Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Pembaratan dan Suara Lain dari Amazon

Oleh: Anindita S T         Diposkan: 11 Dec 2018 Dibaca: 1970 kali


Modernisme di Barat yang menderas setelah era Renaisance telah mengubah wajah Eropa. Mereka yang sebelumnya udik, terbelakang, hidup dalam takhayul berubah menjadi manusia-manusia pemuja rasio. Berselubung kolonialisme, mereka hendak memulai misi suci: memperadabkan manusia-manusia di Timur, Asia, Afrika dan Amerika Latin. Maka, sebagaimana dikatakan Edward Said dalam Orientalisme, mereka pun mengirim ahli agama, antropologi, linguistik, arsitektur, hingga sejarawan ke luar Eropa. Kebudayaan non Eropa yang, menurut mereka, masih barbar, primitif, dan irasional wajib dibaratkan.

Generasi Macondo dan Kritik Terhadap Modernisasi

Novel Sang Pengoceh karya Mario Vargas Llosa menarasikan dengan apik proses pembaratan yang terjadi di hutan Amazon, khususnya wilayah Peru. Dalam peta Amerika Latin, Mario Vargas Llosa, sastrawan kelahiran Peru yang memperoleh Nobel Sastra 2010, sering dimasukkan sebagai penulis generasi Macondo. Karya-karyanya yang kritis terhadap modernisasi telah menjadi bacaan wajib bagi mereka yang ingin mengetahui sejarah Amerika Latin.

Sebagai seorang penulis, ideologi Llosa berbeda dengan generasi McOndo (McDonald's, Macintosh, Condominium) yang muncul pada tahun 1996 dengan pelopornya Alberto Fuguet. Generasi McOndo menerima pengaruh Barat berikut sistem ekonomi neoliberalisme-nya sebagai kenyataan yang tak dapat dielakkan, sementara generasi Macondo berusaha kritis terhadap hal tersebut. Bila generasi McOndo menuliskan kehidupan urban lengkap dengan mal dan Coca Cola, sebaliknya para penulis Macondo, serupa Llosa, bertutur tentang manusia-manusia yang dipinggirkan oleh modernitas. Hal ini tercermin dalam novel Sang Pengoceh.

baca juga: Riwayat Kejayaan Musik Rock di Indonesia

Dengan gaya bertutur yang jernih, Llosa menggambarkan dampak modernisme Barat di Amerika Latin. Pun, petualangan tokoh utamanya memasuki hutan Amazon yang masih purba demi menunjukkan betapa kejamnya modernisme merusak alam dan menjungkir-balikkan kehidupan manusia.

Novel ini berlatar kota Lima, Peru dan wilayah di sekujur hutan Amazon tempat suku-suku pedalaman bermukim. Bernarator Aku, sikap Llosa tercermin jelas lewat tokoh Saul Zuratas, seorang mahasiswa Etnografi di Universitas San Marcos, yang kritis terhadap usaha-usaha memperadabkan orang-orang Indian yang masih hidup di belantara Amazon. Salah satu bentuk keberpihakannya tampak ketika dia menolak melanjutkan pendidikan di Barat. Bagi Saul, Barat hendak menghancurkan Amerika Latin dari dalam.

Sebagai “orang dalam”, Saul paham apa yang mengancam negerinya. Ditopang pendanaan yang kuat, Barat mengirimkan orang-orangnya memasuki pedalaman Amazon guna menyapu bersih budaya lokal, dewa-dewa, cita-cita hingga jiwa suku-suku pedalaman.

baca juga:  Mengapa “Apakah Masyarakat Kita Sudah Siap dengan Sastra seperti Ini?” Bukan Pertanyaan yang Tepat?

Sebagaimana konsep Antonio Gramsci, bagi Saul, proses modernisasi terhadap suku-suku pedalaman merupakan usaha hegemoni Barat terhadap Amerika Latin. Hegemoni budaya inilah yang menjadi awal pengeksploitasian negara itu. Tak heran, serupa yang tersaji dalam novel Sang Pengoceh, setelah pembaratan dinilai berhasil maka berdatanganlah perusahaan-perusahaan minyak seperti Shell dan Petro Peru untuk beramai-ramai mengeksploitasi kekayaan alam yang ada di sana. Tujuan pembaratan ini masih sama dengan kolonialisme Abad Pertengahan, yaitu untuk gold (emas/kekayaan), glory (kekuasaan) dan gospel (penyebaran agama). Pada akhirnya, suku-suku pedalaman berubah paria di tanahnya sendiri.

Suku-suku pedalaman Amazon percaya bahwa alur sejarah melingkar. Pada titik-titik tertentu, mereka akan menjalani nasib sebagaimana yang dialami leluhur mereka ketika diserbu pasukan Inca atau diperas penjajah Spanyol atau dijadikan budak cukong-cukong karet dan kayu pada masa Republik. Nasib yang semakin diperparah oleh perdagangan kokain, perang antarkartel dan pertempuran politik. Dan kenyakinan ini terbukti. Di era kapitalisme neoliberal mereka mengalami nasib yang sama dengan nenek moyang mereka.

Kapitalisme menemukan banyak cara untuk mengeksploitasi negara Dunia Ketiga. Bila cara halus tidak bisa dipakai mereka akan memakai kekerasan. Memprovokasi terjadinya perang saudara untuk mengadu domba sebuah bangsa, lantas menguasai sumber daya alamnya. Inilah penyebab negara-negara Dunia Ketiga terus menerus berada dalam situasi tidak stabil, sebagaimana terjadi di Amerika Latin.

baca juga: Deforestasi dan Bayang-bayang Zoonosis

Ocehan yang Patut Didengar

Kritik Llosa dalang Sang Pengoceh memang cukup telak. Diselilingi kisah-kisah mitologi suku-suku pedalaman Amazon tentang penciptaan semesta, jenis-jenis tumbuhan serta hewan, kepercayaan dan ragam bahasa, pembaca disuguhi proses pembaratan yang dilakukan dengan cara-cara terselubung, misalnya lewat institusi akademis.

Orang-orang Eropa merasa telah memajukan suku-suku pedalaman tersebut, padahal yang terjadi sebenarnya adalah proses penghancuran. Lembaga pendidikan bukan lagi sebagai tempat untuk pencerahan dan pembebasan manusia, tetapi telah berubah menjadi mucikari pembaratan. Dengan nada ironi, Saul menyatakan bahwa Tuhan suku pedalaman pun bahkan hendak diganti oleh Tuhan orang Eropa yang abstrak. Suku-suku pedalaman hendak dicabut dari akar historisnya sebagai manusia yang punya pandangan hidup sendiri dengan legitimasi ilmu pengetahuan dan agama.

Sebagai salah satu master cerita Amerika Latin, Llosa berhasil menyuarakan suara lain negerinya dengan bahasa yang bening. Di dalam novel ini ada banyak nama suku disebutkan. Ini penting untuk memberikan gambaran yang lebih terang seputar peta masyarakat pedalaman Amerika Latin yang berkaitan dengan akulturasi, integrasi maupun perbedaan-perbedaan di antara mereka sehingga kita bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam.

baca juga: JALAN JIWA BAHAGIA

Pada satu titik, membaca Sang Pengoceh seperti melihat halaman belakang negara kita. Apa yang terjadi terhadap suku-suku pedalaman di Amazon tak jauh berbeda dengan suku-suku yang ada di pedalaman Papua, Kalimantan maupun Sumatera. Sebagai korban modernisasi dan industrialisasi, mereka semakin terpinggirkan di tanah nenek moyangnya sendiri. Modernisasi yang dikonsepkan untuk memajukan peradaban, di titik lain justru menghasilkan bencana yang berkepanjangan. Orang-orang dipaksa menjadi global, padahal ada nilai-nilai lokal yang tidak dapat ditinggalkan. Pada ujungnya, universalisme tidak cocok bagi kehidupan manusia yang mempunyai cara hidup sendiri-sendiri.

Lewat Sang Pengoceh, Llosa seakan hendak menggemakan kembali pesan Goethe agar manusia menjaga Tiga Pengharapan yang hilang dari diri manusia modern, tetapi masih dimiliki oleh suku-suku pedalaman, dan mesti terus dijaga. Yaitu, pengharapan terhadap yang di bawah kita (mineral, flora dan fauna), pengharapan terhadap yang di atas kita (alam ruhani), dan pengharapan terhadap sesama manusia.

Demi keharmonisan makro dan mikro kosmos, pengharapan-pengharapan tersebut mesti tetap disuarakan. Di sinilah peran penting Sang Pengoceh sebagai penjaga ingatan agar tak berkarat. Sang Pengoceh itu bisa bernama Saul, Mario Vargas Llosa, Gabriel Garcia Marquez, Jorge Luis Borges atau penulis lain yang peduli pada sesamanya, terutama mereka yang dipinggirkan.

  •  

Judul: Sang Pengoceh

Penulis : Mario Vargas Llosa

Penerbit: Oak

Penerjemah: Ronny Agustinus

Tebal: 374 hlm

  •  


Tags

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: