Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Peristiwa yang Terekam, Sejarah yang Tak Pernah Mati

Oleh: Harmantyo P. Utomo         Diposkan: 08 Nov 2018 Dibaca: 971 kali


/1/

Pasca dihelatnya Pengadilan Rakyat Internasional 1965 di Den Haag, Belanda, terdapat dua buku yang terbit sebagai usaha merekam setiap gagasan dan peristiwa yang terjadi. Selain juga untuk mengenalkan usaha-usaha pengungkapan fakta terkait kasus kejahatan 1965. Buku pertama adalah Laporan Akhir Pengadilan Rakyat Internasional 1965. Sedangkan buku kedua adalah Dari Beranda Tribunal; Bunga Rampai Kisah Relawan. Jika buku pertama menghadirkan data, maka buku kedua merekam kesan para relawan, dengan kata lain, merekam sebuah peristiwa.

Data yang dihadirkan dalam buku pertama tentulah menjadi gagasan utama dari persidangan yang hendak digaungkan pada publik Indonesia dan global melalui dua siasat. Siasat pertama adalah menghadirkan buku dengan format dua bahasa pada terbitan pertama tahun 2017, yaitu bahasa Indonesia dan Inggris. Siasat kedua adalah penggunaan format laporan akhir yang tentu memberikan konsekuensi pada bentuk penulisan yang cenderung ringkas, padat, formal, dan ‘dingin’.

Hampir tidak mungkin memisahkan data dengan peristiwa yang mengiringi jalannya persidangan. Data yang ‘dingin’ tak mungkin hadir dengan tajam dan detail tanpa peristiwa yang lahir dari sengkarut perasaan dan pengalaman yang menubuh dari setiap relawan. Tidak lain karena tubuh adalah sebuah arsip yang terus bergerak untuk merekam dan formasi subjek tentu hadir sebagai prasyarat yang betugas sebagai pemantik. Oleh karena itu, peristiwa subjektif merupakan salah satu tumpuan bagi signifikansi pengungkapan sejarah. Tepat pada penghadiran peristiwa subjektif tersebutlah buku kedua mendapatkan relevansinya.

baca juga: Puisi dalam Pandangan Remaja Masa Kini

/2/

Performativitas menjadi satu di antara ragam pijakan yang meresap dalam dua puluh sembilan tulisan yang dihadirkan dalam Dari Beranda Tribunal; Bunga Rampai Kisah Relawan. Kehadiran performativitas yang direpresentasikan melalui teks memungkinkan setiap pembaca untuk menghadirkan interpretasi subjektif terhadap kesan persidangan. Bahwa jarak antara realitas peristiwa persidangan dengan pembaca tetaplah terjadi, tetapi interpretasi memungkinkan untuk memangkas dan mendekatkan keduanya. Selain juga melalui interpretasi visual terhadap siaran secara langsung di kanal khusus yang dihadirkan pada saat berlangsungnya persidangan.

Performativitas didasarkan pada logika kompleksitas arena yang menjadi tempat berlangsungnya Pengadilan Rakyat Internasional 1965, yaitu Nieuwe Kerk. Sebuah bangunan bekas gereja Protestan di Den Haag rancangan Pieter Noowits dan Bartholomeus van Bassen yang memiliki elemen arsitektural Renaisans dan Klasik khas Eropa. Logika kompleksitas tidak dimaksudkan untuk mengarahkan kembali pada kemurnian simbolisasi peran dominan agama sebagai tolok ukur peristiwa. Namun, lebih pada pergulatan yang terjadi antara realitas peristiwa, struktur hukum, subjektivitas, dan perenungan.

Peristiwa dihadirkan dengan mendudukan tubuh sebagai pusat dari performativitas. Tubuh, yang dalam konteks persidangan adalah otoritas subjektif relawan, tidak lagi dipandang sebagai “kedagingan” yang semata terdiri atas sekumpulan faktor biologis. Namun, diletakkan sebagai medan arus informasi yang menyimpan ingatan tentang rasa sakit, kehilangan, kesedihan, permenungan, dengan kata lain, menyimpan medan sejarahnya yang personal. Tepat pada tegangan di antara yang personal dan yang politis, di antara yang privat dan yang publik, serentetan performativitas hadir secara interpersonal untuk mengungkapkan pada publik tentang keberpihakan dan narasi yang aktual.

baca juga: Dua Skenario Masa Depan dan Sains yang Tidak Sendirian

Oleh karena itu, kedekatan yang coba ditawarkan oleh para penulis, yang dalam konteks sebagai relawan, adalah usaha untuk mengajak posisi para pembaca yang semula ‘menonton’ untuk bergeser lebih dekat menjadi ‘mengalami’. Meski tentu, hal tersebut jelas mustahil dialami secara langsung. Namun, setidaknya beragam peristiwa yang dihadirkan selalu  bertujuan untuk mengantarkan pada ‘peristiwa-mengalami’.

Sedari yang paling dramatik dirasakan pada luapan perasaan yang berhamburan ketika seorang korban (Kingkin Rahayu) yang bersaksi terkait kekerasan seksual di balik tirai hitam dalam ruangan 4x6 meter. Respon yang tak terduga hadir dari seorang penerjemah laki-laki yang mendadak terpaku dan tidak menunaikan tugasnya barang sesaat setelah mendengar kesaksian tersebut.

Selanjutnya pengalaman Zak Yacoob sebagai Ketua Majelis Hakim yang hampir tidak lagi menyisakan tenaga sepulang dari persidangan di setiap hari secara beruntun yang tidak lain disebabkan oleh kehadiran pengalaman-pengalaman pilu yang menyesaki Nieuwe Kerk. Juga, momen ketika ia, yang seorang tunanetra semenjak kecil, membacakan keputusan sementara melalui alat Braille. Suaranya tidak saja menggema di setiap sudut ruang yang terlanjur hening, tapi juga melampaui kehadiran di antara rasa lega dan harapan dari sebuah penantian panjang.

baca juga: Ideologi dan Tanda Tanya yang Tak Pernah Cukup

Intervensi dari pihak di luar panitia penyelenggarapun turut terjadi tatkala dua orang “wartawan Youtube” memaksa untuk mewawancarai Kingkin Rahayu pasca disebarluaskannya siaran pers. Berbekal usaha meyakinkan tim media melalui akreditasi yang senyatanya tak lebih dari website seksual murahan bagi pemula. Kedua wartawan harus diusir secara keras karena jelas bahwa tidak semua saksi dapat diwawancara semudah dan semurahan itu, hingga yang tersisa hanyalah umpatan-umpatan di luar gerbang Nieuwe Kerk. Setelahnya, kita mendapati lintasan ingatan yang berlarian di antara kewajiban menunaikan tugas, rekayasa imajiner yang pahit, dan pengalaman personal lainnya di tengah isak dan keterkejutan.

/3/

Dari Beranda Tribunal; Bunga Rampai Kisah Relawan mengantarkan kita pada orkestrasi Nieuwe Kerk sebagai arena bagi performativitas warga negara yang bergulat demi lesapnya ‘seragam’ dan bias-bias Orde Baru dari sejarah. Sebuah performativitas yang dilahirkan dari rahim negara yang dindingnya dipahat dari ketidakpercayaan dan kebencian. Selain juga, teks yang mengantarkan saya pada peristiwa ‘mengalami’ performativitas Oppresed Theatre dari Augusto Boal dengan dua ketuk pilu dan duka ketika mencoba untuk menelaah teks demi teks, peristiwa demi peristiwa di antara tragedi dan harapan.

  •  

Judul: Dari Beranda Tribunal; Bunga Rampai Kisah Relawan

Penerbit: Ultimus

Tebal: xvii+214 halaman



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: