Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Pengajaran Sains Calon Ilmuwan

Oleh: M. Fauzi Sukri         Diposkan: 23 Sep 2020 Dibaca: 370 kali


Saintis (scientist) atau ilmuwan tidak dilahirkan berkat kecerdasan atau pun kejeniusan genetis. Saintis justru lahir dari rahim pengajaran. Seandainya tanpa pengajaran bisa melahirkan jenius ilmuwan, maka seluruh proses pengajaran sejak dini dan terutama di perguruan tertinggi pasti tidak diperlakukan. Buku klasik filosof matematikawan Alfred North Whitehead ini mengelak dari tesis manusia jenius dan sekaligus mengajukan paradigma pengajaran-pendidikan sains sebagaimana dipraktikkannya selama bertahun-tahun di Universitas Cambridge lalu di Universitas Harvard.

“Ilmu Pengetahuan,” kata Alfred North Whitehead dengan penuh keyakinan dari hasil pemahaman sejarah dan praktik pedagogis, “adalah sungai dengan dua sumber mata air, yaitu sumber praktik dan sumber teoretis.” Dua hal ini tidak boleh dipisahkan. Namun, adalah sangat penting untuk memberikan porsi yang bagus berdasarkan perkembangan kognitif psikologis siswa didik.

“Di masa awal pendidikan, anak harus merasakan asyiknya kegiatan eksperimen,” kata Alfred North Whitehead. Di sini, tujuannya bukan untuk menghasilkan suatu penemuan ilmiah (invention), juga bukan untuk membuktikan atau menyalahkan (falsifiability) suatu teori ilmiah dan sebagainya. Yang paling penting adalah pengalaman ragawi-mental-pikiran yang menyenangkan bersama sains: menghayati “Eureka!” Archimedes, ketakjuban-ketakjuban penghayatan-ragawi ilmiah.

Pada masa pembelajaran tingkat dasar, teori memang penting diketahui, tapi praktik bereksperimen sangat jauh lebih penting. Eksperimen itu bakal jadi pengalaman yang sangat membekas di hati-pikiran. Pengalaman bereksperimen itu berarti sejuta kata teoretis bagi seorang calon ilmuwan.

Alfred North Whitehead memperingatkan: “Dalam upaya mengaktifkan daya pikir anak, kita harus mewaspadai adanya potensi “kelembaman gagasan”, di mana gagasan hanya masuk ke dalam pikiran tanpa ditindaklanjuti tahap pemanfaatan, pengujian, ataupun pengembangan secara lebih luas.” Di Indonesia, betapa sering proses kelembaman gagasan ini terjadi, demi menjawab secara tepat sejumlah pertanyaan dari guru atau pemerintah dalam ujian. Anak didik, bahkan para gurunya, lebih terpapar teks daripada berbagai eksperimen.

Dalam jangka panjang, hal itu sangat berbahaya dalam mendidik-mengajar calon ilmuwan. Dalam ‘Fungsi Universitas’, salah satu esai dalam buku ini, Alfred North Whitehead mengingatkan, “Pemuda itu imajinatif, dan apabila imajinasinya diperkuat dengan disiplin energi imajinasi ini akan sangat terjaga di sepanjang kehidupan. Tragedi terjadi di dunia apabila terdapat orang yang imajinatif tapi hanya memiliki sedikit pengalaman, dan orang yang berpengalaman tapi memiliki imajinasi yang lemah. Orang-orang bodoh menggunakan imajinasi tanpa pengetahuan; orang yang sok berilmu menggunakan pengetahuan tanpa imajinasi. Tugas universitas adalah menggabungkan imajinasi dan pengalaman.”

Baca juga: Gorky, Para Jelata dan Aksi Massa 

Tentu saja, meski tampak mengagungkan sains, produk eksternal dari proses panjang manusia dalam pencarian ilmu, Alfred North Whitehead mengingatkan tujuan dasar pendidikan-pengajaran: “Pendidikan yang tidak dimulai dengan membangkitkan inisiatif dan diakhiri dengan mendorong inisiatif tersebut pasti salah. Karena tujuan keseluruhan dari pendidikan adalah menghasilkan kebijaksanaan aktif.”

Kebijaksanaan aktif adalah perilaku ragawi, bukan menghayati kata-kata mutiara membuai: perilaku dalam tindakan (bukan menghafal kisah indah penuh hikmah), belajar seraya mempraktikkan atau bereksperimen langsung, dan berlatih berpikir yang lebih konkret dalam bentuk tindakan atau tulisan: menjadi manusia yang penuh gerak inisiatif, jadi manusia aktif bukan manusia pasif, dan terus belajar menjadi pembuat keputusan terbaik bagi hidupnya dan manusia di lingkungannya.

Seluruh roh buku The Aims of Education ini disarati oleh kesadaran historis tentang kedigdayaan sains modern, sang pendatang baru yang digdaya menyingkap rahasia semesta. Sains modern  memberikan kuasa besar bagi manusia atau komunitas politik seperti Eropa dan Amerika Serikat atau China dan India sekarang. “Masyarakat yang maju bergantung pada tiga kelompok—sarjana, penemu, pencipta. Kemajuan tersebut juga bergantung pada fakta bahwa massa yang terdidik terdiri atas anggota yang masing-masing memiliki sedikit kesarjanaan, sedikit penemuan, dan sedikit penciptaan,” kata Alfred North Whitehead. Tentu saja, sarjana, penemu, pencipta biasanya menyatu dalam diri seorang ilmuwan (scientist) yang sekaligus teknologi—setidaknya begitulah gambaran dan pola pengajaran sains pada abad ke-18 bahkan sampai saat ini di beberapa perguruan tertinggi.

Baca juga: Kisah-kisah Keturunan Arab Betawi

Yang menarik diperhatikan, kata-kata Alfred North Whitehead tentang peran penting ilmuwan (scientist) itu tidak akan keluar dari pikiran para pendidik atau politikus yang hidup sebelum sains modern menjadi satu bukti besar peradaban modern: peradaban sains teknologis.

Tak ada satu negara pun di muka bumi saat ini mau mengabaikan sains sebagai salah satu cabang keilmuan yang wajib dipelajari generasi mudanya. Setidaknya, sains kedokteran sudah pasti akan diajarkan sebagai bagian sangat penting merawat rakyatnya. Ini bukan masalah alergi Eropa-sentris, atau masalah kolonialisme atau imperialisme baru. Ini adalah perihal suatu ilmu, sebagai perangkat pengetahuan yang bisa diandalkan, yang bisa memajukan masyarakat, yang bisa menguatkan suatu sistem politik, setidaknya bisa mewaraskan sebagian masyarakatnya.

Di Indonesia, kita sering terbalik-balik mengkampanyekan pola dasar pengajaran ilmu pengetahuan: sering menakut-nakuti anak didik dengan moral dan bahaya kecongkakan akal. Lebih baik menjadi orang baik daripada menjadi ilmuwan yang sombong dengan ilmu yang memang pantas disombongkan. Seakan menjadi baik itu tanpa perlu berpikir, tanpa perlu berilmu, tanpa perlu riset pengetahuan.

Baca juga: Pergulatan Wacana dan Pesan Pencarian Pangeran 

Tak pelak lagi, meski ketinggalan dalam psikologi perkembangan jika dibandingkan dengan multiple intelligence sudah cukup berterima di kalangan ilmuwan, buku klasik Alfred North Whitehead ini masih sangat relevan dengan perkembangan pengajaran-pendidikan sains apalagi untuk Indonesia.  

 

Judul: The Aims of Education

Penulis: Alfred North Whitehead

Penerjemah: Purwani Indri Astuti dkk.

Penerbit: Diomedia

Cetakan I: Agustus, 2020

Halaman: xvi + 300

ISBN: 978-623-7880-21-9



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: