Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Pemberontakan di Pelabuhan Pembunuhan di Ladang Tebu

Pembuangan Pulau Buru dari Barter ke Hukum Pasar

DJOKO SRI MOELJONO lahir 5 Mei 1938 di Banyuwangi, Jawa Timur. Sekolah Dasar (SR), SMP, dan SMA (1957) tamat di Malang. Melanjutkan kuliah di ITB Jurusan Pertambangan (1957–60). Spesialisasi Metalurgi di Moskwa, Uni Soviet (1960), karena proyek baja pertama dibiayai dengan pinjaman Uni Soviet. 

Sempat bekerja satu tahun dalam pembangunan proyek baja Cilegon sebelum dijebloskan ke penjara di Serang, kemudian dipekerjakan selama enam tahun dalam rehabilitasi jaringan jalan raya di seluruh Banten. Tahun 1971 diberangkatkan ke Pulau Buru dan bebas tahun 1978. Menikah tahun 1982 dan dianugerahi seorang putri dan seorang putra.

Buku Pembuangan Pulau Buru ini merupakan bagian kedua dari memoar penulis selama menjadi tapol rezim Orba, Oktober 1965 sampai Desember 1978. Bagian pertama terbit dengan judul Banten Seabad Setelah Multatuli (Ultimus, 2013) mengisahkan latar belakang pendidikannya sampai ia ditangkap ketika bekerja di proyek baja Cilegon, Banten, selanjutnya sebagai pekerja paksa yang berakhir ketika kapal yang membawa para tapol mendarat di Namlea, Pulau Buru.

Selamat Membaca dan Merdekalah...


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Tokoh dan Sejarah
Ketebalan : x + 262 hlm | HVS
Dimensi : 15x21 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Tersedia
Penerbit: Ultimus
Penulis: Djoko Sri Moeljono
Berat : 400 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by