Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Perempuan, Cinta dan Belenggunya

Oleh: Anindita ST         Diposkan: 19 Dec 2019 Dibaca: 5448 kali


Banyak dipermasalahkan akhir-akhir ini tentang perilaku perempuan modern yang dianggap mudah tersesat. Hal tersebut dipantik oleh antusiasme pemberitaan media yang berlebihan pada kasus-kasus beraroma skandal. Perempuan kerap dipandang lebih negatif ketimbang lelaki kekasih gelapnya, disoroti keadaan subjektifnya, bahkan dihakimi sepihak lewat judul berita yang provokatif. Strereotip pun menguat. Perempuan dianggap benar makhluk lemah yang mudah digoda setan dan pembawa aib. Beramai-ramailah orang memperkusinya tanpa mau repot-repot berpikir mengapa itu bisa terjadi. Mengapa seorang perempuan bisa terjerat skandal? Apakah karena kebodohan, kenaifan, atau kegenitannya?

Lewat sastra, kita diajak berkenalan dengan seorang perempuan terhormat korban skandal bernama Anna. Tokoh rekaan pujangga besar Rusia, Leo Tolstoi, ini muncul dalam novel berjudul Anna Karenina. Sebuah novel yang ditulis pada abad ke-19, tapi isinya masih sangat relevan dengan kenyataan hari ini. Kenyataan bahwa cinta bukan hanya membaurkan hasrat dan erotisisme, mempersilangkan takdir dan pilihan, tapi juga menyandingkan cahaya dan kegelapan. Cinta pun bisa melahirkan aib. Perselingkuhan.

 

Cahaya dalam Kamar

Kisah yang tersaji dalam Anna Karenina berlatar lingkungan tertutup masyarakat kelas atas Rusia pada era Tsar. Tiga keluarga bangsawan menemukan bahwa mereka tidak hanya terikat tali perkerabatan dan pertemanan, tapi juga terjebak dalam silang sengkarut drama yang sama: pengkhianatan. Dalam upaya menjembatani hubungan antara Stiva, abangnya yang ketahuan berselingkuh, dan sang istri, Anna justru tergoda bermain asmara dengan seorang perwira muda tampan yang mengidolakannya sejak pertemuan pertama. Pemuda itu teman Stiva bernama Vronskii, yang kebetulan merupakan lelaki pujaan hati Kitty, adik perempuan Dolly, istri Stiva. Maka terjadilah pengkhianatan tersebut.

baca juga: Pendidikan Yang Menjajah

Ditulis memakai teknik arus kesadaran, Anna Karenina berusaha menyajikan sedetil mungkin apa yang terjadi di atas panggung sekaligus apa yang tersembunyi di balik layar sebuah drama kehidupan. Dengan kesabaran dan ketekunan yang mengesankan, Tolstoi memberikan tempat kepada setiap tokohnya untuk bermonolog: berbicara, berbisik, berpikir bahkan berdebat dengan dirinya sendiri. Dari situlah terkuak hal-hal yang melatarbelakangi perbuatan Anna hingga berbuah perceraian, pengucilan dan akhir yang tragis.

Awam menganggap cinta itu buta. Anggapan ini sering dipakai untuk merasionalkan sebuah kenekatan atau ketololan yang konon dilakukan atas nama cinta. Namun, sesungguhnya cinta mampu “melihat” dengan caranya sendiri. Ia memang  misterius, tapi alasan dan tujuannya jelas.  

Menurut sastrawan Octavio Paz, dalam Nyala Ganda, cinta membutuhkan perjumpaan. Digerakkan oleh hasrat, cinta selalu mengajak indra untuk memilih yang terbaik dari sesuatu yang didambakan seorang manusia, seperti kerupawanan, kecerdasan, kebijaksanaan, kemudaan, kekayaan, kekuasaan. Hingga dalam satu perjumpaan istimewa, ketika gairah dan daya tarik yang begitu kuat meruak di antara dua sosok yang berbeda, cinta pun datanglah. Sebuah kedatangan yang mesti terjadi tanpa undangan dan tanpa paksaan ketika tiba saatnya untuk memilih. 

baca juga: Jejak Madilog dalam Ilmu Sosial Indonesia

Jika pengkhianatan Anna terhadap Karenin, suaminya, dilihat menggunakan kacamata yang berlensakan teori cinta ala Paz maka teranglah penyebabnya. Oleh keluarganya, Anna didorong menikahi Karenin karena status sosial lelaki itu yang lebih tinggi, juga jabatannya yang terhormat di kementrian. Anna berada dalam sebuah perkawinan yang hampa cinta. Perkawinannya lebih merupakan sebuah kewajiban, bukan pilihan. Hingga tibalah hari ketika dia bertemu Vronskii. Itulah saat dimana Eros melepaskan panahnya dan membuat Anna seolah bisa melihat secercah cahaya di dalam kamar tidurnya yang gelap. Cahaya cinta. Sebuah pembebasan.

 

Konstruksi dan Dominasi

Cinta bersifat universal. Ia bukan hanya dimiliki dan diimpikan oleh perempuan, tapi juga laki-laki. Namun, begitu menyangkut skandal, tiba-tiba saja ia seolah bersifat diskriminatif. Oleh masyarakat, cinta perempuan digambarkan tidak pernah puas, aktif dan negatif, sebaliknya cinta sang kekasih gelap dinilai lebih pasif. Itulah mengapa istilahperebut laki orang” (pelakor) jauh lebih populer daripada istilah “perebut bini orang” (pebinor). Masyarakat menyadari apa yang disadari Montaigne, sebagaimana yang dikutip Simone de Beauvoir dalam Second Sex, bahwa lebih mudah menyalahkan satu jenis kelamin daripada memaafkan yang lain. Lebih mudah menyalahkan seorang perempuan sebagai penyebab terjadinya suatu perselingkuhan daripada memaafkan seorang lelaki tukang selingkuh.

Dualitas yang timpang ini tampak dari perlakuan masyarakat kepada Anna setelah perselingkuhannya terkuak. Orang-orang menutup pintu-pintu rumah mereka untuk Anna, tapi tidak untuk abangnya dan kekasih gelapnya. Lelaki yang berselingkuh mendapat pemakluman, tapi tidak dengan perempuan. Suami yang mendapati istrinya terlibat skandal bahkan berhak menceraikannya saat itu juga, sebagaimana yang dilakukan Karenin, tapi tidak demikian dengan istri yang menemukan suaminya berselingkuh. Dia diwajibkan menjaga perkawinannya sekuat tenaga, juga dituntut agar tetap setia dan bersifat sabar serta, jika bisa, pemaaf sebagaimana yang terjadi pada Nadya, istri Stalin.

baca juga: Kafka, Absurditas dan Alienasi Sisifus

Dalam Stalin Kisah-Kisah yang Tak Terungkap karya Simon Sebag Montefiore, sejarah menulis betapa menderitanya istri pemimpin Rusia itu selama menikah. Sudah menjadi rahasia umum kalau Stalin selalu berkencan tanpa malu dan terang-terangan dengan istri-istri bawahannya, sebaliknya sangat protektif terhadap sang istri dan cemburuan. Beberapa jam sebelum kematian Nadya yang setragis Anna, Stalin konon masih sempat sibuk dengan kencannya sendiri usai sebuah pesta makan malam yang memabukkan.

Dalam dunia maskulin, perempuan dan laki-laki memandang cinta dengan ekspresi dualitas yang jelas. Di mata perempuan, cinta menawarkan pembebasan. Seorang perempuan yang sedang jatuh cinta selalu dipenuhi keinginan untuk menikah agar terbebas dari apapun yang dianggap telah mengurungnya, entah orangtua yang selalu mengatur atau perkawinan yang tidak bahagia. Kebebasan si perempuan berada di tangan kekasihnya. Sementara itu, di mata laki-laki, cinta memberinya kebebasan untuk menunjukkan kejantanannya dengan cara yang terhormat. Lewat perkawinan, seorang laki-laki bisa memiliki istri dan anak-anak, menjadi pemimpin sebuah keluarga, menyimpan beberapa gundik, bahkan membangun harem. Kebebasan laki-laki berada di tangannya sendiri.

Bagi laki-laki, apa yang utama adalah kehormatan dan kemuliaan. Untuk itu, dia harus bisa menunjukkan tanda-tanda maskulinitasnya, virilitas, di hadapan publik agar dikukuhkan oleh sesamanya, demikian ungkap Pierre Bourdieu dalam Dominasi Maskulin. Adapun keutamaan bagi seorang perempuan, masih menurut Bourdieu, adalah keperawanan dan kesetiaan. Hanya tersedia satu jalan untuk mendapatkan hal tersebut. Yaitu, kepatuhan. Jika ada perempuan yang nekat memberontak demi menempuh jalan yang berbeda dari yang sudah ditentukan maka sebuah hukuman sertamerta ditimpakan ke atas kepalanya. Derajat perempuan itu akan diturunkan, kehormatannya dilucuti.

baca juga: Mengupak Bising yang Hampir Padam

Sebagai hasil dari konstruksi masyarakat patriarki, ketimpangan mesti menyertai setiap aturan, larangan dan penilaian yang ada. Masyarakat selalu memposisikan perempuan terikat dan tergantung selamanya pada laki-laki, tapi tidak sebaliknya. Terbelenggu dominasi maskulin dan belajar dari ketidakberdayaan yang ditanamkan, bukan salah perempuan jika cinta datang kepadanya dalam wujud seorang pembebas, entah pangeran atau ksatria berkuda putih. Dan, cinta yang semacam itulah yang menghampiri Anna pada suatu hari di dalam hidupnya. Cinta yang justru menjauhkannya dari rasa bahagia di ujung cerita.

Anna Karenina hadir sebagai novel tebal dengan detil penceritaan yang cukup melelahkan. Namun, terlepas dari jumlah halamannya yang mampu mengintimidasi pembaca pemula, novel ini memberikan pengalaman membaca yang memuaskan. Dengan teknik pertukangan yang mumpuni, Tolstoi mampu membuktikan bahwa sebuah novel roman bertema pengkhiatan tidak melulu terasa dangkal dan dipenuhi adegan klise ala sinetron. Selain itu, berbeda dari kebanyakan buku hasil terjemahan yang seringkali kehilangan rasa setelah dialihbahasakan, Koesalah Soebagyo Toer berhasil menerjemahkan Anna Karenina dengan sangat baik.  

Lewat Anna Karenina, kita menemukan versi mini dari sebuah dunia yang dibuat oleh laki-laki dan bagaimana perempuan ditempatkan di dalam sana. Darinya, kita juga belajar bahwa meskipun Aristoteles menganggap perempuan sebagai ketidaksempurnaan alam, perempuan bukanlah sekadar makhluk yang diciptakan secara kebetulan. Layaknya laki-laki, perempuan juga manusia yang memiliki kemampuan untuk berdiri di atas kakinya sendiri, serta keberanian bertanggung jawab atas pilihannya, termasuk bagaimana mengontrol langkah secara benar selama berjalan di atas dunia milik laki-laki ini. Sebab hidup sebagai perempuan tidaklah pernah mudah.

  •  

Judul : Anna Karenina

Penulis : Leo Tolstoi

Penerjemah : Koesalah Soebagyo Toer

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal : 684 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: