memerhatikan kejadian lain di bar, atau hanya menanggapi dengan satu kalimat pendek. Namun, di tengah nasib buruk yang menimpanya, lelaki tua ini masih memikirkan cucunya. Ia menitipkan oleh-oleh pada narator kita untuk diberikan pada anak dan istrinya. Seperti dalam cerita Mandi, kita tahu, dalam percintaan, yang memberi justru yang mendapat kebahagiaan lebih. Oleh-oleh adalah upaya pak tua memanipulasi kesepiannya.

baca juga: Pesantren Tak Melayani Cebong dan Kampret

Sayangnya, si narator tak menganggap itu penting. Ia bahkan baru ingat pemberian ayahnya dalam perjalan pulang. “Tak apalah,” kata narator kita. “Mary tak butuh permen, Almond Roca atau apa pun. Itu tahun lalu. Sekarang ia lebih tak butuh lagi.” Respons “bengis” ini membuat kita makin merasakan kesendirian pak tua. Ia seperti berada dalam kamar yang gelap yang berada di dalam rumah yang gelap. Di luar rumah, kota benderang dan riuh dengan kesibukan seakan untuk menemaninya, tapi tidak.

Namun, kelihaian Carver memilih narator adalah satu hal. Selain ketelitian dalam menunjukan detail, yang membikin ceritanya menyenangkan adalah kekuatan dialog. Seperti cerita Oleh-Oleh, kita juga akan menemukan banyak cerita yang sebenarnya terasa sangat sehari-hari, tetapi, dengan kemampuan itu, ditambah kemangkusannya membungkus dengan kata, membuat peristiwa yang ia kisahkan melampaui perasaan “sekadar dekat”.

Salah satu yang ikut tumbuh bersama waktu dalam diri kita adalah gengsi. Ia sering pula dianggap sebagai kehormatan diri. Ketika bocah, kita bisa berantem dengan teman pada pagi dan bermain bareng siangnya. Saat dewasa, perselisihan menjadi nganga yang begitu jauh. Hubungan penuh gengsi ini diceritakan Carver, misalnya dalam Aku Bahkan Bisa Melihat Benda-Benda TerkecilDialog yang bersahutan dalam cerita ini membungkus keinginan merekatkan nganga antara dua orang dewasa. Si-aku, Istri Cliff, keluar rumah pada tengah malam dan menemukan Sam, tetangganya, sedang mengusir siput.

baca juga: Ketika Sapiens Tak Lagi Relevan

Cliff dan Sam mulanya kawan karib, tapi suatu peristiwa membuat mereka membikin pagar di rumah dan diri mereka. Kita cerap kalimat yang disampaikan Sam pada Istri Cliff: “Kata Sam, “Nanti waktu aku keluar lagi untuk menangkapi siput-siput ini, aku akan memeriksa ke arah rumah kalian.” Dia bilang, “Kuharap aku dan Cliff sudah berteman lagi. Coba sekarang lihat itu.”” Seperti teman dekat, Sam bersedia repot menangkapi siput di rumah Cliff. Tapi yang sebenarnya pengin ia sampaikan adalah keinginan kembali dekat. Hanya saja ia ragu dan lantas segera mengalihkan pembacaraan ke siput. Sam kelak juga masih ragu ketika ingin menitipkan salam. Ia butuh jeda dan menghentikan langkah istri Cliff sebelum kembali ke rumah.

Gengsi yang dibungkus dialog apik juga muncul dalam Satu Hal Lagi yang bercerita tentang keluarga payah. Seorang istri yang ingin mengusir suaminya. Bagi si istri, suaminya tak lebih berguna ketimbang toples acar. Dalam cerita ini, dialog terasa repetitif. Tapi justru karena itulah gengsi tergambarkan secara apik.

Kumpulan cerita ini adalah sebuah pakansi pembaca melihat cinta menurut Carver. Bagi Carver, cinta adalah keterasingan. Cinta membuat yang mencinta terjerembap ke dalam labirin. Pecinta menapakkan kaki di sana, dan dengan itu, merasa memiliki pijakan dan kuasa atas labirin. Tapi sebernarnya, ia tak pernah. Ruang itu selalu asing dan tak pernah terkuasai.

  •  

Judul: What We Talk About When We Talk About Love

Penulis : Raymond Carver

Penerjemah: Dea Anugrah dan Nurul Hanafi

Penerbit: Baca

Tebal: 208 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: