Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Peristiwa-Peristiwa yang Perlu Diwartakan

Oleh: Ahmad S Riady         Diposkan: 24 Jan 2019 Dibaca: 599 kali


Perjalanan umat manusia memuat banyak peristiwa yang patut untuk diceritakan ulang. Setelah itu diwartakan kepada generasi yang datang belakangan. Tujuannya bukan untuk dicontoh, melainkan sebagai upaya pengenalan sejarah panjang perjalanan umat manusia yang telah melewati beragam peristiwa.

Namun masih ada beberapa peristiwa dari masa lalu yang hakikatnya memuat pesan positif, sudah dibukukan, dan masih belum terjamah. Terjerat rasa malas membaca, kepercayaan mutlak terhadap afiliasi, sampai pelarangan dari pihak berwenang merupakan hambatan yang menutup akses manusia untuk menjamah dan bergumul dengan buku. Akibatnya, ragam peristiwa yang patutnya diketahui menjadi terlewat sia-sia.

Linda Christanty, seorang jurnalis, melalui bukunya Para Raja dan Revolusi; Esai-Esai Tentang Dewi Ibu dan Geng Motor Hingga Persekutuan Orang Tionghoa dan Globalisasi berupaya merekam ragam peristiwa yang jarang ditilik oleh manusia, tapi patut untuk diketahui. Buku ini menjadi salah satu di antara sekian buku yang memindah peristiwa dari tutur lisan menjadi tutur tulisan. “Bekerja untuk keabadian”, kira-kira demikian jika mengutip potongan kalimat dari Pramoedya Ananta Toer.

baca juga: Lubang Hitam Manusia Modern

Secara benang merah, buku ini merangkum peristiwa yang bersinggungan dengan tema-tema umum. Layaknya buku-buku lain. Ikatan erat keluarga, kisah-kisah para raja, kondisi perempuan di masa lampau, kisah lokal di masa lalu yang masih menarik untuk diulas, dan eksploitasi agama di tubuh masyarakat menjadi tema-tema pengisi di buku tersebut.

Peristiwa tentang “Ikatan Keluarga” bisa ditemui di tajuk ‘Sejarah Keluarga Adalah Sejarah Politik’. Kontennya tentang pelenyapan manusia sebab perbedaan ideologi dengan pemerintah pada masanya, dan proses hidup generasi setelahnya. Tema yang sama juga digunakan di tulisan ‘Si Pet, Cerita Dari Aceh’. Berbeda dengan sebelumnya, konten tulisan ini berbicara tentang kebiasaan ibu di masa dahulu yang  gemar bercerita untuk menyongsong lelapnya si buah hati. Lain dengan ibu di era milenial ini, meninabobokan anak kesayangan bukan melalui cerita dari suaranya yang diselipi doa dan kasih sayang, tapi cukup memutar lagu atau film dari gawai miliknya.

Sedang tema “Kisah-kisah Para Raja” bisa dijumpai di tulisan ‘Orang-Orang Kerajaan dan Republik’, ‘Mitos Dalam Kekuasaan Jawa: Dari Sisik Hingga Rujak Wuni’, ‘Bangsa Nusantara dan Peradaban Manusia’, ‘Ironi Dalam Perjuangan’, dan ‘Pemulung’. Hampir semua peristiwa yang diceritakan di tema ini berkutat pada perebutan kekuasaan. Mungkin karena orang elite, memiliki pengaruh dan masa pendukung. Saya rasa seperti itu lumrah, di mana pun tempatnya dan siapa pun orangnya.

baca juga: Kotak Pandora Orang-orang Malang

Namun dari sudut sejarah dan pembentukan negara, raja dengan kerajaannya juga turut ambil bagian. Sebelum berdiri negara Indonesia, kerajaan memainkan peran sentral dari berbagai lini. Kebudayaan, perdagangan, kesastraan, dan semacamnya di kontrol oleh raja. Berlalunya masa, kerajaan melebur, muncullah negara Indonesia. Tidak ada salahnya untuk melibatkan keturunan para raja untuk turut serta berperan, agar mereka juga merasa memiliki kepentingan di negara Indonesia (hlm. 43). Meskipun kini kisah kedigdayaan raja dan luas kuasa kerajaan kebanyakan telah menjadi cerita, kecuali Yogyakarta.

Dewi Ibu dan Orang Kasim’ menjadi satu-satunya tulisan yang seingat saya menyinggung tentang perempuan di buku ini. Kasus pemerkosaan dan stigma negatif yang melekat pada perempuan berusaha dilawan oleh tulisan tersebut dengan memunculkan cerita-cerita klasik. Tentu ceritanya berkiblat pada pengaruh dan kekuatan perempuan. Kemudian solusi dimunculkan di akhir tulisan bagi pelaku pemerkosa dengan dikebiri. Meski masih menimbulkan pro dan kontra, tapi sejarah mencatat bahwa manusia dikebiri justru memiliki potensi lebih. Salah satunya pasukan dan para negarawan yang baik di masa Dinasti Ming, adalah manusia dikebiri (hlm. 155).

Di halaman lain, akan ditemui peristiwa yang bercerita dengan latar belakang dan  khazanah lokal. Sepertinya, cerita semacam itu telah dianggap usang, beralih menjadi mitos, dan mungkin dilupakan oleh generasi yang datang belakangan. Namun tanpa disadari, cerita-cerita tersebut sebenarnya menarik untuk dibahas ulang. Bukan menjebak manusia dalam romantisme masa lalu, tapi sebagai upaya ikhtiar manusia untuk memetik satu dua hikmah yang masih relevan untuk konteks kekinian.

baca juga: Melihat Buku Bekerja

Tajuk ‘Hantu dan Revolusi’, kemudian ‘Panglima Hasan Badi dan Haji Mahmud’ mewakili peristiwa lokal yang diangkat di buku ini. Isinya berupa cerita dari para aktor pejuang di masa penjajah yang dibantu dengan kekuatan mistis. Ada juga cerita tentang manusia yang mempunyai saudara kandung buaya atau makhluk lain. Perjalanan hidup keduanya bisa diraba di tulisan ‘Syarifah Maryam Alkaf dan Si Buntung’.

Mungkin terdengar aneh sekaligus mustahil untuk konteks masyarakat sekarang. Namun saya rasa kejadian semacam itu bisa saja terlihat nyata di masa dahulu. Sebab orang masa lalu menghormati dan menghargai alam sebagai bagian dari kehidupan. Bukan tunduk dan patuh kepada teknologi yang justru mencederai hubungan baik alam dan manusia.

Sedangkan tema eksploitasi agama bisa dilihat di ‘Penjahat dan Teroris’, ’Charlie Hebdo dan Monumen Kegilaan’, ‘Membunuh Atas Nama Tuhan’, serta ‘Percakapan yang Hilang di Pagi Hari’. Kegilaan mutlak pada afiliasi membuat manusia ingkar bahwa sebenarnya tiap manusia berbeda. Sehingga upaya-upaya penyeragaman, apapun caranya halal untuk dilakukan. Selama itu sesuai dengan ajaran agama yang mereka pahami. Tujuan menghalalkan segala cara. Kira-kira demikian.

baca juga: Dimensi Puisi dan Tahun Politik

Memang tidak semua tulisan yang dipaparkan buku ini bisa merangkul seluruh peristiwa yang terjadi pada saat itu. Pun demikian, peristiwa-peristiwa yang dimunculkan juga tidak memiliki keterkaitan satu sama lain. Tapi tiap peristiwa diceritakan dengan bahasa yang lugas dan tidak bertele-tele, serta renyah bagi orang yang masih awam dengan buku sekalipun.

Terakhir, mengutip kalimat dari Linda Christanty pada kata pengantar di buku ini bahwa, negeri ini tidak hanya dibangun oleh pengorbanan para pahlawan, dan diantara yang gugur itu adalah para kakek, nenek, ayah, ibu, kekasih, dan sahabat kita. Artinya masih banyak peristiwa yang belum ditemukan dan diwartakan pada semua umat manusia. Dan itu menjadi bagian dari tugas kita. Caranya? Membaca, membaca, membaca, kemudian menulis.

  •  

Judul : Para Raja Dan Revolusi; Esai-Esai Tentang Dewi Ibu Dan Geng Motor Hingga Persekutuan Orang Tionghoa Dan Globalisasi

Penulis : Linda Christanty

Penerbit: IRCiSoD

Tebal : 212 halaman

  •  

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: