Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Pendidikan sebagai proses Penelitian Hukum Suatu Perspektif Teori Keadilan Bermartabat

Pendidikan yang Memiskinkan

Darmaningtyas
Description
Bukan sebuah sikap pesimis, sebaliknya, tulisan Pak Tyas membuat mata kita semakin terbuka terhadap wajah pendidikan di Indonesia.
Stock: Tersedia

Kategori : Umum

Kita semua sepakat bahwa pendidikan merupakan faktor paling penting dan menentukan kemajuan sebuah bangsa. Ironisnya, manakala pendidikan yang telah lama berjalan atau telah lama rancangan dan dilaksanakan tidak menunjukkan hasil sesuai dengan harapan.

Terlebih jika pendidikan tersebut berdampak pada kemiskinan, yang oleh Pak Tyas dimaksudkan tidak hanya secara ekonomis, melainkan memiskinkan jiwa merdeka seseorang, memiskinkan sikap apresiasi terhadap kehidupan manusia, memiskinkan rasa seni dan budaya masyarakat, serta memiskinkan pikiran.

Yang dikemukakan Pak Tyas dalam buku ini merupakan realitas yang sebetulnya tentang pendidikan Indonesia. Bukan sebuah sikap pesimis, sebaliknya, tulisan Pak Tyas membuat mata kita semakin terbuka terhadap wajah pendidikan di Indonesia.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Umum
Ketebalan : xvi + 312 hlm | Bookpaper
Dimensi : 15,5 x 23 cm | Soft Cover
Bahasa : Indonesia
Stock: Tersedia
Penerbit: In-TRANS
Penulis: Darmaningtyas
Berat : 350 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by