Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Penyair Tanpa Judul Buku

Oleh: Udji Kayang A.S         Diposkan: 12 Sep 2019 Dibaca: 450 kali


Berpuluh tahun sebelum Wiji Thukul, telah ada penyair asal Solo yang menulis puisi-puisi tentang rakyat. Penyair itu Hartojo Andangdjaja. Puisi termaksud berjudul “Rakyat”, cukup terkenal dan kerap dijadikan materi lomba pembacaan puisi—selain tentu saja puisi Aku” karya Chairil Anwar. Pembaca barangkali akrab pada bait-bait puisi Hartojo itu: Rakyat ialah kita/ jutaan tangan yang mengayun dalam kerja/ di bumi di tanah tercinta/ jutaan tangan mengayun bersama/ membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga/ mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota/ menaikkan layar menebar jala/ meraba kelam di tambang logam dan batubara/ Rakyat ialah tangan yang bekerja.

Puisi itu terasa wajar bila ditulis oleh penyair aktivis, misalkan Wiji Thukul, tetapi aneh mengetahui fakta bahwa “Rakyat” ditulis oleh salah satu penanda tangan Manifes Kebudayaan, yang dikenal hendak melepaskan sastra dan seni dari kepentingan politik. Gagasan Manifes Kebudayaan, bila boleh disangatsederhanakan, adalah pembebasan sastra dan seni dari keharusan “menjadi revolusioner”. Tak pelak, para penanda tangan Manifes Kebudayaan—yang kemudian diakronimkan menjadi Manikebu, akronim yang sarat ejekan—dianggap kontrarevolusioner. Manifes Kebudayaan pun dilarang. Puisi “Rakyat” karya Hartojo tentu ditulis sebelum Manifes Kebudayaan diumumkan. Tanpa pretensi meragukan simpati Hartojo pada rakyat, puisi “Rakyat” boleh dianggap bukti betapa “menjadi revolusioner” pernah menjadi syarat berkesenian di Indonesia.
 

Dalam esai berjudul “Peristiwa ‘Manikebu’: Kesusastraan Indonesia dan Politik di Tahun 1960-an”—terhimpun dalam Kesusastraan dan Kekuasaan (2003), Goenawan Mohamad menulis, “... tahun 1960-an awal itu barangkali memang bukan tahun untuk puisi. Setidaknya itulah masa ketika penyair akhirnya terdorong, karena satu dan lain hal, mengeksternalisasikan ruangnya yang inti, dunia batinnya. Agaknya, seperti yang juga saya rasakan, ada sejenis perasaan tidak enak untuk terpisah dari rangsang dan riam ‘revolusioner’ masa itu... Hartojo Andangdjaja, seorang penyair dan penerjemah puisi yang menurut saya lebih kuat ketimbang Trisno Sumardjo, menerbitkan ode yang cukup panjang dengan judul ‘Rakyat’.” Ada semacam desakan, pada masa itu, agar penyair menulis karya-karya ihwal tanah air atau massa rakyat.

baca juga: Merayakan Peter Carey dan Sejarah Jawa

Kendati ganjil, puisi “Rakyat” karya Hartojo lestari hingga kini. Selain dijadikan materi lomba pembacaan puisi dan menjadi semacam bacaan wajib saat perayaan hari kemerdekaan Indonesia, puisi “Rakyat” kini dihadirkan kembali dalam sewujud buku berjudul Kumpulan Puisi (2019), terbitan Kakatua. Penerbit menulis, “Satu-satunya buku kumpulan puisi yang dimiliki Hartojo Andangdjaja adalah Buku Puisi (1973) yang memuat sebanyak 36 puisi. Diterbitkan oleh Pustaka Jaya atas prakarsa Ajip Rosidi.” Satu-satunya buku kumpulan Hartojo itu kemudian dilengkapi dengan puisi-puisinya yang lain, yang beberapa pada masa kemudian terbit dalam Buletin Sastra Pawon (edisi 43, tahun ke-VII, 2014) dan beberapa yang lain disimpan putranya, Haris Widjajanto.

Hal lain dari Hartojo yang tidak kalah ganjil dari puisi “Rakyat” adalah mengapa buku-buku puisinya tidak diberi judul yang benar-benar judul? Buku kumpulan puisi pertamanya “hanya” diberi judul Buku Puisi, sementara buku berikutnya—yang terbit jauh setelah kematiannya—sekadar dijuduli Kumpulan Puisi, atau misalkan disertakan subjudulnya menjadi Kumpulan Puisi (1945-1976): Dilengkapi Manuskrip. Ada banyak puisi Hartojo yang judulnya cukup memikat, misalnya “Jam-jam Keabadian”, “Kwatrin Tidak Bernama”, “Nyanyian Kembang Lalang”, dan sebagainya. Hartojo terlihat tidak kesulitan menentukan judul, sebetulnya. Namun, untuk menjuduli buku, tampaknya ia punya pertimbangan lain, entah apa.

Cara gampang untuk menjuduli buku kumpulan puisi adalah meminjam salah satu judul puisi yang terhimpun di dalamnya. Pertimbangannya lain-lain: karena judul yang dipilih dirasa paling mewakili puisi-puisi lainnya, dirasa paling menjual, atau manasuka saja, terserah keputusan penyairnya. Kadang-kadang, penentuan judul puisi yang dipilih sebagai judul buku pun sepele belaka. Sapardi Djoko Damono menulis pengakuan soal judul Hujan Bulan Juni (2013), buku kumpulan puisinya yang terkenal itu. “Perlu saya sampaikan juga bahwa judul buku ini, Hujan Bulan Juni, saya pilih berdasarkan judul kaset rekaman pertama musikalisasi puisi saya yang diusahakan oleh sebagian besar nama yang saya sebut sebelumnya, yang banyak di antaranya waktu itu masih menjadi mahasiswa di Fakultas Sastra Universitas Indonesia,” tulis Sapardi.

baca juga: Generasi Pasca-Nasionalisme Tradisional

Siapa kira, buku kumpulan puisi yang penjudulannya berdasarkan produk alih wahana—yang selalu produk kedua atau kesekian—pada kemudian hari menjelma salah satu judul buku kumpulan puisi paling terkenal? Padahal, keputusan Sapardi menjuduli buku kumpulan puisinya Hujan Bulan Juni kala itu lebih semacam apresiasi atas kerja keras para mahasiswanya, alih-alih pilihan yang serta-merta mempertimbangkan pasar. Pada akhirnya, penyair punya hak hampir tak terbantahkan untuk memilih sendiri judul buku kumpulan puisinya, dengan pertimbangan apa pun. Hartojo memiliki hak itu untuk menjuduli Buku Puisi, dan hak penjudulan buku berikutnya bisa jadi ada pada penerbit, atau Haris, putra sekaligus ahli waris puisinya. Toh, pada akhirnya buku kumpulan puisi Hartojo tetap sekadar dijuduli Kumpulan Puisi. Hartojo barangkali memang ditakdirkan menjadi penyair tanpa judul buku. []

  •  

Judul: Kumpulan Puisi

Penulis: Hartojo Andangdjaja

Penerbit: Kakatua

Tebal: 134 halaman

  •  

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: