Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib

Wishlist
Stock: Out of Stock
Jumlah:

Ahmad Wahib (1942-1973) - wartawan, budayawan dan pemikir Indonesia yang konsisten merakam pengelutan pemikirannya atas meja di sebuah bikil sewa kecil; di dalam beberapa lembar buku tulis lusuh persis diari. Beliau mengikuti secara dekat perdebatan para ilmuwan dan intelektual era Orba. Meninggal dunia digilis sepeda pada Mac malam, ketika pulang kerja. Seorang teman tergegas ke bilik sewa Wahib; menyelamatkan buku-buku catatan yang kemudiannya terjilid sepertimana yang ditatap ini. 

Buku Pergolakan Pemikiran Islam ini merupakan kumpulan catatan harian Ahmad Wahib sebagai sebuah renungan pemikiran tentang Islam. Buku ini mendapat banyak tanggapan dan ulasan dari berbagai kalangan ormas Islam, media masa dan intelektual; ada yang pro dan yang kontra. Buku yang tebal sekitar 404 halaman ini dan sekarang telah masuk cetakan ke-enam, sangat bagus untuk dibaca, disimak dan didiskusikan.

 


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Berat: gram

Kategori : Tokoh
Ketebalan : vii + 405 hlm | Bookpaper
Dimensi : 11 X 17 cm | Softcocer
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: LP3ES
Penulis: Ahmad Wahib
Berat : 300 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa

Terakhir dilihat

Bayar dan Kirim

Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by