Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Pengantar Memahami Feminisme dan Postfeminisme Pengantar Perbandingan Sistem Hukum

Pengantar Pemikiran Tokoh-tokoh Antropologi Marxis

Dede Mulyanto
Description
Pengantar Pemikiran Tokoh-tokoh Antropologi Marxis
Stock: Out of Stock

Kategori : Agama dan Filsafat

Marx, yang kepadanya kita berutang pembedaan antara infrastruktur dan suprastruktur, memusatkan perhatiannya terutama pada yang pertama dan paling-paling mengulas relasi antar keduanya hanya secara garis besar saja. Kepada teori suprastruktur inilah saya coba memberikan sumbangsih. Claude Lvi-Strauss

Secara umum, antropologi Marxis lahir sebagai reaksi atas kegagalan teoretis dan kebutaan politis antropologi yang dominan sebelumnya, terutama pada watak konservatif dan anti-teori yang menjangkitinya.

Tokoh-tokoh yang diulas di buku ini:

Maurice Godelier
Claude Meillassoux
Michael Taussig
Marshall Sahlins
Claude Lvi-Strauss

dipilih karena orientasi teoretis mereka, yang meskipun tidak bisa secara bulat dimasukkan ke dalam satu aliran yang sama, tetapi secara garis besar memiliki kesamaan utama yang terpenting: bahwa mereka semua terilhami oleh Marx dan menggunakan konsep serta analisis Marx secara baru dan bukan secara vulgar-tekstual.

Mereka semua menawarkan suatu cara pandang baru dalam upaya memahami apa yang tersembunyi di balik dinamika realitas empiris kemasyarakatan dan kebudayaan.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Agama dan Filsafat
Ketebalan : vi + 244 hlm | Bookpaper
Dimensi : 14x20 cm | Soft Cover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Marjin Kiri
Penulis: Dede Mulyanto
Berat : 300 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by