Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Penonton Teater yang Membuat Teater Lain Sewaktu Menjadi Penonton dan Puisi Lainnya

Oleh: Sengat Ibrahim         Diposkan: 24 Aug 2019 Dibaca: 1903 kali


Patroli Kebodohan

aku lagi dipaksa hidup di negerimu. negerimu terbuat

dari kemerdekaan yang berantakan. kemerdekaan yang

dipaksa hadir sebagai penghapus identitas negerimu

sendiri. –sebuah negeri yang bercita-cita ingin hidup

melalui hutang luar negeri. aku hidup dalam keadaan

sekarat karena tidak punya keberanian hidup melarat.

lihatlah aku! aku hidup seperti maling yang melihat

semua kerja manusia adalah benar. aku hidup seperti

pembunuh yang—ketika di hadapan(mu) tak bisa

membunuh siapa-siapa. bahkan, mau membunuh

kemalasanku untuk tidak membunuhmu, aku tak bisa.

aku sedang sekarat dalam negerimu. negerimu begitu

luas untuk menampung manusia; knalpot dan pabrik

berebut napas di sana. aku menjadi orang asing seperti

sebuah bolpen yang diciptakan hanya untuk mencatat

daftar kemalasanmu. aku seperti sejarah yang luput

mencatat waktu, tempat sekaligus tahun, ketika sejarah

tersebut berlangsung: sejarah yang terbuat dari nama-

nama yang dilupakan jauh sebelum dunia mengenal

darah; sejarah yang tak punya malu mengenalkan diri

sebagai sejarah; sejarah yang diam-diam merubah

gedung-gedung pendidikan menjadi mall-mall; mall-

mall yang menjual pantat anak-anakmu. apakah hidup

bisa digerakkan oleh segala sesuatu yang tidak keluar

dari akal? di puisi ini, aku tulis pertanyaan itu dengan

kebodohan yang kumengerti; dengan kebodohan yang

kuhargai; dengan kebodohan yang kuingini; dengan

kebodohan yang kusayangi. seperti kebodohan yang

tak bisa kujelaskan melalui kebodohan itu sendiri:

kebodohan yang berharap mampu menurunkan berat

badanmu sewaktu menjadi bapak kami; bapak kami

yang punya keinginan mengatur sebuah negeri melalui

puisi. tapi puisi hanya terbuat dari kesedihan. katamu.

bukankah kesedihan adalah kebutuhan seluruh ciptaan.

jawabku.  setelah itu,  tak  ada  percakapan  lagi seperti

ketidak-tahuanku mengakhiri puisi ini. karena puisi tak

mau ditulis hanya sekali.

 

Jogjakarta, 2019

 

baca juga: Tak Ada Senja di Panggung Orkes dan Puisi Lainnya

 

Penonton Teater yang Membuat Teater Lain Sewaktu Menjadi Penonton

Kepada: Happy Salma, Agus Noor & Hasan Aspahani yang menggagas pementasan teater bertajuk

“Perempuan-Perempuan Chairil” pada11-12 November 2017 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

 

“seharusnya aku yang menemanimu di situ. sambil merencanakan masa

depan yang terbuat dari tubuh kita. tapi, aku hanyalah  penonton  yang

biasa hidup dengan pengetahuan yang belum diciptakan.

 

perempuan itu mengambil pekerjaanku. pekerjaanku sebagai  penonton.

perempuan itu menyaksikan aku: maksudku, aku dijadikan tontonan

oleh pemeran teater perempuan yang tidak bisa menciptakan dialog

sendiri; perempuan yang tidak pernah merasa bangga menggunakan

nama aslinya sendiri. aku melihat pisau sedang mengiris tubuhnya

sendiri. seperti perempuan itu melukai tubuhnya sendiri: maksudku,

mataku tidak bisa menangkap dengan jelas pisau digenggaman tangan

perempuan itu dihadirkan untuk apa. barangkali saja, pisau itu dikutuk

hadir seperti diriku dalam ruangan ini: datang dengan niat menikmati

pertunjukan teater dalam diri - sendiri, pulang dengan membawa

kebodohan yang datang dari luar diri. perempuan itu sedang

membocorkan isi kepalanya yang terbuat dari kota-kota kehilangan

nama. perempuan itu sedang dijajah oleh naskah teater yang dibuat

sutradara yang malas membaca sejarah: maksudku, sejarah negeri ini

menyusun tubuhnya di luar negeri dan ia tak pernah kembali.

2019

 

 

baca juga: Bouquet, Nymphea Aquaris, dan Puisi Lainnya

 

Alarm Kebodohan

aku mendengar suara adzan seperti suara pelacur menawarkan diri padaku

di subuh yang gemetar. subuh yang membuat kemalasan menjadi tuhan.

maksudku, pelacur itu merayuku menggunakan adzan di mulutnya. aku

datang padanya serupa sejarah yang dilarang keras berbicara di sekolah.

pelacur itu membangun hidup melalui kemaluan: makan dengan kemaluan,

nangis dengan kemaluan, bahagia dengan kemaluan, mencari sibuk dengan

kemaluan, merayu tuhan dengan kemaluan, nikmati hidup dengan kemaluan,

nutup lubang kebutuhan dengan kemaluan. pelacur itu merasa beruntung

hidup dengan mengandalkan kemaluan seperti aku yang menemukan  &

menciptakan hidup melalui pikiran. semoga saja, kesibukan dunia tidak

sesibuk kesibukan yang sedang berlangsung dalam pikirian(mu).

 

Jogjakarta, 2019

 

baca juga: Akrobatik Kata-kata dan Puisi Lainnya

 

Aku Tidak Tahu Apa yang Menuntun Jari-jariku untuk Mengetik Bahasa yang Terbuat dari Ketidak-tahuanku

aku ingin menulis untuk estri juga untuk  diriku  yang  lain.

diriku yang sedang tak mau aku kenali tapi ingin estri

kenali. aku sedang berada di depan kamar mandi. aku

membayangkan kamar mandi adalah ruang di mana kita

biasa leluasa mempermainkan masa depan. aku tidak

tahu mau membicarakan apa. seperti ketidak-tahuanku

kenapa ada ketidaktahuan saat aku ingin tahu banyak hal

tentang pengetahuan. aku membayangkan kau sedang

tenang membaca atau sedang sibuk untuk tidak membaca

apa-apa. di luar ruangan ini, angin belum membawa dingin

pada apa saja yang perlu didinginkan. seperti kenangan

yang tak pernah tahu kenapa ia disebut kenangan oleh kita.

semua yang ada di dalam kepalaku, yang aku yakini belum

tuhan ciptakan berebut masuk ke dalam tulisan ini: harapan

begitu mudah menjadi sia-sia sebelum dan sesudah menjadi

ratapan. aku semikin tidak tahu untuk menulis apa dalam

tulisan ini. ketidak-tahuanku seperti tuhan yang begitu

mudah menghadirkan sesuatu tidak melalui keinginanku.

aku merasa dan sedang tidak berusaha menulis kerinduan

padamu. karena, sudah banyak orang di luar sana yang

selesai menulis kerinduan. barangkali, bedanya mereka

menulis kerinduan bukan untukmu. aku tidak tahu

kerinduanku terbuat dari apa. apakah kerinduanku terbuat

dari kerinduan mereka, atau terbuat dari kita?--kita yang

begitu mudah menjadi rahasia di hadapan semua yang kita

kira pura-pura. aku sedang senang menuliskan kebodohanku

padamu. sebagaimana kesenangan mengenalkan

keberuntungan padaku. aku hanya merasa sedang menulis

sajak cinta yang tidak layak dibaca oleh siapa-siapa.

 

Jogjakarta, 2019

 

baca juga: Ibu, Pengembara, dan Puisi Lainnya

 

Puisi yang Sok Sibuk Membangun Dirinya-sendiri

puisi tak bisa hidup dengan dirinya sendiri. seperti aku

tak bisa hidup dengan kesendirianku sendiri. puisi

membangun tubuh yang hilang di luar puisi. seperti

aku mengisi pengetahuan dari luar diri. puisi mencoba

menghibur bukan untuk dirinya sendiri. seperti para

badut kehilangan tawa untuk dirinya sendiri. puisi

menangkap kesedihan di luar puisi. seperti para

peramal menghapus ramalan bagi dirinya sendiri.

puisi menangkap keindahan di luar puisi. seperti

matahari memberi sinar bukan untuk dirinya sendiri.

puisi memberi hidup bukan untuk dirinya sendiri.

seperti makanan menyediakan kenyang bukan untuk

dirinya sendiri.

 

Jogjakarta, 2019

 

baca juga: Di Lidah Para Politisi dan Pendusta: Puisi-puisi Norrahman Alif

 

Bahasa yang Kukumpulkan dan Tak Pernah Punya Tujuan

aku senang mengumpulkan bahasa. seperti kesenangan pengertian

hidup di tubuh bahasa. aku tenang bermain-main dengan bahasa

sambil menertawai tuhan yang gemar bersembunyi di dalamnya.

aku mencari bahasa yang terbuat dari kerinduan. sebagaimana

kerinduan mengintai orang-orang yang hidup sendirian. aku

senang mengumpulkan bahasa yang tidak membawa kebenaran.

bahasa yang setiap saat bisa membuat ancaman. apakah kau

sedang pusing membaca pengakuan kesenanganku bersama bahasa,

tuan? kalau pusing, jangan membawa pikiran ketika membaca.

sebab, tidak semua bahasa bisa kau nikmati dengan pikiran.

karena tidak semua bahasa membawa pengertian. aku tidak

tahu apakah bahasa yang kukumpulkan bisa hidup tanpa

kukumpulan. aku berharap bahasa yang kukumpulkan

membawamu pada kerinduan. aku merasa bahasa yang

kukumpulkan adalah diriku yang bisa kau curi: bahasa puisi yang

tak mau kukumpulkan menjadi puisi. sebelum aku menjadi

puisi itu sendiri.

 

Jogjakarta, 2019

  •  



1 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: