Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Parrhesia versus Afasia

Oleh: Cep Subhan         Diposkan: 25 Jul 2018 Dibaca: 1263 kali


Parrhesia menyaran pada dunia terang di mana tak ada ruang bagi kekaburan dan sesuatu yang tak jelas. Afasia, sebaliknya, menghendaki ketidakjelasan dan tatanan alur yang tersusun dari ilusi.

 

 

 

 

 

 

 

PARRHESIA Marjin Kiri adalah buku yang (diterjemahkan dan dikemas) dengan bagus: konten tersaji tanpa sintaksis dan semantik yang ruwet yang lazimnya pada buku filsafat akan membuat pembaca lantas merasa belagu menjadi filsuf kiwari belaka karena tak paham, ukuran buku 12 x 19 membuatnya bisa menjadi kawan yang menyenangkan untuk dibawa ke lokasi nongkrong tanpa membuat pembawanya nampak adigung. Ia, bagi saya, sama estetiknya dengan dua buku lama Marjin Kiri, "Bukan-Eropa"-nya Edward Said dan "Mitos dan Makna”nya Levi-Strauss: dua buku wajib baca yang pernah saya baca dan sayangnya tak bisa lagi saya baca kini karena ia tak dicetak ulang lagi dan karenanya saya tak bisa membelinya untuk lantas kembali membacanya.

 

Saya belum banyak membaca Foucault. Saya pernah mengunduh edisi pdf History of Sexuality-nya 3 jilid pada masa kuliah tapi kemudian membaca satu dua halaman saya menyerah: bagi pria berkacamata tebal seperti saya membaca di layar laptop dalam waktu lama bukanlah hal yang menyenangkan dan selain itu sebagai Klasikis saya jelas menyukai buku yang wujudnya bisa dipegang, aromanya bisa dicium, beberapa kalimatnya bisa ditandai stabilo. Membaca dalam bentuk pdf membuat kenikmatan-kenikmatan itu berkurang dan membaca seolah hanya sebuah ilusi, atau bagian dari tindak somnambulisme.

baca juga: Ke Manakah Mata Angin Kesenian Kita?

 

Membaca Parrhesia terbitan Marjin Kiri tentu bukanlah ilusi dan tindak pembacaan itu membuat saya mengingat Freud (astaga, Freud lagi!). Poin bahwa Parrhesia merujuk pada keberanian mengucapkan kebenaran dengan menanggung risiko bahaya membuat saya teringat celotehan Freud tentang Afasia. Ya, tepat, Foucault pun konon ada berbicara tentang Afasia, tapi mari kita jernihkan posisi saya sejak awal: saya merujuk Freud soal Afasia, dan Foucault soal parrhesia, jangan serakah, pada zaman di mana benua kian gosong terbakar ini sudah semustinya kita saling berbagi.

 

baca juga: Masa Lalu: Bersastra dan Berpolitik

 

Termasuk berbagi cerita, termasuk berbagi kisah kebenaran. Jika mengatakan kebenaran berisiko bahaya, maka mereka yang tak bisa mengatakan kebenaran adalah mereka yang tak berani menghadapi bahaya. Dengan istilah yang lebih kasar dan tak klinis: pengecut. Afasia dalam kasus-kasus awal karir Freud menyaran pada orang yang pada dasarnya bisa berbicara tapi kemudian dia mendadak (mem)bisu karena otak macet dan apa yang tersisa di dalam memori hanya "ya, tidak, dan kata sumpah". Parrhesia Foucault, nampak bagi saya, adalah "semacam kebalikan" dari Afasia Freud.

Freud membicarakan Afasia dalam konteks kelumpuhan fisik sebagai akibat teror pada psikis, dan teror pada psikis mencakup penyebab yang tak terhingga, salah satunya: rasa takut, yang lain: narsisisme diri yang terlalu agung. Rasa takut yang sangat menyebabkan kelumpuhan fisik temporal sampai rasa takut itu lenyap atau makin menjadi tanpa henti dan yang temporal pun menjelma permanen, cinta diri yang terlalu tinggi membuat orang abai akan orang lain. Ia tak hidup dalam dunia nyata bersama orang lain, ia hidup dalam dunianya sendirian.

 

Dengan kata lain, dalam dunia pemilik narsisisme akut ia membayangkan dirinya hidup sendiri, tak ada cinta akan sesiapa selain diri sendiri, tak ada kasih akan orang di sekitar karena "sekitar" adalah sampah dibandingkan keagungannya. Orang semacam ini hanya akan mencintai dirinya sendiri, atau dalam istilah Freud: "penanam libido dalam diri-nya sendiri alih-alih kepada orang lain", kira-kira sama dengan andajelas bukan sayaonani sambil menatap foto anda sendiri...

 

baca juga: Cinta yang Akan Mendamaikan Segalanya

 

Tapi libido dalam terminologi Freud bukan hanya merujuk pada jenis hasrat pria mencari lubang (atau pemuas sejenisnya) dan hasrat wanita mencari menhir (atau benda tegak semacamnya), ia juga mencakup ego: penimbang real tidaknya pemenuhan hasrat, penimbang halal tidaknya peredaan ketegangan. Ketika libido ini ditanamkan belaka pada diri sendiri maka efeknya pun mudah ditebak: diri adalah satu-satunya pusat segala pertimbangan baik ketika memutuskan lubang yang mana yang mau digali maupun ketika memutuskan barang yang mana yang akan dibeli.

 

Pada titik itulah bisa dimengerti mengapa Parrhesia menjadi tak hadir dan Afasia menjadi lahir. Bahwa dalam pembahasan Freud penderita Afasia dimungkinkan untuk tak (mem)bisu total melainkan tetap menyimpan kosakata "ya, tidak, dan kata sumpah" maka itu mengisyaratkan satu hal: berkata bohong, manipulasi kisah, dan saudara-saudara kembarnya adalah saudara kandung Afasia belaka.

 

Parrhesia menyaran pada dunia terang di mana tak ada ruang bagi kekaburan dan sesuatu yang tak jelas. Afasia, sebaliknya, menghendaki ketidakjelasan dan tatanan alur yang tersusun dari ilusi. Freud tentu tidak berbicara soal "kebenaran" seperti Foucault dalam buku yang diterjemahkan dan dikemas dengan bagus oleh Marjin Kiri ini--dan saya masih selalu musti tersenyum tiap melihat kepala botak Foucault menjadi huruf O pada namanya di kover depan--tapi bagi Freud jelas sudah bahwa akhir bagi Narkissos sebagaimana dikisahkan dalam "Metamorfosis"-nya Ovid adalah ini: ia mati tercebur ke dalam dunia ilusinya sendiri.

 

Tapi kisah itu tidaklah sepenuhnya berakhir muram. Ketika mayatnya dicari yang kemudian hadir adalah bunga narkissos yang tak hanya berguna bagi pengobatan, melainkan juga simbol kelahiran kembali. Narkissos pengidap Afasia akut hanya bisa lahir kembali dengan meninggalkan dunia ilusinya dan membuka diri jujur pada dunia real, menjadi berguna bagi orang lain. Dengan kata lain: Parrhesia.

 

 

  •  

Judul Buku: Parrhesia

Penulis: Michel Foucault

Penerjemah: Haryanto Cahyadi

Penerbit: Marjin Kiri

Dimensi: 12x19 cm l Softcover

Tebal: 219 hlm l Bookpaper



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: