Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Perempuan Bersampur Merah Perempuan Dalam Budaya Patriarki

Perempuan Cinta dan Kehidupan

Description
Selamat membaca, berimajinasi, dan mempelajari hal baru dari setiap cerita dari dua negara yang berbeda tetapi masih memiliki satu rumpun yang sama ini.
Stock: Tersedia

#TetapKirimBacaan lihat promo di bawah:


Kategori : Novel dan Sastra
Perempuan, Cinta dan Kehidupan: Kumpulan Cerpen Indonesia – Malaysia merupakan sekumpulan cerpen dari dua negara yang terdiri dari 10 penulis cerpen Indonesia dan 10 cerpen penulis Malaysia, yang dikemas indah menjadi satu buku.
 
Setiap cinta yang disajikan berisi tema, nilai, budaya, rasa, dan permasalahan berbeda-beda yang membuat pembaca berimajinasi membayangkan setiap jalan cerita indah dan unik di dalamnya.
 
20 penulis cerpen Indonesia – Malaysia ini bukan hanya penulis biasa, karena mereka adalah penulis-penulis yang namanya sudah dikenal di dunia sastra Indonesia dan Malaysia.
 
Selamat membaca, berimajinasi, dan mempelajari hal baru dari setiap cerita dari dua negara yang berbeda tetapi masih memiliki satu rumpun yang sama ini.
 
 

Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

Info Pengiriman:  Pesanan masuk tgl 21 - 27 Mei 2020 akan dikirim tgl 27 Mei 2020

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---
Kategori : Novel dan Sastra
ISBN : 9786024337810
Ketebalan : 314 hlm l Bookpaper
Dimensi : 13,5x18 cm l Softcover
Bahasa : Indonesia, 2019
Stock: Tersedia
Penerbit: Buku Obor
Berat : 250 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by